
"Ka, Aku rasa Remmy itu cocok deh sama kakak"
"Maksudnya?" Indira tidak mengerti maksud Indy dan meminum jus yang ada dihadapannya
"Ya dia kan arsitek, sedangkan kakak chef editor. Menurutku kalian klop"
Indira tertawa "Dek, aku tuh chef editor di majalah wanita. Gak ada sangkut pautnya sama arsitek"
"Lagian, kamu kenapa ambisius banget sih?" tanya Indira, Indy mengedikkan bahu "Ya karna kakak pesimis"
"Aku gak pesimis Ndy, cuma realistis aja"
Indy menghela napasnya "Tapi menurut aku kakak tuh pesimis, kakak kan chef editor. Berati kakak punya relasi dong?"
"Lalu?"
"Ya itu kesempatan kakak buat deketin Remmy"
Ian dan Remmy berjalan dari kejauhan mendekati meja yang Indira dan Indy duduki. "Psssssttt.... Jangan ngomongin tentang Remmy" Gumam Indira
"Halo, ketemu lagi. Kayaknya asik banget nih ngobrol, dari jauh kayaknya keliatan seru" ucap Remmy
"Wah, lo gatau Rem mereka kalo lagi ngerumpi berisik banget dirumah"
Indira tertawa "Apaan sih ah, ini si Indy biasa lagi cerita tentang anak kampusnya dia. Kalian udah nih ngobrolnya?"
Remmy mengangguk mantap "Iya kami sudah, sekarang saya pergi duluan ya. Ada urusan lain, soalnya. Nice to meet you Indira dan Indy, Bro gue cabut ya"
"Yakin nih ga mau ikutan ngerumpi bareng?" Tawar Ian, namun Remmy menggeleng "Ga sekarang, atau eyang gue ngamuk. Udah ya, see you soon"
Remmy menenteng bukunya yang tebal itu kembali, saking beratnya buku tersebut giginya menggigit bibir bawahnya sendiri. Arah pandang Indira tidak berhenti memandanginya dari kejauhan.
"Jadi kalian pesan apa aja?" Tanya Ian
"Enggak, cuma pesen milkshake sama onion ring" Jawab Indy dan memakan onion ringnya
"Jam berapa musik live nya mulai? Udah masuk jam 20.00 gak tampil-tampil" Tanya Indira
"Ra..." Panggil Ian, Indira hanya menaikkan satu alisnya "Gue di depan lo, gausah manggil" katanya
"Jadi, gimana tentang Remmy?" Tanya Ian dan menarik kursi yang kosong ditengah-tengah Indira dan Indy
Indy mengangguk "Bener juga sih, apalagi kacamatanya bulat ditambah ada yang nyadar gak sih giginya ga rapih bawahnya tajam. Kayak kanibal"
Indira dan Ian tertawa "Tapi gue denger dari salah satu anak buah gue dikantor, dia arsitek paling ribet tapi hasilnya bagus. Then why not?"
Indira mengangguk "Kamu gimana dek, cerita kuliah kamu. Wah rasanya kita jarang kayak gini ya An"
"Iya, kerjaan kantor banyak soalnya ditambah gue kan direktur manager yang merangkap jadi tukang pengelolaan gedung"
Indy menggeleng "Eh gapapa kali! Santai aja, aku juga ngerti kok"
"Jadi kemarin, kampus aku lagi heboh soalnya ada acara besar. Secara mata orang awam sih ga besar soalnya konser aja, tapi secara mata anak kuliahan kayak aku banyak yang mikir ini acara besar. Nah kampusku itu kan mau mengadakan konser penggalangan dana untuk yayasan anak yatim, banyak aja gitu yang cari muka di depan bu Halima buat dipilih ngurus konser. Sedangkan aku yang langsung dipilih sama bu Halima untuk jadi ketuanya, dari sejak itu aku sebel banget mereka banyak yang cari muka"
Indira mendengarkan dengan seksama "Lalu, kamu bisa kok dek minta tolong kita. Kita siap bantu kamu"
"Jujur, sampe sekarang aku malah bingung ka. Aku belum ketemu sama orang yang pandai buat tata panggung"
Ian meminum jus milik Indira "Kenapa kamu ga minta tolong sama anak design?"
Indira mengangguk "Bener tuh, nah nanti kalo terpaksa nya belum dapet aku bantu cari orang deh. Aku kenal satu orang yang jago banget kalo ngurus panggung"
"Tapi dek, kamu harus buat iklan konser kamu. Ya minimal 3 minggu sebelum konser diadakan, Bu Halima bilang gak berapa orang yang harus didatengin?" Indy mengangguk membenarkan ucapan Ian "Waktu terakhir dia bilang itu sekitar 2000 orang, nah dia bilang tempat konsernya ga harus di area kampus. Kita bisa cari tempat untuk panggungnya, tapi itu atas sepengetahuan bu Halima katanya sih biar gampang kasih tau dosen yang ngajar"
"Itu udah resmi? Kamu udah ke kumpul anggotanya belum?" Tanya Indira
"Belom ka, masalahnya ya itu tadi karna ini konser dan harus diliat 2000 orang. Kebanyakan jadi ajang cari nama, cari muka buat panjat sosial. Sedangkan aku butuh team yang bisa diajak kerjasama, kompromi"
"Temanmu banyak Ndy?" Tanya Ian
"Lumayan" Jawab Indy mantap
"Minta tolong mereka aja, yang buat team langsung kamu. Untuk mereka yang cuma cari nama gitu aja, taro mereka di balik layar. Jangan lupa nametag buat memperjelas mereka siapa dan bagian apa"
Indy mengangguk mengerti yang disampaikan kakaknya. Untuk urusan seperti ini, memang kakak-kakaknya paling bisa untuk diandalkan
❄❄❄❄❄❄❄❄❄❄❄❄❄❄❄❄
Next?
Vote yaa