
Pagi hari Bianca disambut Senyum manis Sintia yang sudah berada di kamar Yang Bianca tempati.
"pagi kak" sapa Bianca sembari membangunkan posisinya untuk duduk.
"pagi juga bii" ucap Sintia.
"kamu mau makan apa?" tanya Sintia.
"apa aja kak" ucap Bianca.
Sintia tersenyum.
"yaudah Kaka masak dulu ya" ucap Sintia berdiri dan ingin pergi. namun sebelum Sintia melangkahkan kakinya, Bianca kembali membuka suara.
"Bianca bantu ya" ucap Bianca.
"ga usah bii. Lagian Kaka ga bakal bikin yang susah susah. kamu mendingan mandi aja, habis itu Kaka mau ajak kamu ke suatu tempat" ucap Sintia.
Bianca menatap bingung.
"suatu tempat? emangnya kemana?"
"ada deh" ucap Sintia di balas senyuman Bianca.
"yaudah Kaka ke dapur dulu ya" ucap Sintia sembari melangkahkan kakinya keluar kamar.
Bianca menatap kepergian Sintia hingga punggung Sintia tak lagi tampak di pandangannya.
bianca mengalihkan pandangannya pada ponselnya yang tersimpan di Meja kecil samping Kasur.
Ia mengambil ponselnya dan membuka beberapa pesan dari aplikasi chat nya.
ia melihat begitu banyak miscall dan pesan dari kontak bernama ' Rio '.
Bianca menghela nafasnya.
ia membiarkan nya dan Menyimpan ponselnya kembali ke Meja.
lalu ia pergi menuju Kamar mandi untuk mandi karena Kata Sintia barusan, ia akan di bawa Ke suatu tempat.
disisi lain, Rio tak tidur sejak malam karena terus memikirkan Bianca. ia terus memandangi pesan nya yang tak kunjung di balas, Bahkan di baca pun tidak.
Hingga akhirnya baru saja tadi, pesan nya akhirnya di baca oleh Bianca. ia menunggu Pesannya itu di balas Oleh Bianca hingga akhirnya tanda online di bawah nama kontak itu berubah menjadi tanda terakhir dilihat.
Rio menghela nafasnya kasar.
ia melempar Ponselnya Ke Kasur sampingnya yang kosong. tempat dimana Bianca biasa tertidur.
..
Bianca dan Sintia selesai sarapan. Mereka mengobrol sebentar dan akhirnya masing masing menuju kamarnya untuk bersiap siap menuju suatu tempat yang Sintia maksud.
mereka menghabiskan dua puluh menit untuk bersiap siap. setelah akhirnya mereka benar benar siap, Sintia Mengambil kunci mobil nya dan menuju garasi mobil.
Ia mengunci pintu utama dan langsung masuk ke mobil nya. Bianca di persilahkan masuk oleh Sintia.
Gerbang tertutup sendiri saat Sintia telah mengeluarkan mobilnya.
setelah itu mereka langsung pergi ke Tempat tujuan mereka.
..
mereka sampai di suatu tempat. tempat yang sepertinya Bianca Kenal.
"kak, ko kesini?" tanya Bianca.
"ini villa punya keluarga Kaka bii. jadi kalo misalnya Bianca udah butuh banget privasi, kamu bisa pindah kesini kok" ucap Sintia.
"ayo kita masuk" ucap Sintia.
Bianca terlihat tegang dan panik.
"kak. lain kali aja ya kesini nya, kalo Rio pergi-" ucap Bianca keceplosan.
Sintia menatap bingung, lalu beberapa detik kemudian dia tersenyum.
"ohh, suami kamu yang kamu ceritain tadi malem itu?" ucap Sintia.
Bianca sudah bercerita panjang lebar Dengan Sintia soal Rio. entah kenapa, ia begitu percaya bahwa Sintia adalah wanita yang baik dan tulus.
Sintia menepuk Bahu Bianca pelan.
"bii. Kaka tau kamu kesell banget sama dia. Kaka pernah Ada di posisi kamu. Tapi apa ga sebaiknya kamu temuin dia dan ngobrol baik baik sama dia?" Sintia berhenti sejenak Lalu tersenyum, setelah beberapa detik ia melanjutkan Omongannya.
"walau cuman sebentar, setidaknya kamu kasih tau dia kalo kamu Baik baik aja. Kamu Tinggal dirumah Kaka, sama Kaka. dia pasti ngerti dan Sadar kok." ucap Sintia.
Sintia mengelus Kepala Bianca tulus.
"cowo itu emang Harus nyesel dulu buat sadar sama Kelakuannya" ucap Sintia.
Bianca mengangguk pelan. ia sudah mulai tenang dan Ia juga sepertinya tertarik dengan ucapan Sintia barusan. ia tersenyum.
Bianca mengangguk. "Bianca mau".
..
Keadaan begitu kaku. Kini kedua insan Yang sedang duduk di ruangan yang sama, namun Sofa yang berbeda itu sama sama terdiam.
Bianca yang terdiam karena Malas berbicara dengan Rio, dan Rio yang terdiam karena merasa bersalah dengan Bianca.
"bii. maafin gw ya" ucap Rio sambil menunduk tanpa menatap wajah Bianca. kalimat itu Terus terucap dari bibir Rio sejak tadi, hingga Bianca bosan mendengarnya.
"gw cuman mau Bilang sama Lo kalo gw bakal Nginep di Rumah temen kak Rey" ucap Bianca.
"kenapa?" ucap Rio dengan tatapan lesu.
Bianca tak menjawabnya.
Rio menghela nafasnya.
"alamatnya dimana?" tanya Rio.
"gw gak akan kasih alamatnya" ucap Bianca.
"kenapa sih?! gw udh minta maaf Bii.. Lo tuh selalu memperpanjang masalah tau gak!! gw cape sama sikap Lo. Lo juga terlalu cemburuan, gw risih" ucap Rio dengan nada tinggi.
Bianca menatap Rio dengan mata yang berkaca kaca hampir menangis.
"ini yang ga gw suka dari lo. Disini sebenernya siapa sih yang salah? kenapa malah Lo yang marah marah, seakan Lo yang tersakiti!!" ucap Bianca memberhentikan ucapannya untuk menghela nafasnya pelan.
"playing victim" lanjut bianca yang langsung pergi meninggalkan villa itu.
Rio menatap kepergian Bianca.
Wujud manusia cantik yang ia panggil istri itu sudah tak ada di pandangannya.
namun kata kata terakhirnya masih terdengar dan terngiang di kepalanya.
' playing victim '
..
"bii jangan nangis terus dongg. Kaka jadi merasa bersalah karena nyaranin kamu Buat Ketemu dia" ucap Sintia pada Gadis yang Sedang berada di pelukannya itu.
"engga kak. bukan salah Kaka kok" ucap Bianca dengan terisak.
Sintia menghela nafasnya, ia seperti merasakan deja vu pada masa lalunya yang sama seperti Bianca ini.
"semua cowo kayanya emang gitu ya" ucap Bianca.
" sembilan puluh enam persen Cowo kaya gitu. sisanya mungkin Orang tulus yang ga akan pernah mau nyakitin cewe nya" ucap Sintia.
Bianca makin terisak.
"terus kenapa Rio harus termasuk sembilan puluh enam persen itu" ucap Bianca.
"dulu Rio bukan orang yang kaya gitu loh kak. Dia tulus banget sama Bianca. tapi kenapa sekarang dia berubah" ucap Bianca.
Sintia menatap Bianca.
"bii, Denger Kaka. Suami kamu itu mungkin cuman lagi cape sama sesuatu hal yang lain, atau mungkin dia Punya penekanan dari Seseorang yang bikin dia Jadi stress dan malah Kaya gitu ke kamu. Kaka yakin, suami kamu bukan Termasuk Sembilan puluh enam persen itu" ucap Sintia.
Bianca menatap dengan mata sembabnya.
" Kaka kenapa bisa yakin banget. aku yang bahkan udah ngelewatin setiap hari bareng dia aja ga yakin" ucap Bianca.
Sintia tersenyum tipis.
"Kaka kamu itu sebenernya diem diem selalu mantau Rio. dan dia tau kalo Rio itu Orang baik baik. makannya sekarang dia Ngerestuin kamu sama Rio" ucap Sintia.
Bianca diam mematung sembari menatap Sintia.
"mantau?" ucap Bianca sembari menghapus air mata nya.
Sintia menceritakan semuanya.
Reygan adalah Kaka yang bertanggung jawab dan ingin selalu menjaga adik nya. awalnya ia ragu dengan Rio, Karena Ia kenal Rio sebelum Bianca mengenalnya.
Rio itu selalu Berhubungan dengan orang orang yang tak baik. Reygan hanya takut Rio bersikap Kasar atau menyakiti hati Bianca.
Namun, saat tekad Reygan sudah bulat untuk memisahkan mereka, adiknya yang ingin ia lindungi itu malah Jatuh cinta pada Rio. tekad Reygan pun seketika samar. ia tak tau harus Membiarkan adiknya bahagia dengan lelaki Yang ia kira tak baik itu, atau Memisahkan mereka demi kebahagiaan Bianca selamanya.
Ia memutuskan untuk memantau Rio.
Pada akhir pantauan nya, ia sadar bahwa Rio bukan seperti apa yang ia kira. Rio itu orang baik, orang tulus, dan sama sayang nya dengan Bianca.
Reygan bernafas lega saat melihat Bianca yang bahagia hidup dengan Rio.
" mungkin bahagia Selamanya Untuk Bianca itu Rio "
...----------------...