
"Rio ayoo, nanti kita ketinggalan pesawat" teriak Bianca dari ruang utama.
Bianca yang sudah Siap dengan dua koper yang berada disamping nya itu sedang menunggu Rio turun dari kamar nya.
ia baru saja mengambil ponselnya yang tadi hampir tertinggal.
Menunggu beberapa menit hingga akhirnya Rio berlari turun menghampiri Bianca.
Ia langsung membawa kedua koper yang ada di Samping Bianca dan keluar villa.
Bianca membuntut di belakang Rio.
di depan Villa mereka sudah ada Pengurus villa itu. Bianca dan Rio berpamitan dengan mereka dan langsung pergi menuju Tempat di parkirkannya mobil sewaan mereka.
Rio memasukan kedua koper itu ke tempat duduk bagian tengah di mobil itu, sedangkan Bianca langsung masuk ke dalam mobil bagian depan di samping tempat duduk mengemudi.
setelah memasukan koper, Rio langsung masuk ke dalam tempat duduk mengemudi.
"jam berapa sekarang?" tanya Rio.
"jam sembilan" ucap Bianca.
Rio mengangguk.
ia langsung menancap gas menuju tempat sewaan mobil itu.
..
Kini kedua insan itu sedang duduk di salah satu tempat duduk di bandara.
jam menunjukan pukul setengah Sebelas.
sedangkan mereka sampai di bandara pada pukul sepuluh lebih lima belas menggunakan taksi online.
"pesawat kita take off jam berapa bii?" tanya Rio.
"jam dua belas" jawab Bianca.
Rio mengangguk.
"masih ada satu setengah jam lagi. mau ngapain disini?" tanya Rio.
"ngapain gimana? ya tunggu aja" ucap Bianca.
Rio terdiam sebelum akhirnya membuka pembicaraan kembali.
"oh iya, soal cewe waktu itu.. gw belum cari jadwal lain buat pertemuan dia sama Reygan. tapi-" ucapan Rio di potong oleh Bianca.
"ga usah di lanjutin soal pertemuan mereka. udah gw bilang gw ga mau mereka ketemu lagi. udah cukup Waktu itu Kak Rey menderita. gw ga bisa liat dia menderita lagi" ucap Bianca.
Rio mengangguk mengerti.
"tapi aneh nya Reygan ga hubungin gw atau minta Kabar soal itu" lanjut Rio pada Kalimat nya yang terpotong.
Bianca Membuang mukanya.
"perasaan gw ga enak" ucap Bianca.
"udah ga usah dipikirin. bentar lagi kita pulang kok" ucap Rio sembari menuntun kepala Bianca menyender di bahu nya.
Bianca menghela nafasnya.
..
jam sudah menunjukan pukul dua belas siang.
Rio dan Bianca baru saja masuk ke dalam pesawat mereka dan duduk di bangku mereka.
Rio melihat wajah Bianca yang begitu kusut dengan bibir cemberut andalannya.
"kenapa sih hm?" tanya Rio.
Bianca hanya diam menatap keluar kaca Pesawat.
"gapapa" jawab Bianca setelah beberapa detik diam.
Rio mengangguk, namun ia tau bahwa Bianca sedang tidak baik baik saja.
Terlihat jelas bahwa ia sedang mencemaskan Reygan.
Rio mengambil ponselnya di dalam Saku celananya.
ia memencet nomor kontak bernama ' kaka ipar '.
Seseorang dari sebrang sana mengangkatnya.
[ kenapa? kangen Lo sama gw?! ]
"halo Kaka ipar. ini Ade Lo kangen"
Bianca yang sedari tadi membuang pandangannya dan menatap kosong keluar kaca Pesawat, kini menoleh menatap Rio.
Rio tersenyum Melihat Bianca yang menoleh menatap nya.
Rio memberikan ponselnya pada Bianca dan membiarkan bianca mengobrol dengan Kaka tersayang nya yang sedang ia cemaskan.
"halo kak"
[ halo bii, kenapa? ada masalah? kamu diapain sama Rio? dia macem macem ya?! awas aja kalo dia macem macem ]
"engga kak.. Rio ga ngapa ngapain Bianca, Bianca juga gapapa. Bianca cuman khawatir aja"
"e-engga. bukan apa apa"
"kak"
[ hmm? kenapa bii? ]
"Kaka lagi di mana sekarang?"
[ emm, ini sih lagi di rumah.. mau ke kantor mertua kamu.. kenapa emang nya? ]
"Kaka hari ini kerja?"
[ iya bii ]
"hati hati ya dijalan"
[ iya bii ]
Bianca tersenyum.
ia mengembalikan Ponsel Rio kepala tangannya.
"halo Rey.. Cewe yang mau gw Kenalin ke Lo sibuk terus.. gimana kalo gw kenalin Lo ke Cewe lain?"
[ terserah Lo. gw ikut aja ]
"oh iya.. tapi kayanya Lo cocok sama Sintia"
Reygan yang sedang berada di sebrang sana terdiam.
"halo?"
[ eh gw harus pergi.. udah dulu ya ]
Reygan mematikan sambungan telepon nya sepihak.
"lah, ko di matiin" ucap Rio heran.
"kenapa?" tanya Bianca.
"ga tau tuh, Kaka Lo aneh" ucap Rio.
menunggu beberapa menit hingga akhirnya pesawat yang di tumpangi Bianca dan Rio itu take off.
kedua nya tertidur, karena tadi malam mereka tidur terlalu malam.
..
"huh, akhirnya balik ke kota kesayangan gw" ucap Rio.
Bianca tertawa tipis sembari menggelengkan kepalanya.
"emang ada apa sih di kota kesayangan? ada Tamara? ada Luna?" ucap Bianca tanpa menatap Rio.
Rio menoleh.
"engga lah. Karena kota ini banyak banget Kenangan kita tauu" ucap Rio.
"kenangan kita apa kenangan Lo sama luna.. atau mungkin kenangan Lo sama Tamara?" ucap Bianca.
"ih sayang ga gituu.. lagian di kota ini cuman ada kenangan Lo sama gw " ucap Rio.
"ya terserah lo" ucap Bianca berjalan mendahului Rio.
..
mereka sampai di rumah.
Bianca membawa kedua koper Dan menyimpan nya di samping sofa.
ia duduk beristirahat di sofa yang sudah lama tak ia duduki.
Tak lama setelah itu, Rio masuk.
Rio duduk di samping Bianca.
"jangan cemburu ya bii" ucap Rio tiba tiba.
Bianca menoleh.
"cemburu apaan?" tanya Bianca Bingung.
"soal waktu di bandara" ucap Rio.
"siapa juga yang cemburu.. lagian kan cemburu gw ga ada artinya buat Lo. Lo malah risih gw cemburuin terus kan? yaudah gw ga bakal cemburu lagi" ucap Bianca tak ingin memperpanjang Masalah, namun dengan tak sadar ia malah memperpanjang masalah.
"ko gitu ngomong nya.. gw minta maaf soal omongan gw yang waktu itu.. jangan ngambek lagi" ucap Rio.
"iya engga.. gw ga ngambek" ucap Bianca dengan senyuman yang meyakinkan.. namun Rio tak yakin.
"oh iya, gimana Soal kak Rey? soal pertemuan kak Rey sama cewe itu gimana?" tanya Bianca.
"udah gw batalin " ucap Rio.
Bianca mengangguk.
" gw ke atas duluan ya.. koper biar gw yang beresin" ucap Bianca yang langsung meninggalkan Rio sendiri.
...----------------...