UNTITLED

UNTITLED
restaurant rio



tak terasa, hari menunjukan pukul makan siang.


"bii, Lo mau makan apa?.. kita makan dulu sebelum pulang" ucap Rio.


"gw bawa makanan" ucap Bianca.


"ohh, tdi Lo masak?" tanya Rio.


Bianca mengangguk.


Rio duduk disofa samping Bianca.


"yaudah mana, gw mau makan masakan Lo" ucap Rio.


"kayanya makanannya udh gaenak deh, udh lama didiemin.. mending makan diluar aja" ucap Bianca.


"engga, gw mau masakan Lo" ucap Rio.


"oh yaudah, kita pulang dulu nanti gw Masakin makanan buat Lo" ucap Bianca.


"gw mau yang ini aja, mubasir" ucap Rio.


"ntar gw yang makan kok" ucap Bianca.


Rio tak mau lagi melanjutkan perdebatan itu, karena ia tak mau ada perselisihan diantara mereka berdua.


"yaudah sayang, mau makan apa?" tanya Rio lembut.


"emm, apa aja deh.. yang penting Lo bisa makan" ucap Bianca.


"yaudah ayo" ucap Rio.


Rio pun berjalan sambil menggandeng Bianca.


Rio menyelesaikan sewaannya, lalu pergi.


..


Mereka Berhenti disebuah tempat mewah.


Ternyata itu adalah restaurant.


"rioo, Lo yakin mau makan disini? kita pake baju kaya ginian.. Lo ga liat semua orang didalem tuh pada rapi rapi" ucap Bianca.


"udah, gak usah banding bandingin Penampilan Orang sama penampilan kita.. udh kita masuk aja" ucap Rio.


Ia menggandeng Bianca masuk.


Mereka disambut hangat oleh semua pelayan yang bekerja disana.


Rio memilih kursi yang sangat pojok tapi terbilang sangat Elegan dan Mewah.


berada didalam satu ruangan yang beda dari kursi kursi yang lainnya.


ruangan khusus kursi itu.


"selamat Siang pa Rio.. mau pesan apa?" ucap Salah satu pelayan.


"selamat siang.. saya mau Pesan makanan untuk saya dan istri saya" ucap Rio.


"baik pa" ucap pelayan itu yang langsung membungkuk hormat dan pergi.


Bianca merasa aneh.


mengapa Pelayan itu tau nama Rio dan mengapa Rio memilih bangku Khusus seperti ini.


"Rio" panggil Bianca ingin bertanya.


"apa sayang" ucap Rio.


"kok pelayan itu kenal Lo sih? terus kenapa tadi semua pelayan Nyambut Lo? aneh banget" ucap bianca.


"kenapa aneh? emang gak boleh, para pelayan Nyambut Pemilik restaurant" ucap Rio.


Bianca terdiam sampul mencerna apa yang dimaksud Rio.


"tunggu tunggu.. ini restaurant punya Lo?" tanya Bianca.


"iyaa sayang.. gw belum kasih tau ya?" ucap Rio.


"kok Lo baru kasih tau gw sih?! banyak banget rahasia Lo! besok apa lagi? tempat gym? tempat gym juga ternyata Punya Lo?!!" ucap Bianca.


Rio tertawa kecil.


"Lo gak pernah nanya ke gw, yaudah gw gak kasih tau" ucap Rio.


Bianca hanya diam.


tak lama kemudian, makanan yang Rio pesan pun datang.


bianca tercengang Saat melihat semua Makanan itu.


Tak tau nama makanannya, dan tak tau cara memakannya.


Bianca menatap Rio.


Rio mengerti dengan tatapan Bianca.


Rio yang tadinya duduk di depan Bianca, memindahkan tempat duduk nya menjadi di samping Bianca.


ia menunjukan cara memakannya.


"ngerti?" tanya Rio setelah ia menjelaskan semuanya pada Bianca.


Bianca menggeleng.


Rio tertawa Kecil.


ia mengelus kepala Bianca.


"yaudah gw suapin aja ya" ucap Rio.


"kita makan berdua.. udh jangan bantah!" ucap Rio.


Bianca hanya menuruti kata kata Rio.


Rio menyuapi Bianca.


"gimana? enak?" tanya Rio.


"enak, apalagi disuapi sama Lo" ucap Bianca.


Rio tersenyum pada Bianca.


"Lo udh mulai Bisa ngegombal ya" ucap Rio mencubit pipi Bianca.


"engga juga.. gw gak ngegombal" ucap Bianca.


"iya iya sayang, udh makan lagii" ucap Rio.


mereka berdua pun kembali makan.


..


dirumah.


entah apa yang ingin mereka lakukan.


hari ini sepertinya tak ada kegiatan apapun.


Bianca merasa bosan, sedangkan Rio senang jika Bianca tak ada kegiatan.


ia bisa terus memeluk Bianca kapan pun.


Bianca yang sedang menonton, diganggu oleh Rio yang sejak tadi tak mau melepaskan Pelukannya.


"Rio, gw gak bisa nafas, Lo Peluk gw erat bangett!" ucap Bianca.


"Stt diem gak ush banyak omong" ucap Rio yang masih saja Memeluk Bianca, entah apa yang terjadi padanya.


"Lo kenapa sih, biasanya gak kaya gini" ucap Bianca.


"karena gw sayang sama Lo" ucap Rio.


"hari ini kayanya hari terbanyak Lo ngomong sayang ke gw, Lo tuh lagi kenapa sih?" tanya Bianca penasaran.


"gw gak kenapa Napa, gw cuman sayang aja sama Lo" ucap Rio, lagi lagi berkata sayang.


"gw tau Lo lagi ada mau kan?! mau apa?" tanya Bianca yang sudah mengetahui mengapa Rio berbeda.


Rio cengengesan.


"tuhkan ada mau, mau apa?" tanya Bianca.


"mau ciummm" ucap Rio.


"cih, manja" ucap Bianca.


"kalo Lo gak mau nurutin, gak ush nanya" ucap Rio melepas pelukannya pada Bianca.


Bianca menghela nafas.


Ia duduk mendekati Rio yang sedang membuang muka.


"yaudah, mana sini mukanya.. jangan buang muka kaya gitu" ucap Bianca.


Rio tak mendengarkannya dan mendiamkannya.


Bianca Tersenyum melihat Rio yang marah padanya.


ia mendekatkan Wajahnya pada pipi Rio.


rencananya Bianca ingin mencium pipi Rio, tetapi Rio malah menoleh dan membuat Bibir Bianca malah menyentuh bibir Rio.


Rio memegang tekuk leher Bianca dan memperdalam ci*man nya itu, membuat Bianca tak bisa berbuat apa apa.


Rio terus mel*mat nya dengan lembut namun dalam.


Tangan Bianca meremas baju Rio.


ia takut, mereka malah melakukan Yang terlewat batas.


Bianca memejamkan matanya saat Tangan Rio tiba tiba Memegang kancing bajunya, dan berusaha membukanya.


"apa sekarang itu bakal terjadi? " batin Bianca ketakutan dan belum siap.


Bianca menahan tangan Rio saat Rio berhasil membuka 2 kancing bajunya.


Bianca tak menghentikan Ci*man itu, ia meneruskannya, tetapi ia tetap menahan Tangan Rio.


tetapi Rio menghentikannya.


Rio menatap heran pada Bianca.


Bianca mengambil nafas lalu berkata..


"gw cuman bisa kasih Lo itu sekarang.. gw belum siap kasih yang lebih" ucap Bianca menunduk.


Rio mengangguk mengerti.


"iya gapapa" ucap Rio tersenyum.


"makasih udh ngertiin gw" ucap Bianca.


"iya" ucap Rio.


mereka tak melanjutkan obrolan mereka dan sibuk masing masing.


...----------------...