
Rio dan Bianca keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk. yang dililitkan di tubuh mereka.
Bianca mengambilkan Baju Untuk Rio, juga baju untuk dirinya. setelah memberi baju Pada Rio ia berjalan menuju kamar mandi.
"gw ganti di kamar mandi"
Bianca yang belum begitu jauh berjalan, lengannya di tangkap Rio dan Di tariknya.
"disini aja sih, kaya sama orang lain aja" ucap Rio.
"gw mau di kamar mandi" ucap Bianca.
"disini aja! ga nurut sama suami" ucap Rio.
Bianca menghela nafasnya.
"yaudah iya. suami" ucap Bianca.
Bianca memakai pakaiannya dengan Begitu cepat. Rio belum Memakai pakaiannya. ia hanya menatap Sang istri yang terburu buru itu.
"kenapa sih buru buru?" tanya Rio.
"terserah gw" ucap Bianca yang masih berfokus memakai pakaiannya.
Rio tersenyum mendapati jawaban Bianca. menggemaskan, namun sedikit menyebalkan.
setelah selesai memakai baju, ia menatap Rio yang masih duduk santai hanya menggunakan Handuk yang dililitkan di pinggangnya.
"pake bajunya Rioo" ucap Bianca.
"pakein" ucap Rio dengan manja nya membuat Bianca meringis geli.
"manja amat sih Lo" ucap Bianca ingin meninggalkan Rio, namun ia membalikan badan kembali dan menatap Rio. sebelum akhirnya ia Mencubit Pipi Rio membuat Rio kesakitan.
"eee dasar bayi gede" ucap Bianca.
Rio mengelus pipi nya yang merah akibat Bianca. "sakit tau bii"
Bianca menghiraukannya. Ia mengambil pakaian Rio dan mulai memakaikannya.
..
Di meja makan, sudah banyak makanan yang di sajikan Oleh Bianca. semuanya adalah makanan kesukaan Rio.
"gw masak semua ini sendiri" bisik Bianca.
Rio menoleh menatapnya.
"Bahan bahannya dari mana?" tanya Rio.
Bianca tersenyum. "maaf ya sayang, tadi gw ambil uang Lo di dompet Lo terus gw beliin bahan bahannya di Resto villa ini" ucap Bianca cengengesan.
Rio mengangguk. "gapapa. ambil semuanya aja kalo bisa. tapi ko bisa cuman beli bahan bahannya doang di resto itu?" tanya Rio yang heran.
Bianca tersenyum.
"Lo tau gak sih, seberapa Lama Nya istri Lo ini berdebat sama yang punya resto cuman buat beli bahan bahan makanan doang" ucap Bianca.
Rio tertawa. "Lo debat sama yang punya resto? ngapain sayang" ucap Rio.
"ya buat beli bahan makanan. hari ini kan ceritanya gw lagi romantis sama Lo, gimana sih Lo! malah diketawain" ucap Bianca kesal.
"bukan gitu. lagian Lo aneh aneh aja beli bahan makanan di Resto. resto itu tempat buat beli makanan jadi sayang" ucap Rio.
"ya dari pada gw harus pergi cari warung sayur. nanti gw ketemu bule, terus dia ngajak jalan gw gimana" ucap Bianca.
Tawa Rio yang tadinya pecah, kini memudar. "awas aja kalo ada yang berani bawa istri gw pergi" ucap Rio.
mereka tak lagi membahas apapun. Bianca dan Rio kemudian sarapan berdua disana. seperti biasanya.
saat keduanya sibuk makan, Rio membuka suara.
"sayang"
"hmm?"
"nanti malem gw ada acara di hotel Deket sini. gw di undang sama Luky kesana. gw mau ajak Lo, Lo mau kan?" tanya Rio.
Bianca sejenak Terdiam dan berfikir.
"acara apa emangnya?" tanya Bianca.
"katanya sih ulang tahunnya Luky. dia undang semua rekan kerjanya" ucap Rio.
"kalo gw gak ikut, Lo mau tetep kesana?" tanya Bianca.
"engga. ngapain juga, ga rame ga ada lo" ucap Rio.
Bianca tersenyum. "gw ikut" ucap Bianca.
Rio mengangguk. "usahain jangan dandan cantik cantik" ucap Rio.
Bianca menatap heran. "kenapa?"
"Lo ga dandan aja dia lirik, apa lagi Lo dandan cantik. bisa di karungin Lo sama dia" ucap Rio cemberut.
Bianca tertawa. "apaan sih Lo. Dia lirik gw aja ga bakal gw lirik balik. beda klo Lo yang lirik" ucap Bianca.
Rio yang tadinya cemberut langsung memasang senyum di wajahnya. "oh gituu. kalo gitu jangan larang gw buat lirik Lo setiap detik, setiap menit, setiap jam, setiap waktu, dan setiap saat" ucap Rio.
"ya ga gitu juga Rio" ucap Bianca.
..
"beli gaun sayang. buat Nanti malem" ucap Rio.
"dih, ga usah kali. Gw pake baju yang ada aja. nanti kalo gw cantik, dilirik Lucy gimana" ucap Bianca.
Rio terdiam berfikir.
"iya juga ya. ya tapi gw pengen nunjukin ke semua Orang kalo gw punya istri cantik. sayang kan kalo ga di pamerin istri secantik ini" ucap Rio.
Bianca menggelengkan kepalanya pelan. "terserah Lo deh" ucap Bianca berjalan Duluan di depan Rio.
Rio berlari menyusulnya.
Bianca berjalan sambil melihat lihat gaun cantik disana. Tak sengaja Bianca mendapati Gaun cantik dan elegan di antara gaun gaun lainnya. Bianca melihatnya sambil tersenyum. namun saat melihat harganya, senyumannya memudar. ia langsung cepat cepat Menyimpan gaun itu kembali sebelum Rio melihatnya. Jika saja Rio melihatnya, sang suami pasti akan langsung membuang uangnya hanya untuk gaun cantik itu.
"sayang, mana gaun yang Lo mau?" tanya Rio yang tiba tiba saja datang membuat Bianca kaget.
"e-emm belum ada" ucap Bianca.
"yaudah cari. yang paling bagus. jangan liat harga" ucap Rio.
Bianca mengangguk ragu.
Ia kembali berjalan mengitari butik itu sambil melihat lihat gaun gaun yang ada di sana. Sayangnya belum ada gaun yang indah nya mengalahkan Gaun cantik dan elegan tadi. Bianca menghela nafasnya.
ia berjalan menghampiri Rio yang sedang duduk di bangku yang ada di butik itu.
"Rio. ga ada gaun yang gw suka. pulang aja yuk" ucap Bianca.
"loh, kenapa?" tanya Rio.
"ga ada gaun bagus disini. gw ga suka" ucap Bianca berbohong.
"yaudah kita cari butik lain aja ya?" ucap Rio.
Bianca menggelengkan kepalanya.
"ga usah. gw mau pulang" ucap Bianca.
Rio menatap heran, namun ia Tak menolak kemauan sang istri. Rio menggandeng Bianca keluar dari butik itu, dan mereka akhirnya pergi dari butik itu.
Di perjalanan, Bianca hanya terdiam.
Rio bingung, namun ia tak mau menggangu Bianca. sepertinya ada sesuatu yang Bianca sembunyikan.
Rio berhenti di pinggir jalan saat melihat toko ice cream.
Rio keluar dari mobil, dan membukakan pintu bianca. Bianca terlihat bingung. Rio menggandeng sang istri menuju toko ice cream itu.
Toko itu begitu ramai, namun dengan mudahnya, Rio menyalip antrian mereka. Semua orang berprotes sampai akhirnya Rio membuka suara.
"saya pesen 2 ice cream rasa chocolate, dan semua orang yang ada disini biar saya yang bayar" ucap Rio membuat semua orang berhenti berprotes.
Bianca menoleh menatapnya.
"Rio!" ucap Bianca.
Rio tersenyum kepada Sang istri yang ikut ber protes itu.
ia menarik Bianca dan duduk di bangku yang ada disana.
"Rio Lo ngapain sih?!" ucap Bianca.
"ngapain apa?" tanya Rio yang senyumannya masih setia di bibirnya.
"ya Lo ngapain nyalip Antrian orang. terus kenapa bilang bakal traktir mereka?" ucap Bianca.
"emangnya gw gak boleh sedekah sama mereka?" tanya Rio.
Bianca menghela nafasnya.
"engga bukan gitu. gw gak Pernah ngelarang Lo sedekah, tapi Selama mereka mampu, untuk apa? Lo cuman pake alesan itu buat Nyalip antrian orang doang. Lo tuh ga bisa sabaran jadi orang" ucap Bianca.
senyuman Rio memudar.
ia memijat pelipis nya.
Ia menghela nafasnya kasar.
Tangannya melambai Memanggil Pelayan.
saat pelayan datang, ia memberi lima juta cash di tangan.
"saya cancel pesanan saya. pake uang itu sebagai bayaran untuk orang orang itu" ucap Rio yang langsung pergi menarik Bianca.
pelayan itu masih tercengang saat melihat dan menyadari uang Lima juta cash di tangannya. Ia bisa saja membawa kabur uang itu, namun semua mata tertuju padanya.
..
"Lo ngapain sih ngasih uang itu ke Pelayan tadi. buat apa?!" ucap Bianca.
"gw sedekah. Tanpa alesan" ucap Rio tanpa menatap Bianca.
Bianca memijat pelipisnya dan menghela nafas kasar.
"terserah Lo deh, gw cape" ucap Bianca berjalan meninggalkan Rio keluar villa.
Rio menatap kepergian Bianca. tanpa ia sadari, ia juga menghela nafas kasar.
ia juga sebenarnya cape. kadang susah untuk menjadi benar di depan Bianca.
...----------------...