
Bianca berlari Mengejar Rio.
Setelah ia tepat Dibelakang Rio, ia menendang punggung Rio hingga Rio tersungkur.
"Lo apa apaan sih?!" ucap Rio kesal.
"Lo yang apa apaan!! gw ngos-ngosan gara gara Lo, dan Lo malah ninggalin gw!!" ucap Bianca.
"suruh siapa Lo bikin gw marah!" ucap Rio.
"Lo itu mesum! gak ush So soan marah deh!!" ucap Bianca
"gw suami Lo.. hal kaya gitu seharusnya udh biasa buat seseorang yang udh nikah!" ucap Rio.
"alah, tapi Lo emng mesum!" ucap Bianca.
Rio merasa Bianca sudah terlalu berlebihan.
"BIANCA!" sentak Rio.
"kalo gw emng mesum, gw bisa aja Udh bikin Lo Gak perawan.. tpi gw gak Pernah ada niatan Nyentuh Lo sebelum Lo siap! Lo keterlaluan tau gak?!!" ucap Rio berjalan pergi.
Bianca menatap Kepergian Rio itu dengan Wajah bersalah.
"apa gw keterlaluan ya?!" ucap bianca bertanya tanya di dalam hatinya.
.
.
.
.
2 jam Bianca duduk menunggu Rio pulang.
tapi Rio tak kunjung datang, membuat Bianca makin merasa bersalah.
"apa dia marah banget sama gw? gw harus gimana!!" ucap Bianca pada seseorang Yang berada jauh disana melewati telfon genggam nya.
"Bii, Lo tenang aja.. gw bakal Cari Rio dan Tenangin dia" ucap Seseorang yang tersambung dengan Telfon genggam Bianca. dia adalah Luna.
Bianca dan Luna sudah tidak Kaku dengan panggilan 'aku kamu' yang biasa mereka pakai untuk saling memanggil, mereka memanggil 'lo gw' karena luna Menyuruhnya agar hubungan mereka tak kaku.
"Lo tau Dimana Rio sekarang?" tanya Bianca.
"dulu, setiap ada masalah Rio selalu lari ke suatu taman Favorit nya.. gw tau tempatnya, Lo tenang aja ya" ucap Luna Menenangkan sahabatnya itu.
"gw percaya sama Lo.. tapi Lo juga harus jaga diri ya, gw takut Rio Marah ke gw, tpi ngelampiasin nya ke Lo.. klo dia ngapa ngapain Lo, Lo langsung pergi aja dan Bilang ke gw ya" ucap Bianca.
"iya bii, tenang aja" ucap Luna.
Bianca pun memutuskan Sambungan telfonnya itu dengan Luna.
Ia terduduk tenang karena sahabatnya itu bisa membantunya membujuk Rio pulang dan memaafkan Sikap Bianca yang berlebihan.
tetapi Bianca juga masih bingung dimana letak kesalahan Bianca. atau mungkin ia belum mengerti dengan diri Rio.
mungkin saja Rio Adalah orang yang gampang tersinggung.
Bianca terus memandangi Ke Pintu Utama, ia berharap Rio cepat pulang.
ia akan meminta maaf dan Memberikan apapun yang Rio mau agar suaminya itu memaafkannya.
.
.
.
15 menit kemudian.
Trrtt trttt trttt..
Hp Bianca berbunyi.
Bianca langsung menjawabnya, karena itu dari Sahabatnya, Luna.
"halo lun, gimana?" tanya Bianca.
"tadi gw Liat Ario lagi duduk di taman yang gw maksud itu, tpi gak lama setelah itu, gw liat dia pergi.. kayanya dia mau pulang" ucap Luna.
"beneran lun?" tanya Bianca.
"iya.. semoga aja bener pulang" ucap Luna.
"yaudah, makasih ya lun.. Lo sekarang pulang aja" ucap Bianca.
Luna menutup telfonnya dan pulang.
Bianca sangat senang ketika mengetahui Bahwa Rio akan pulang.
Ia duduk menunggu di depan teras.
sudah menunggu hingga hampir 1 jam, namun Bianca tak melihat Tanda tanda kedatangan Rio.
Ia berusaha Menelfon Luna, tetapi tak diangkat oleh Luna.
Ia jadi semakin khawatir.
Bianca tak bisa tenang, karena tak ada yang bisa ia Telfon.
Bianca juga sudah berusaha Menelfon Rio, tetapi nomor nya tak aktif.
ia benar benar sangat khawatir.
Ia mencoba Mengirim pesan, tetapi Tak dibalas bahkan tak dilihat oleh Rio.
"rioo, Lo kemana?!!.. Luna juga! Lo kemana sih?!" ucap Bianca khawatir sekaligus bingung.
"kalian berdua bikin gw khawatir!!!.. kenapa harus ngilang sih?!" ucap Bianca.
Bianca mencoba menenangkan Dirinya dan mencoba menunggu kabar dari keduanya.
.
.
.
.
.
sudah menunggu sampai malam, masih tak ada Kabar dari mereka berdua.
"kalian kemana sih?!!!!" ucap Bianca masih khawatir.
tiba tiba..
Cklek..
Pintu utama terbuka.
Bianca menoleh.
ia menatap Rio Yang datang dengan penampilan Berantakan dan berjalan Seperti mabuk.
Bianca menghampiri Rio.
"Rio!! Lo kemana aja?! terus ini penampilan Lo kok berantakan?" Tanya Bianca heran.
"Hai cantik" ucap Rio mabuk.
Bianca mencium bau alkohol dari mulut Rio.
"Lo mabuk? astaga Rio!" ucap Bianca.
ia langsung memapah Rio yang sudah benar benar mabuk itu ke sofa dan menidurkannya.
Bianca ingin pergi untuk mengambil pakaian Rio, tetapi Rio malah Menariknya hingga terjatuh di atas Rio.
Rio membalikkan posisinya, membuat Bianca di bawahnya.
"Lo udh buat gw marah Bianca!! gw mau nagih perjanjian Kita" ucap Rio mabuk.
"Rio! Lo mabuk! lepasin gw!!" ucap Bianca berusaha melepaskan Dirinya dari Rio.
Rio makin keras mencengkram lengan Bianca dan menahan agar Bianca tak memberontak.
Tanpa basa basi, Rio langsung melahap Bibir manis Bianca.
Bianca merasa ingin muntah ketika mencium bau alkohol dari Mulut Rio.
Rio sangat agresif, ia menggigit gigit bibir Bianca dan membuat bibir Bianca dipenuhi luka.
Bianca ingin berteriak, tetapi Susah untuknya karena Rio sudah membuatnya tak bisa apa apa.
Tak lama kemudian, Rio melepaskan Bianca.
Bianca menatap Dengan tatapan tajam pada rio, lalu ia pergi menuju kamar nya.
.
.
.
di kamar, ia duduk di kasur dengan perasaan marah terhadap Rio.
Ia benar benar menyesal Menerima perjanjian Itu tadi pagi.
Bianca yakin, Rio akan selalu membuatnya marah, hingga membuat Ia mendapatkan Kesempatan tentang perjanjian itu.
Tak lama, Rio masuk ke dalam kamar itu masih dengan keadaan Mabuk.
Tapi Tiba tiba, Rio Terjatuh dan pingsan di lantai.
Bianca menatapnya, tapi ia tak memedulikannya.
Ia hanya mendiamkan Rio yang pingsan itu.
Ia Langsung menarik Selimutnya dan Memejamkan Matanya untuk tidur.
tak lama kemudian, Bianca Terlelap.