UNTITLED

UNTITLED
digigit nyamuk



Rio duduk menunggu kedatangan Bianca di sofa.


Namun sudah selama sejam, Bianca tak kunjung datang.


Rio memutuskan untuk Membawa koper mereka ke Kamar.


di depan kamar, Rio melihat Pintu kamar mereka terbuka sedikit.


"sayang" panggil Rio sembari berjalan masuk ke dalam kamar dan kedua tangannya menarik kedua koper milik mereka.


Rio menatap sekeliling kamar, namun Bianca tak ada.


ia menyimpan Kedua koper itu di Samping lemari.


Rio menghampiri kamar mandi karena ia melihat pintu kamar mandi sedikit terbuka.


Ia mengintip, dan menemukan Sosok Bianca disana.


Ia tersenyum.


Rio membuka pintunya dan masuk.


"bii, lagi apa?" ucap Rio sembari menghampiri Bianca.


"gw ga enak badan" ucap Bianca memijat pelipis nya.


Rio yang tadi nya tersenyum, kini menampakan wajah khawatir nya.


ia menempelkan Punggung tangan nya pada dahi Bianca.


Rio bisa merasakan suhu badan Bianca yang hangat.


"astaga.. ayo masuk kamar" ucap Rio memeluk pinggang Bianca membantu nya berjalan masuk ke kamar.


Rio membantu Bianca menidurkan tubuh nya.


Ia duduk di sisi Kasur sembari mengecek ulang suhu Tubuh Bianca di bagian leher.


"ga enak badannya dari kapan?" tanya Rio sembari mengelus kepala Bianca.


"baru tadi. tadi kan gw Mau turun lagi ke bawah, tapi tiba tiba badan gw ga enak, kaya mual gituu" ucap Bianca.


Rio mengangguk mengerti.


"kalo gw tinggal Lo beli obat dulu gimana?" tanya Rio.


Bianca cemberut. ia menggeleng cepat dan menggengam tangan Rio.


"jangan.. disini aja" ucap Bianca.


Rio tersenyum.


"yaudah, gw suruh Tamara aja ya" ucap Rio.


"jangan" ucap Bianca.


"kenapa?" tanya Rio.


"kita terlalu banyak ngerepotin dia.. Dia pasti cape sama pekerjaan pekerjaan Lo yang harus dia kerjain karena Lo pergi sama gw" ucap Bianca.


Rio mengelus kepala Bianca.


"iya, tapi itu kewajiban dia kan sebagai bawahan gw" ucap Rio.


"dia bawahan Lo di Kantor, bukan di luar kantor. lagi pula di luar kantor pun status kalian mantan. emang Pantes mantan pacar Lo, Lo suruh beli obat buat istri Lo?" ucap Bianca.


Rio tersenyum.


"gw ga ngerti. Lo itu lagi nasehatin gw, apa lagi cemburu" ucap Rio.


"cih, ga ya" ucap Bianca.


Rio tertawa kecil.


"yaudah sayang. Gw suruh yang lain aja beli obat nya ya" ucap Rio.


Bianca menggelengkan kepala nya.


"ga usah. gw udah ga papa" ucap Bianca.


Rio menatap heran.


"cepet banget sembuh nya"


"kan Lo obat dari segala penyakit gw" ucap Bianca mengelus leher Rio.


..


tepat pada pukul empat sore.


"Rio Lo gila?!!" ucap Bianca dengan ngos ngosan pada lelaki yang sedang cekikikan di sampingnya.


"gw lagi sakit Loh" ucap Bianca.


"lagian Lo goda gw" ucap Rio sembari menyelimuti tubuh Nya dan tubuh Istri nya yang kini tanpa sehelai pakaian pun.


"gw ga ada goda Lo ya?!" ucap Bianca membuang mukanya.


Rio tersenyum.


ia memeluk tubuh istri nya itu.


"ya udah, berarti gw yang salah nih?" tanya Rio.


"ya iyalah, siapa lagi" ucap Bianca.


"yaudah.."


"maaf ya Bianca" ucap Rio mencium pipi Bianca.


Bianca tak menjawab nya.


"lagian Lo ngapain ngelus leher gw" ucap Rio.


Bianca terdiam sejenak.


"ya gw suka aja" ucap Bianca.


"suka leher nya, apa suka megang nya?" tanya Rio dengan tawa kecil nya.


"ish! udah ga usah di bahas, gw males" ucap Bianca membelakangi tubuh Sang suami.


Rio memeluk Tubuh Bianca dari belakang.


"Tamara bentar lagi kesini" bisik Rio tepat di depan telinga Bianca, dan dengan iseng nya Rio meniup telinga nya membuat Bianca menggeliat.


"kesini?! ngapainn" ucap Bianca.


"dia sendiri yang mau kesini.. mau kasih berkas yang harus gw tanda tanganin katanya" ucap Rio.


Bianca ingin bangun dan memakai pakaian, namun Rio menahannya dan Memeluk erat tubuhnya.


"udah sih nanti aja.. Lo ga mau pamer apa sama mantan gw?!" ucap Rio.


"pamer apa?" tanya Bianca bingung.


"pamer, kalo Lo udah Jadi milik gw seutuhnya" ucap Rio.


Bianca menghela nafasnya.


"ngapain juga pamer, ga ada guna nya.. nanti setelah gw hamil juga Mereka bakal tau kalo gw emang punya Lo seutuh nya" ucap Bianca.


Rio tersenyum.


"terserah Lo deh" ucap Bianca.


Melewati sepuluh menit dengan Posisi yang masih sama.


Tiba tiba seseorang Mengetuk pintu kamar Itu dari luar.


"ya, masuk" ucap Rio.


seseorang masuk, Tamara.


Tamara tercengang saat melihat keadaan kamar itu. Berantakan dengan pakaian pakaian yang bertebaran di mana mana, dan kedua insan yang sedang tiduran berdua dengan di selimuti selimut tebal.


Walau hanya terlihat tangan dan dada Kedua insan itu yang bertelanjang, Tamara bisa mengetahui bahwa di balik selimut itu, mereka memang tak memakai apapun.


Tamara Berjalan menghampiri Kasur samping Rio.


"p-pa, ini berkas yang harus segera bapa tanda tangani" ucap Tamara menyodorkan beberapa berkas.


Rio duduk, dan terlihat lah perut sixpack nya itu.


Pandangan Tamara beralih pada perut menawan Milik Rio itu dan tercengang.


Bianca menyadari tatapan nakal Tamara itu.


Ia mengambil bantal yang tadi Rio tiduri, dan Menyimpannya di pangkuan Rio,


lalu ia memindahkan Kepalanya pada bantal itu dan memeluk pinggang Rio.


Perut menawan Milik Rio itu pun tertutup oleh Bianca.


Rio tersenyum. ia mengelus kepala sang istri.


"Tamara.. kamu boleh keluar dulu. tunggu di bawah, nanti saya tanda tangani berkas berkas itu di sana" ucap Rio.


Tamara mengangguk dan pergi.


Rio menatap Bianca yang masih memeluk pinggangnya.


"Tamara nya udah keluar tuh" ucap Rio.


"terus?" ucap Bianca yang masih setia memeluk nya.


"Lo mau kaya gini terus?" tanya Rio.


"iya" jawab Bianca.


Rio tertawa kecil.


"yaudah.. lanjutin nya habis gw tanda tanganin Berkas berkas yang di bawa Tamara ya" ucap Rio.


Bianca mengangguk.


"tapi gw ikut" ucap Bianca.


Rio tersenyum.


"iya sayang boleh.. sana pake baju dulu"


"Lo juga pake baju.. jangan pamer pamer perut kaya tadi" ucap Bianca.


"gw ga pamer perut.. tapi ya karena gw Posisinya mau duduk, selimutnya jadi jatoh, perut gw ga ketutup jadinya" ucap Rio.


"iya terserah Lo" ucap Bianca.


Bianca bangun dari posisinya lalu berdiri dan berjalan mengambil pakaian nya dan pakaian sang suami di lemari, setelah itu ia kembali dan memberi pakaian milik sang suami.


Rio dan Bianca pun memakai pakaian mereka masing masing.


..


Di bawah, Bianca pergi ke dapur untuk membuatkan Minuman dan Rio menghampiri Tamara Untuk menandatangani berkas berkas yang tadi Tamara bawa.


Bianca menghampiri mereka berdua dan menyimpan gelas Minuman itu di Meja.


Bianca duduk di sofa yang berhadapan dengan sofa yang Tamara dan Rio duduki.


Rio sedang fokus dengan berkas yang sedang ia tanda tangani.


Bianca sedang fokus menatap Tamara yang sedang menatap sang suami lekat.


Ia tak mau meresponnya, hanya ingin melihat.


Tatapan Tamara beralih pada leher Rio.


ia mengusapnya membuat Rio refleks menyingkirkan tangan Tamara dari lehernya.


"itu leher kamu Merah merah.. Digigit nyamuk?" tanya Tamara.


Rio mengelus lehernya dan tersenyum.


ia mengalihkan pandangannya pada Bianca yang juga kebingungan.


"Tuh nyamuknya" ucap Rio menunjuk Pada Bianca dengan gerakan matanya.


Bianca terdiam mematung.


"emangnya Itu gw yang-" ucap Bianca menggantung ucapannya.


Bianca mengingat Kejadian itu.


ia menutup mulutnya.


Tamara menatap Bianca dengan sinis.


melihat tatapan itu, Bianca hanya tersenyum.


Rio memberi semua berkas yang telah ia tanda tangani itu pada Tamara.


tanpa pamit, Tamara langsung pergi dari sana.


Bianca menatap Rio lekat.


"gw inget gw ga ngelakuin apa apa" ucap Bianca.


Rio tertawa.


"emng engga. ini beneran digigit nyamuk tapi gw pengen bikin dia jealous aja sama Lo" ucap Rio.


"dih.. ni anak" ucap Bianca mencubit paha Rio dan Rio hanya tertawa.


"udah ah gw mau nonton Tv. hari ini ada Acara bola" ucap Rio.


Bianca mengangguk.


"gw ke kamar ya" ucap Bianca yang sudah berdiri dan akan meninggalkan Rio. namun Rio menahan nya dan membuat Bianca Kembali duduk.


"katanya mau lanjutin peluk" ucap Rio.


"Gausah deh, berubah pikiran gw" ucap Bianca.


"yaudah" ucap Rio langsung menidurkan kepala nya di paha Bianca.


Rio menyalakan Tv dan menonton acara sepak bola dengan posisi nyaman itu.


...----------------...