
Kini Bianca dan Rio sedang duduk berdua di bangku tunggu.
Reygan Juga duduk di sana, namun Reygan sedang sibuk menelfon Klien nya di tempat lain.
"Lo beneran? soal tadi di sana. ini beneran cewe yang pernah Deket sama Reygan?" tanya Rio.
Bianca mengangguk.
"Lo udh Batalin Pertemuan mereka kan?"
"udah sih, tapi cewe ini kaya pengen banget ketemu Cowo yang mau gw kenalin ke dia, Reygan" ucap Rio.
"Lo ganti kak Rey sama yang lain gimana?" ucap Bianca memberikan ide.
"kayanya Cewe ini maksa mau ketemu karena dia tau kalo itu Reygan. soalnya gw pernah kasih foto Reygan ke dia" ucap Rio.
Bianca menatap Rio dan menghela nafasnya.
"maaf" ucap Rio cemberut.
Reygan datang menghampiri mereka.
"bii, Kaka harus Pergi. ada klien yang mau ketemu"
"oh gitu. oh iya kak. Pertemuan Kaka sama cewe yang mau Rio kenalin tuh kayanya ga jadi deh" ucap Bianca.
Reygan menatap heran.
"loh kenapa?"
"emm.." Bianca menatap Rio mencari alasan.
"karena Lo pasti sibuk kan Rey" ucap Rio memberi alasan.
"kebetulan sih besok gw kosong" ucap Reygan.
Rio dan Bianca saling bertatapan.
"emm, tapi cewe yang mau gw kenalin itu sibuk" ucap Rio mencari alasan lain.
Reygan mengangguk mengerti.
"yaudah, cari jadwal lain aja" ucap Reygan.
"i-iya" ucap Rio dengan ragu karena Reygan ber kata 'cari jadwal lain'.
"yaudah gw pergi dulu ya, udh di tungguin klien" ucap Reygan.
Rio mengangguk.
"bii, Kaka pergi dulu ya. kalo Rio apa apa in kamu, bilang sama Kaka. nanti Kaka jewer" ucap Reygan.
Bianca mengangguk.
"Lo Rio! jagain Ade gw. jangan sampe dia kenapa Napa. kalo sampe kenapa napa, awas aja Lo" ucap Reygan.
"iya iya,bawel amat sih Lo" ucap Rio.
"dah ya, Kaka pergi dulu. kamu hati hati" ucap Reygan pada Bianca sambil mengelus kepala Bianca.
Bianca mengangguk dengan memasang senyum di bibir manisnya.
Reygan berjalan pergi.
"hati hati" teriak Rio.
Reygan mengangguk.
ia pun langsung pergi dari bandara itu untuk menemui klien nya.
Bianca menghela nafasnya membuat Rio menoleh.
Rio duduk mendekat sambil mengelus punggung tangan Bianca.
"kenapa sayang?"
Bianca menatap Rio dengan senyum tipis.
"gw gak nyangka aja Kaka hampir ketemu lagi sama dia. cewe yang buat Kaka Ngedrop sampe masuk rumah sakit"
Rio mengelus Kepala sang istri.
"tenang ya. gw gak bakal biarin Rey ketemu lagi sama Cewe itu"
Bianca tersenyum dan mengangguk.
"makasih ya"
Rio mengangguk dengan senyuman nya yang begitu manis membuat Bianca salah tingkah.
"l-lo kalo bisa ga ush senyum kaya gitu lagi ya" ucap Bianca salah tingkah.
Rio makin melebarkan senyumnya.
"gemes bangett" ucap Rio sembari mencubit pipi Bianca.
Saat itu juga, pengumuman untuk pesawat Rio dan Bianca berbunyi. Rio dan Bianca bersiap, sembari membawa barang barangnya menuju tempat masuknya pesawat. mereka menunjukan boarding pass Nya pada petugas disana, lalu mereka masuk dalam pesawat dan mencari Kursi mereka. mereka duduk setelah menemukan kursi nya.
"take off jam berapa?" tanya Rio yang sedang menyenderkan kepala nya pada Bahu Bianca karena lelah menunggu Pesawat mereka.
"ga lama lagi kok. kenapa?" tanya Bianca sembari mengusap Kepala sang suami.
"gw cape, pengen tidur" ucap Rio.
"yaudah tidur aja. nanti gw bangunin kalo udh sampe" ucap Bianca.
Rio terdiam sejenak.
"tapi nanti Lo Gak ada temen ngobrol"
"ya gapapa. gw bisa main hp. chatan sama cowo" ucap Bianca.
"dih, kok gitu. yaudah gw ga mau tidur" ucap Rio.
Bianca tertawa kecil.
"engga boong. udh tidur aja, gw gak bakal chatan sama cowo kok"
"ga ah, boong" ucap Rio.
"emangnya pernah seorang Bianca boong sama Suaminya" ucap Bianca.
"boong apa emngnya?" tanya Bianca.
"iya boong, katanya Lo ga cinta sama gw, padahal kan Lo yang duluan cinta sama gw" ucap Rio.
"yaudah lupain aja yang lalu" ucap Bianca membuang muka.
"Sayang" panggil Rio membuat Bianca menoleh.
Rio memanyunkan Bibirnya.
"cium dong, biar gw gak ngantuk lagi"
"gak ah, banyak orang" ucap Bianca.
"kan orang juga gak bakal liat sayang" ucap Rio.
"satu detik aja tapi ya" ucap Bianca.
"lima detik" ucap Rio.
"tiga detik deh" ucap Bianca menawar.
"deal!" ucap Rio.
Bianca menatap sekitar.
lalu dengan cepat ia mencium Rio.
1
2
3
Bianca melepasnya.
"udah"
"cepet banget" ucap Rio cemberut.
"jangan cemberut kaya gitu terus" ucap Bianca.
Rio menatap heran.
"kenapa?"
"g-gapapa" ucap Bianca.
"eh, Lo udh pesen penginapan buat kita disana?" tanya Bianca mengalihkan pembicaraan.
"belum"
"yaudah gw aja yang pesen ya" ucap Bianca mengeluarkan Ponselnya.
Rio hanya mengangguk.
"mau penginapan yang mana?"
"ada yang deket pantai, ada juga yang jauh dari pantai, ada penginapan sewa villa. villa nya ada yang besar untuk sekeluarga, ada juga yang buat pasangan" jelas Bianca.
"yang sewa villa buat pasangan aja. kita kan mungkin bakal lama disini, sekitar seminggu. Carinya yang Deket pantai" ucap Rio.
Bianca mengangguk sambil berfokus pada ponselnya, mencari penginapan.
akhirnya Bianca menemukan villa pasangan yang bagus, dekat dengan pantai, memiliki 1 kamar tidur yang berada di lantai dua lengkap dengan kamar mandi di dalam nya. di kamar tidur itu memiliki balkon yang langsung terarah pada keindahan pantai dan laut.
"ini bagus" ucap Bianca menunjukan Nya pada Rio.
Rio mengangguk excited.
"itu bagus banget. udah itu aja"
"tapi harganya.."
"sttt, ga ush pikirin soal harga sayang. Lo punya suami, biar suami Lo yang nanggung" ucap Rio.
"tapi.." ucap Bianca.
"yang ngajak kesini tuh kan gw. udah sih ga usah dipikirin" ucap Rio.
"yaudah" ucap Bianca sedikit ragu.
pengumuman bahwa pesawat akan take off pun berbunyi.
Semua penumpang bersiap siap.
Rio melihat keadaan pesawat itu. Banyak orang yang tegang Saat Pesawat akan take off, ia berfikir semua orang itu baru pertama kali menaiki pesawat.
tunggu...
Rio menoleh ke arah sang istri yang terlihat tenang.
"bii, bukannya Lo baru Pertama kali naik pesawat ya?"
Bianca mengangguk.
"kenapa Lo ga tegang?" Tanya Rio bingung. padahala waktu pertama kalinya Rio menaiki pesawat, ia adalah orang Ter tegang didalam pesawat itu.
"karena ada lo" ucap Bianca.
"emangnya kenapa kalo ada gw?"
"karena setiap Lo ada di samping gw, gw ga pernah ngerasa panik, tegang, atau apapun itu" ucap Bianca.
Rio tersenyum salah tingkah, dan senyum Rio lagi lagi Membuat Bianca pun salah tingkah.
"kecuali kalo Lo senyum kaya gini" ucap Bianca tegang.
Rio semakin menjadi jadi. Senyumannya semakin lebar dan manis, membuat hati Bianca rasanya ingin pecah.
Rio menggengam tangan Bianca dan mencubit pipi nya.
"gemes bangett istri siapa sihh"
Tanpa mereka sadari, pesawat kini sudah berada di atas.
Rio dan Bianca terus bercanda hingga kantuk Rio menjadi hilang, dan Perjalanan tak terasa begitu lama.
...----------------...