
keesokan hari kemudian.
Hari ini Bianca dan Rio akan Pergi ke kantor.
tak ada satu katapun yang dilontarkan satu sama lain.
Rumah begitu sepi karena Tak ada pertengkaran mereka.
selesai sarapan, Rio dan Bianca langsung pergi menuju kantor.
Seperti biasa, Bianca akan diturunkan Didekat kantor, agar semua karyawan tak curiga.
.
.
.
di kantor.
keadaan dalam Kantor begitu rusuh dan Karyawan karyawan Sangat ribut didalam kantor itu.
Saat Rio dan Bianca masuk, Semua mata karyawan tertuju pada Mereka berdua.
"selamat pagi pak bos dan Bu bos" ucap salah satu karyawan Disana.
Rio dan Bianca kaget dengan sapaan Karyawan itu.
"ada apa ya?" tanya Rio pada satu karyawan yang lain.
"ada Bos besar di ruangan Bapak" Jawab karyawan itu.
Rio dan Bianca saling bertatap Kaget.
mereka langsung berjalan cepat menuju Ruangan Rio.
sesampainya di ruangan rio.
terlihat Adit yang sedang Duduk dengan wajah yang marah.
Rio dan Bianca langsung menghampirinya.
"papah? papah kok kesini?" tanya Rio.
Adit menoleh saat Seseorang bertanya.
Adit menatap Rio dengan tatapan marah.
ia berdiri dan berkata pada Rio..
"kenapa kalian berdua Bohong sama Papah!!" ucap Adit dengan nada marah.
"b-bohong? maksudnya apa pah?" ucap Rio.
"kenapa kamu gak ngenalin Bianca sebagai Istri kamu Rio?! kenapa kamu malah ngenalin Bianca sebagai sekertaris kamu!!!" ucap Adit marah pada Rio.
Rio dan Bianca kaget karena papahnya itu mengetahui semuanya.
Rio dan Bianca hanya diam.
"JAWAB!!!" ucap Adit marah.
Rio dan Bianca tersentak.
Bianca Hanya diam dan ingin menangis, karena ia tak pernah di bentak oleh siapapun.
sedangkan Rio Hanya Diam karena dia Sudah terbiasa dengan sentakan Papahnya itu.
Rio menatap Bianca yang ketakutan dan ingin menangis.
Ia kasihan dengan Bianca yang sangat ketakutan itu.
"pah, maafin Rio.. ini salah Rio.. Rio ngenalin Bianca sebagai sekertaris Rio karena Karyawan disini taunya Tamara adalah Pacar Rio" ucap Rio menunduk.
Adit tak kuasa menahan marahnya.
ia ingin menampar Rio, tetapi tangan Nya ditahan oleh Bianca.
"p-pah, ini bukan salah Rio.. ini salah Bianca karena Mau mau aja di kenalin sebagai Sekertaris.. tampar Bianca aja pah, jangan Rio.. kasian" ucap Bianca menunduk Sambil mengarahkan Tangan Mertuanya pada pipinya.
Adit menurunkan tangannya ketika kalimat Itu dilontarkan oleh Menantunya.
"bii, kamu gak sakit hati di kenalin sebagai sekertaris sama Rio?" tanya Adit dengan nada lembut.
Bianca menggeleng.
"Bianca gapapa pah" jawab Bianca.
Adit mengelus kepala Bianca.
"pah, jangan kasih tau yang lain soal ini yaa.. Bianca sama Rio janji, bakal Ngasih tau kebenaran Soal hubungan kita ke Kantor" ucap Bianca.
Adit mengangguk.
Bianca menatap Rio yang sedari tadi menatap nya dengan penuh Rasa bersalah.
"Rio, maafin gw ya.. karena gw Lo hampir di tampar sama papah" ucap Bianca.
Rio tak menjawabnya dan masih terus menatap Bianca dengan penuh rasa bersalah terus menerus.
Tak disangka, Rio langsung menarik Bianca menuju belakang Kantor yang sangat sepi.
"kita ngapain Kesini?" tanya Bianca.
Rio memegang kedua tangan Bianca.
"maafin gw ya bii.. Maafin gw yang egois ini!! mulai sekarang, gw gak bakal Paksa Lo buat Ngelakuin itu lagi.. gw bakal tunggu Lo siap" ucap Rio.
Bianca menatap Rio.
"seharusnya gw yang minta maaf karena nolak ajakan Lo" ucap Bianca sedikit berteriak.
"Stt!! jangan Keras keras ngomongnya!" ucap Rio.
Bianca menutup rapat mulutnya.
"Lo gak salah bii.. Lo Emng pantes Nolak gw, dan alesan Lo juga Pantes buat nolak gw" ucap Rio.
"gw cuman mau bilang.. Gw udh gak ada rasa sama Tamara.. Gw sayang sama Lo" ucap Rio berbisik.
"gw bakal buktiin itu" lanjut Rio.
Rio menatap Bianca tulus.
Ia memojokkan Bianca pada Dinding.
"l-lo mau ngapain?" ucap Bianca Takut.
"gw cuman mau bayaran atas penolakan Lo kemarin" ucap Rio.
"apa?" tanya Bianca.
Rio menatap Bibir Manis Bianca sebagai jawabannya.
Bianca mengangguk mengiyakan.
Rio tersenyum.
ia mendekatkan Wajahnya pada wajah Bianca.
Mendekatkan Bibirnya.
dan...
cup..
Rio mel*mat Bibir manis Bianca Dengan lembut.
Ia menahan lekuk Leher Bianca.
dan Bianca memegang ujung kemeja Rio karena gugup.
Bianca gugup karena Ini kali pertama Mereka melakukannya di kantor.
Bianca takut Seseorang melihat mereka.
tak lama, Rio melepas Ci*mannya itu.
Rio menatap Bianca dengan senyuman tulusnya.
Rio menggandeng Bianca pergi dari sana.
.
.
.
"jadi gimana? kapan kalian akan Mengaku hubungan kalian pada semua karyawan disini?" tanya Adit.
"sekarang pah" ucap Rio santai.
"bagus, kalo gitu papah bakal Nyuruh mereka buat berkumpul untuk pengumuman penting" ucap Adit yang langsung pergi dari Ruangan Rio.
"Lo yakin mau Ngomong soal ini hari ini?" tanya Bianca.
"iya lah, kapan lagi?! Lo mau keburu orang tua Lo tau soal ini?" ucap Rio.
"ya engga.. yaudah terserah Lo" ucap Bianca mengikuti Apa yang akan dilakukan suaminya.
Rio menggandeng Bianca Keluar.
disana sudah ada banyak karyawan.
semua mata karyawan tertuju pada Tangan Rio dan Bianca yang bergandengan.
"selamat pagi semuanya, hari ini saya akan Memberi tau pengumuman penting tentang saya dan Bianca" ucap Rio.
semua fokus pada pengumuman yang akan di lontarkan oleh Rio.
"Bianca Itu bukan Sekertaris saya, dia istri sah saya" ucap Rio yang berhasil membuat para karyawan kaget dan bertanya tanya soal Hubungan Tamara dan Rio bagaimana selanjutnya.
"saya dan Tamara Memang pernah punya hubungan, tetapi sekarang sudah tidak" ucap Rio.
"saya akan berfokus pada istri saya sekarang" ucap Rio menatap Bianca.
.
.
pengumuman selesai dan Semua karyawan bubar.
Bianca dan Rio langsung pergi ke ruangan Rio.
Adit juga sudah Pulang karena sudah Menyaksikan Kebenaran tentang hubungan Mereka itu, dan ia sudah tenang.
Rio sedang fokus Pada pekerjaannya, dibantu sang istri sekertaris.
tiba tiba Pintu dibuka dengan seseorang. Tamara.
"Rio!! kamu itu apa apaan sih?! maksud kamu apa kita udh gak ada hubungan?! kita itu masih pacaran!!" ucap Tamara.
"mar, aku udh gak mau berurusan lagi sama kamu.. mendingan kamu pergi dari sini" ucap Rio.
"Rio! kamu kenapa tiba tiba gini sih?! ini pasti gara gara istri terpaksa kamu ini kan?!!" ucap Tamara.
"di bukan istri terpaksa!!" ucap Rio kesal.
Tamara yang sudah kesal disana langsung pergi.
Bianca hanya memandangi Rio yang Berbeda itu.
Rio yang menyadari tatapan Bianca berkata..
"Lo kenapa?" tanya Rio berfokus pada Berkas berkas yang sedang ia kerjakan.
"Lo beda" ucap Bianca.
Rio menghembuskan nafas lembut.
"terus Lo mau nya gw kaya gimana? gw marah marah salah, gw baik sama Lo salah, gw ngusir Tamara salah" ucap Rio serba salah.
"terserah Lo" ucap Bianca.
Bianca dan Rio pun kembali Berfokus pada pekerjaannya itu.
...----------------...
(like, komen, vote yaa.. Biar author makin semangat upnya)