UNTITLED

UNTITLED
keadaan buruk



sesampainya di Apartemen, Bianca menyuruh Alza langsung pulang, karena ia tak mau ada fitnah.


Bianca masuk ke dalam apart nya dan langsung menuju kamar mandi.


ia berendam air hangat ingin menjernihkan pikiran nya.


saat sedang tenang, tiba tiba ponsel nya berbunyi.


Ia mengambil ponsel nya dan mengangkat telfon dari kontak bernama "kak Rey".


"halo kak"


[ bii, kamu dimana sekarang? ]


"di rumah"


[ Kaka udah tau semuanya dari Alza. jangan boong ]


"bianca di apart"


[besok Kaka kesana, kasih alamatnya ]


"gak usah kak, Bianca gak kenapa Napa"


[ Kaka mau kesana walau kamu gak mau Kaka kesana ]


Reygan mematikan telefon nya.


Bianca hanya bisa menghela nafasnya.


..


malam hari kemudian, seseorang mengetuk pintu apartemen.


Bianca membukanya, ternyata Alza.


"gw bawain makanan buat Lo" ucap Alza menyodorkan rantang.


Bianca menerimanya.


"makasih" ucap Bianca.


Alza mengangguk sambil tersenyum.


"za" ucap Bianca.


"ya?" jawab Alza.


"Lo cerita sama Kak Rey tentang masalah ini?" tanya Bianca.


alza terdiam.


"gw sebenernya gak mau cerita, tapi tadi kak Rey telfon gw dan maksa gw cerita" ucap Alza.


Bianca menghela nafasnya.


"yaudah gapapa" ucap Bianca.


Alza menatap Bianca dengan penuh rasa bersalah.


Bianca masuk ke dalam apart nya, sedangkan Alza langsung pergi.


ia menyimpan rantang Yang alza beri di meja, sedangkan ia berjalan Ke Balkon apart nya menenangkan diri.


menghirup udara segar membuat nya lebih tenang, namun akan lebih tenang Bila ada Rio di sampingnya.


ia sangat menyesal meminta Rio menceraikan nya, namun ia tidak ingin egois.


Ia ingin Luna bisa bahagia dengan Rio.


Tanpa terasa air mata nya menetes.


Tiba tiba terlintas kenangan nya bersama Rio di dalam benak nya.


kenangan itu semakin jelas dan membekas, membuat Bianca tak bisa menahan air mata nya yang sekarang sudah menjadi deras.


ia sangat ingin memutar balikan waktu saat ia dan Rio di jodohkan.


kalau tau akan seperti ini, ia tidak ingin menerima perjodohan itu dan melukai hati nya sendiri, bahkan hati Rio.


mengingat kenangan indah bersama Rio, membuat Bianca benar benar rindu.


rindu kenangan, rindu pelukan, dan rindu senyuman Rio.


entah apa yang akan terjadi selanjut nya.


lagi lagi, ia harus melewati hari tanpa sosok Rio di sampingnya.


sosok yang selalu membuat nya merasa aman dan tentram.


sosok yang selalu bisa membuat nya tersenyum, tertawa, bahkan kesal sekalipun.


Ia sangat rindu itu.


melihat canda nya yang membuat Bianca Kesal, ia sangat merindukan itu.


melihat tawa nya karena kekonyolan Bianca, ia sangat merindukan itu.


dan melihat aksi modus nya, ia sangat merindukan itu.


Sekarang ia hanya bisa menangis, berusaha melepaskan Rio dari hati nya.


menyingkirkan kenangan kenangan mereka, dan bersiap benar benar tak memiliki hubungan apapun dengan Rio.


sakit, namun ia tak mau keegoisannya itu malah mengambil kebahagiaan Temannya, Luna.


atau mungkin sekarang bisa disebut musuh dalam selimut.



malam sudah semakin larut, namun tangisan Bianca masih berlanjut.


menikmati pedih nya, menikmati tangisannya.


karena hanya itu yang bisa ia lakukan sekarang.


tangisannya itu membuat nya semakin kuat dan tegar, hingga Bianca akan terus menangis sampai kekuatan dan ketegaran nya itu terisi full.


Namun lama lama, Bianca Lelah dengan semua aktifitasnya 5 bulan kebelakang ini.


Karena hanya menangis kegiatannya saat ini.


Bianca masuk ke dalam apart, lalu memutuskan beristirahat di kasur, hingga akhir nya tertidur.


Makanan yang Alza beri tak sempat ia makan.


..


pada pagi hari kemudian.


Bianca terbangun, karena ada Seseorang yang mengetuk pintu apart nya.


ia membuka nya.


"kak Rey?" ucap Bianca.


"Kaka kok udah sampe aja?! sekarang masih jam 7. Kaka dari Bandung jam berapa?" ucap Bianca.


"kita ngobrol di dalem" ucap Reygan.


Bianca mengangguk mengerti lalu mempersilahkan Reygan masuk.


Mereka berdua duduk di sofa.


"Kaka udah ada di Jakarta dari Kemarin, tapi Kaka gak mau langsung nemuin kamu" ucap Reygan.


"kenapa?" tanya Bianca.


"karena kemarin Kaka harus nemuin Rio dulu" ucap Reygan.


"buat apa?" tanya Bianca.


"buat nanya dan ngelurusin semua nya. tapi sayang nya Kaka gak ketemu sama dia. dia gak ada di rumah nya, di kantor nya juga gak ada.. Kaka udah tanya ke semua karyawan Rio, tapi mereka gak tau soalnya 5 bulan ini Rio gak masuk" ucap Rio


"gak masuk?" ucap Bianca heran.


"kemarin Kaka tanya alesannya ke salah satu karyawan, katanya dia pernah denger kami Rio gak masuk selama 5 bulan itu karena Istri pergi. itu kamu" ucap Reygan.


Bianca menunduk merasa bersalah.


"kak, apa ini jalan terbaik buat Bianca dan Rio?" tanya Bianca.


Reygan menatap Bianca bingung.


"bii, kalian cuman berantem. bentar lagi juga Baikan" ucap Reygan.


Bianca yang tadi nya menunduk menjadi menoleh ke arah Kaka nya.


"Kaka belum di kasih tau sama Alza?" tanya Bianca.


"tentang apa?" tanya Reygan.


"tentang bianca yang nemuin Rio, dan minta dia cerain bianca" ucap Bianca.


Reygan melongo terdiam.


"k-kamu minta cerai?" tanya Reygan.


Bianca mengangguk.


"jangan!! Kaka gak mau Kamu cerai!!" ucap Reygan.


Bianca menghela nafasnya.


"Bianca lupa kalo Kaka sama aja kaya papah. sama aja cuman jadiin Bianca biar Kalian dapet posisi besar di perusahaan Papah Rio" ucap Bianca.


"engga gitu Bii, Kaka gak peduli sama posisi di perusahaan itu. Kaka mau kamu bahagia, dan bahagia kamu itu Rio" ucap Reygan.


"kalo keadaan nya kaya gini, Rio itu cuman luka Buat Bianca" ucap Bianca.


"Dan kalau kamu lepasin Rio, itu luka terbesar di hati kamu, dan bakal ada sampai kapan pun" ucap Reygan.


"kamu masih bisa lurusin semua ini kan?! Kaka yakin Semua nya bakal berlalu dan kamu bakal bahagia sama Rio. semuanya bakal baik baik aja" ucap Reygan.


Bianca menunduk.


"gak bisa. Bianca udah gak bisa lurusin dan beresin semua nya, karena ini emang udah hancur dari awal. tapi Bianca gak tau hancurnya udah separah ini" ucap Bianca.


"Bii!! Bianca yang Kaka kenal gak pernah gampang nyerah Loh! sesusah apapun keadaan nya, Bianca selalu bisa ngendaliin dan beresin itu. Kaka udah kenal Bianca dari kecil. dan sekarang Kaka yakin, kamu juga bisa Ngendaliin dan beresin keadaan ini" ucap Reygan.


"gak bisa kak! mungkin waktu itu bisa, karena itu bukan masalah hati yang udah terlanjur Bianca kasih seluruh nya" ucap Bianca.


"Kaka ngerti, tapi apa Dengan kamu duduk dan terus nangis bisa nyelesain masalah?! kamu gak bisa lari dari masalah bii.. kamu harus nyelesain masalah itu" ucap Reygan.


"Bianca udah urus semua nya. Bianca tinggal duduk dan tunggu surat cerai, dan Bianca Cuman butuh tanda tanganin itu" ucap Bianca.


Reygan menghela nafas.


"apa kamu pikir dengan itu, semua masalahnya bakal Selesai? gak bii! masalah kamu dan masalah Rio mungkin Selesai, tapi masalah Keluarga kita dan keluarga Rio gak mungkin selesai gitu aja!" ucap Reygan.


"Bianca gak tau Bianca harus apa sekarang" ucap Bianca meneteskan air matanya.


Reygan merasa kasihan melihat keadaan Bianca.


ia memeluk nya dan menenangkannya.


Ia tak mau melanjutkan bicara.


...----------------...