
sore hari kemudian.
Rio dan Bianca sudah berada dirumah.
Nampaknya hari ini mereka sangat akur. Sejak kejadian Di kantor itu, rasanya Tak ada yang Bisa dijadikan Bahan Untuk bertengkar oleh keduanya.
"Bii" panggil Rio yang sekarang sedang duduk santai di balkon lantai 2, tepatnya Di dekat Kamar Mereka berdua.
Bianca yang sedang berada di Kamar, langsung berjalan menghampiri Rio.
"hmm?" ucap bianca menanggapi Panggilan Rio.
"Temenin gw kek disini, jangan Di kamar aja" ucap Rio.
Bianca tak mau banyak bicara, ia Pun berdiri menemani Rio.
"duduk kek, ada yang mau gw omongin" ucap Rio.
"gak ada kursi" ucap Bianca.
Rio menarik Tangan Bianca dan mendudukan Bianca di pahanya.
"eh Lo apa apaan sih!!" ucap Bianca kaget.
"gak ada kursi kan? yaudah duduk sini aja" ucap Rio.
"gak, ntar Lo macem macem lagi!!" ucap Bianca yang berdiri ingin pergi, tapi Rio kembali menariknya duduk di pangkuannya.
"gw gak bakal macem macem kali, tenang aja!" ucap Rio.
Bianca diam tak menanggapi Rio.
"terus, Lo mau ngomong apa?" tanya Bianca.
"oh iya .."
"Jadi gini, di perusahaan Kan Belum ada Direktur, gimana kalo Lo jadi direkturnya" ucap Rio yang berhasil Membuat Bianca kaget.
"h-hah? gila Lo?! gak ah gw gak mau" ucap Bianca menolak.
"kenapa sih?! lagi pula Lo berhak dapet jabatan itu!!" ucap Rio.
"gak, gw gak mau.. gw males ngerjain dokumen dokumen banyak kaya tadi.. Gw liat Lo kerja aja udah mau pingsan" ucap Bianca.
" Lo kan bakal dapet Sekertaris" ucap Rio.
"Gak deh.. lagi pula gw Gak pinter pinter amat soal begituan" ucap Bianca.
"dih, Bukannya Lo yang sering goallin Kerja sama kita sama klien klien" ucap Rio.
"ya pokoknya gw gak mau riooo!' ucap Bianca.
"Lo itu Walaupun diem aja, duit Lo bakal ngalir tau gak" ucap Rio.
"gw gak mau.. kalo gw mau uang Tinggal Minta aja sama Lo" ucap Bianca.
Rio menatap Bianca.
"Lo yakin mau minta uang ke gw?" tanya Rio.
"iya lah" ucap Bianca.
"Lo udah nganggep Gw suami?" ucap Rio.
"iya- maksudnya iya karena kita emang suami istri, gimana sih Lo" ucap Bianca Mengeles.
Rio tersenyum.
Ia memeluk Pinggang Bianca dari belakang dan menyimpan Dagunya di bahu Bianca.
Bianca hanya diam gugup.
"l-lo ngapain sih Rio.. lepasinn!!" ucap Bianca berusaha melepas pelukan Rio pada pinggang nya.
"Ish diem!! Lo gerak dikit, Gw macem macemin Lo!!" ucap Rio.
"Jangan macem macem ya Lo?!" ucap Bianca.
"Lo nya jangan berontak!! Ini posisi kita udah pas, klo Lo berontak dikit, gw Macem macemin Lo sampe Lo hamil" ucap Rio.
"Lo udh janji gak bakal Ngapa ngapain gw sebelum gw siap, Jadi Lo gak Usah belaga Ngancem gw!!" ucap Bianca santai.
Rio menatap Bianca dengan tatapan Mencekam.
"Gw Bisa Lo bikin Lo Hamil besok" ucap Rio menatap Bianca dengan tatapannya yang sangat sangat mencekam.
"Janji harus ditepati Rio" ucap Bianca.
Rio yang kesal dengan Bianca yang terus menerus menjawab, langsung membalikkan posisi Bianca menjadi berhadapan dengannya.
"silahkan ceramah lagi, Gw mau denger" ucap Rio sambil membuka satu persatu kancing Kemeja santai nya itu.
"l-lo mau ngapain Rio?!" ucap Bianca menatap Gerak gerik Tangan Rio yang sedang membuka kancing nya itu.
"Ayo ceramah lagii" ucap Rio yang kini Perut dan dadanya terlihat karena Ia sudah membuka Kancing kemejanya.
Bianca ingin Turun dari pangkuan Rio, tetapi dengan cepat Rio menahan pinggangnya, membuat Bianca tak bisa Bergerak.
"ayo ceramah lagi sayang" ucap Rio membuat Bulu kuduk Bianca berdiri.
"Rio, Lepasin gw kek.. Klo ada yang liat gimana?!" ucap Bianca.
"siapa emangnya yang bakal Liat?!" ucap Rio.
"g-gak tau.. Ya pokoknya lepasin gw ajaa" ucap Bianca.
Bukannya melepaskan Bianca, Rio malah semakin mempererat pelukannya pada Pinggang Bianca.
"gini?" ucap Rio.
"rioo, lepasinn!" ucap Bianca kesal.
"diem bisa gak sih?!" ucap Rio menyentak.
Bianca terdiam karena tersentak.
Bianca kini hanya pasrah dengan perlakuan Rio selanjutnya.
Tak lama, Rio pun melepas pelukannya.
Bianca bingung.
"l-lo gak apa apain gw?" tanya Bianca heran.
"gak lah!! emng nya Lo mau?" Ucap Rio.
Bianca menggeleng cepat.
"e-engga!" ucap Bianca.
Rio menggandeng Bianca ke kamar.
.
.
.
malam hari.
mereka sedang asik dengan kegiatannya masing masing.
Rio sedang menonton tv yang tersedia dikamar itu, sedangkan Bianca sedang asik menonton Drakor kesukaannya di laptopnya.
"Bii, jangan berisik kek!" ucap Rio Menoleh pada Bianca yang sedari tadi mengoceh.
Bianca tak menjawabnya dan Masih berfokus pada Laptopnya.
Rio membiarkannya karena Bianca sudah diam.
Tapi tak lama setelah itu, Bianca kembali Mengoceh dan berisik, membuat Telinga Rio hampir pecah.
"BII!" sentak Rio.
Bianca terdiam karena tersentak.
Dia seperti ketakutan Setelah mendengar sentakan Rio Tadi.
Dia menunduk dan mematikan Laptopnya.
Lalu Ia berjalan Menuju kasur, Ia merebahkan dirinya dan menyembunyikan Dirinya dalam Selimut.
Rio yang melihat itu menjadi Merasa bersalah.
Ia tau kalo Bianca tak pernah di Bentak oleh siapapun.
Bianca adalah anak kesayangan keluarganya, selalu dijaga Oleh keluarganya, Dan selalu dibuat bahagia oleh keluarganya.
Rio menghampiri Bianca dan Duduk di kasur, samping Bianca.
"bii" panggil Rio.
Bianca tak menjawabnya.
"bianca" panggil Rio lagi.
Bianca masih tetap tak bersuara.
Rio merebahkan dirinya dan menghadap Pada Bianca yang membelakangi dirinya.
Ia memeluk Bianca dari Belakang.
"bii, maafin gw" ucap Rio merasa bersalah.
Lagi lagi Bianca masih tak bersuara.
"biancaa.. Maafin gw yaa" bujuk Rio.
Bianca masih tak mau bersuara.
Rio menghembuskan nafas Lembut sabar.
"Biancaa" panggil Rio dengan nada seperti anak kecil mengajak Temannya bermain.
"Bii, maafin gw yaa" bujuk Rio lagi.
Masih tak ada jawaban.
"sayangg"
"Bby"
"Bianca sayangg"
Rio mengabsen Nama nama panggilan sayangnya pada Bianca.
Bianca menendang Kaki Rio.
"jijik" ucap Bianca.
"Maafin ya sayangg" ucap Rio.
"jijik rioo!!" ucap Bianca muak.
"dimaafin kan?" tanya Rio.
Bianca tak menjawab.
"maafin Gw sayangg" ucap Rio, lagi lagi membuat Bianca ingin muntah.
"Bisa gak si Lo Ngomong nama gw aja! jijik gw dengernya sumpah!!!" ucap Bianca.
"iya, tapi dimaafin kan?" Tanya Rio.
"iya" ucap Bianca.
"makasih Bianca sayangg" ucap Rio.
Bianca yang mendengar kata kata yang dilontarkan Rio itu, langsung membuka Selimutnya dan membalikkan badannya.
Ia langsung menonjok Perut sixpack Rio.
Rio hanya tertawa, karena pukulan Bianca tak terasa sama sekali.
Rio memeluk Pinggang Bianca dan menariknya agar lebih dekat.
Bianca masih Menatap sinis pada Rio.
"Tidur yaa" ucap Rio.
Bianca ingin melepas Pelukan Rio pada pinggangnya, namun ditahan Oleh Rio.
"Mau apa?!" ucap Rio.
"katanya disuruh tidur!!!" ucap Bianca.
"gini aja" ucap Rio.
Bianca hanya pasrah.
Rio mencium kening Bianca.
Rio menutup matanya dan masih memeluk Pinggang Bianca.
Bianca menatap Rio.
Ia seperti Tak percaya dengan sikap Rio sekarang.
Rio jadi hangat dan Sangat sangat membuat nya nyaman.
Bianca Masih bingung kemana perginya Rio yang dulu?! Rio yang biasanya Selalu mengajak ribut, kini menjadi orang yang hangat.
Bianca Yang sedang menatap Rio dengan penuh pertanyaan itu dikagetkan dengan Rio yang tiba tiba membuka matanya.
"ngapain Natap gw Mulu? Udh mulai suka ya?" ucap Rio.
"a-apaan sih Lo, siapa juga yang natap Lo" ucap Bianca membuang muka.
"alah, gak ush banyak ngeles!!" ucap Rio.
"cih, udh lah tidur aja.. jangan bikin Mood gw turun lagi ya?!!" ucap Rio.
Rio tersenyum.
Ia menyembunyikan Wajah Bianca didadanya dan memeluk erat Bianca.
"dah gini aja" ucap Rio yang langsung menutup matanya untuk menidurkan dirinya.
Bianca tersenyum didalam Sana.
Bianca pun ikut memejamkan matanya dan tertidur.
...----------------...
(like, komen, vote yaa.. Biar author makin semangat upnya)