
Bianca dan Rio terbangun pada pukul 5 sore.
"astaga, Kita tidur lama banget.. nanti malem pasti Gak bisa tidur deh" ucap Bianca.
Rio menatap Bianca.
"yaudah sih.. Lo pasti cape kan, dan tadi malem di kantor Lo gak tidur Nyenyak" ucap Rio.
Bianca mengangguk.
Tapi tiba tiba Bianca Menatap Rio seperti ada yang lupa.
"kenapa?" tanya Rio.
"Lo belum makan siang?! astagaa gw lupaaa" ucap Bianca.
Ia ingin berdiri dari Kasur, namun lebih dulu Rio menariknya kembali duduk di kasur.
"udah gak usah, gw gak laper.. nanti aja Makannya pas makan malem" ucap Rio.
"yakin?" tanya Bianca yang menatap wajah Rio pucat.
"iya sayang.. udah disini ajaa" ucap Rio.
"muka Lo pucet Rio" ucap Bianca memegang pipi Rio.
Bianca merasakan Suhu panas pada wajah Rio.
Ia langsung memegang Kening Rio untuk memastikan.
Lalu memegang leher Rio.
Ia juga memegang tangan Rio, dan Suhu nya benar benar panas.
"Lo demam?!" ucap Bianca.
"engga" ucap Rio.
Bianca kembali memegang kening Rio dan wajah nya terlihat khawatir.
Bianca menuntun Rio untuk merebahkan dirinya.
"tunggu ya" ucap Bianca.
Bianca berlari keluar kamar.
ia kembali tak lama sambil membawa baskom Dan handuk kecil.
Bianca duduk di Samping Rio yang terbaring itu.
Bianca cepat cepat Mengompres Rio dengan handuk kecil yang telah ia basah kan dengan Air hangat terlebih dahulu.
Rio menggengam Tangan Bianca yang sedang khawatir itu.
"gak usah Khawatir kaya gitu dong, gw gak papa kok" ucap Rio.
"gimana gw gak khawatir, ini pasti karena gw lupa Masak buat Lo makan, makannya Lo demam gini.. maafin gw yaa" ucap Bianca.
"gw gak bakal maafin, karena ini bukan salah lo.. udah deh gak usah nyalahin diri sendiri!" ucap Rio.
Bianca cemberut merasa bersalah.
"terserah Lo mau bilang apa, gw minta maaf dan Lo gak boleh nolak Permintaan maaf gw!! untuk masalah dimaafin atau engga nya, itu urusan Lo" ucap Bianca.
"tapi gw sakit bukan karena lo" ucap Rio.
Bianca hanya mengangguk.
"Lo gak makan siang itu karena gw" ucap Bianca.
"bukan-" ucap Rio terpotong.
"coba aja kalo tadi gw gak tidur dan masak buat makan, pasti Lo gak sakit" ucap Bianca.
"gw sakit bukan karena itu" ucap Rio.
Bianca menatap heran.
"terus apa?" tanya Bianca.
"mungkin karena tadi malem gw tidur gak pake baju" ucap Rio.
Bianca baru mengingat itu.
"oh iya jugaa.. terus Lo gak makan juga, jadi demam" ucap Bianca.
"kaya nya iya.. tapi Lo jangan nyalahin diri Lo lagi ya?! ini bukan sepenuhnya salah Lo!!" ucap Rio.
"iya, tapi tetep ada salah gw nya" ucap Bianca.
"tapi Lo gak perlu nyalahin Diri Lo!! gw gak suka Lo nyalahin diri Lo kaya gitu.. kan lagi pula Lo juga cape dan butuh istirahat! Lo itu juga manusia yang butuh istirahat!! jadi bukan salah Lo!!" tegas Rio.
Bianca tersenyum.
ia mengelus kepala Rio.
" iya iya Rio sayang" ucap Bianca.
"nah gitu! gw gak mau ya denger kata kata nyalahin diri Lo sendiri lagi, oke?!" ucap Rio.
Bianca mengangguk sambil tersenyum.
..
pada malam hari.
Bianca meninggalkan Rio untuk memasak makanan ke dapur.
Bianca memasak tak terlalu lama.
Setelah itu ia langsung buru buru ke kamar membawa Masakannya.
Ia melihat Rio yang duduk di kasur itu sedang memainkan Handphone nya.
Ia menghampiri nya, lalu merebut handphone Rio yang sedang dimainkan.
"Lo lagi sakit, gak boleh kebanyakan Main handphone" ucap Bianca.
Rio menghela nafas.
"cuman chatan sama temen sayang" ucap Rio.
"ga boleh ga boleh.. sekarang mendingan Lo makan, gw udah masakin makanan buat Lo" ucap Bianca.
Bianca duduk disamping Rio dan menyendok Makanan Masakannya.
lalu ia menyuapi Rio.
"boleh sambil main handphone kan?" ucap Rio dengan nada seperti anak kecil.
"Gak!" ucap Bianca.
Bianca merasa kasian, namun Ia tak mau Rio tambah sakit karena Bermain handphone.
Bianca mengelus Kepala Rio.
ia pun kembali Menyuapinya.
setelah selesai makan, Bianca pergi ke bawah Untuk menaruh bekas piring makanan.
Rio diam diam berusaha mengambil handphone nya yang Bianca simpan di Laci meja samping Kasur.
Akhirnya ia mendapatkannya.
Rio membuka handphone nya dan kembali ber- chatan dengan temannya itu.
Lalu tak lama setelah itu, Bianca masuk dan memergok Rio sedang memainkan Handphone nya.
Bianca menghela nafasnya.
ia pelan pelan berjalan Menghampiri Rio dan duduk di sampingnya.
ia kembali menghela nafasnya.
"gw gak bakal larang Lo kalo Lo gak sakit.. maafin gw ya, tapi gw cuman khawatir Lo makin sakit karena mainin Handphone" ucap Bianca.
Rio tersenyum.
"iya gapapa, gw tau" ucap Rio mengembalikan handphone nya ke laci.
"maafin gw gak nurut sama Lo" ucap Rio.
Bianca mengangguk
Rio memegang Tangan Bianca.
"makasih udah ngerawat gw" ucap Rio.
"itu udah kewajiban gw sebagai istri buat Ngerawat suami gw kalo sakit" ucap Bianca.
Rio tersenyum.
"Lo udah ngantuk?" tanya Rio.
"belum" ucap Bianca.
"kalo gitu sekarang Lo harus Nepatin janji Lo tadi pagi" ucap Rio.
Bianca menatap bingung.
"apa?" tanya Bianca.
"janji Lo mau nurutin permintaan gw" ucap Rio.
Bianca langsung mengingat itu.
ia menatap Rio.
"yakin? Lo lagi sakit" ucap Bianca.
"mungkin setelah itu gw bisa Sembuh" ucap Rio.
"cih, mana bisa kaya gitu" ucap Bianca.
"Lo itu obat dari segala penyakit gw.. percaya sama gw, besok gw udah Sehat lagi" ucap Rio.
"beneran?" tanya Bianca ragu.
"iya, Lo gak percaya?!" ucap Rio.
"yaudah" ucap Bianca.
Rio tersenyum.
Ia memegang tekuk leher Bianca, lalu mendekatkan wajah nya pada wajah Bianca.
lalu menempelkan Bibirnya di Bibir Bianca.
Ia tak langsung mel*mat nya seperti Biasa.
ia hanya menempelkannya saja.
Bianca yang tadi memejamkan mata, menjadi heran karena Rio hanya menempelkannya.
Bianca Melepas ci*man nya dan menatap Heran Rio.
"kenapa?" tanya Bianca.
"g-gw pusing" ucap Rio meremas baju lengan Bianca.
Bianca menjadi panik dan khawatir.
"yaudah tidur aja ya?!" ucap Bianca.
Ia Merebahkan Tubuh Rio dan langsung mencek suhu Tubuh Rio.
Suhu tubuh Rio menjadi makin panas.
"astaga, makin panas" ucap Bianca.
Ia buru buru kembali mengambil kompresan yang tadi ia simpan di kamar mandi, lalu kembali membawa nya dan langsung mengompres Rio.
Bianca sangat panik dengan keadaan Rio yang seperti ini.
Ia sangat takut Rio kenapa Napa.
Bianca menggengam Erat tangan Rio.
"Rio, gw panggil dokter ya?!" ucap Bianca semakin khawatir karena Rio tak menjawab Apapun.
dengan cepat Bianca mengambil ponsel nya dan menekan nomor Salah satu dokter yang ia Kenal.
Tak lama setelah di telfon, Dokter itu datang.
Bianca cepat cepat menyuruh dokter itu memeriksa Rio.
dokter pun langsung memeriksa Rio.
Setelah diperiksa, Dokter memberi Resep obat yang harus Bianca beli.
Dokter hanya memberi itu dan langsung pamit pulang.
"Gw harus Beli obat ini? terus gimana Sama Rio disini?!" ucap Bianca.
Bianca duduk di samping Rio dengan perasaan khawatir juga ia berfikir cara membeli obat itu.
ia menghela nafasnya dan mulai mencari cara membeli obat untuk Rio.
...----------------...