
Bianca dan Rio duduk Di sofa bersama Luna.
Rio terlihat sangat manis pada Bianca.
ia terus menenangkan Dan Meyakinkan Bianca, bahwa ia tidak seperti apa yang Bianca Pikirkan.
Bianca merasa sangat bahagia melihat Rio yang sangat ingin meyakinkannya.
Disisi lain, Luna terlihat cemburu dengan sikap manisnya Rio pada Bianca.
Namun bagaimana pun, ia hanya mantan rio.
ia bukan siapa siapa nya lagi.
"sayang, Rio bakal jelasin yang Bianca liat kemarin malem" ucap Rio.
"gak usah, gw percaya sama Lo" ucap Bianca.
"beneran?" tanya Rio.
"apa Lo gak sadar kalo sikap manis Lo selama ini tuh udah yakinin gw kalo Lo bukan apa yang gw pikirin" ucap Bianca.
"emang semanis apa sih gw selama ini?" tanya Rio.
"intinya Lo selalu bikin gw nangis bahagia dan selalu bikin gw merasa beruntung milikin lo" ucap Bianca.
Rio tersenyum.
"apa Lo gak sadar, Lo juga selalu bikin gw berdoa diem diem Semoga cinta kita Ini selalu bertahan selamanya" ucap Rio.
Tanpa Meraka Sadari, Luna diam diam memerhatikan mereka dan kata kata manis Mereka.
"Rio gak pernah semanis ini sama gw dulu " batin Luna.
"Bianca, Rio.. gw pulang dulu ya kalo gitu" ucap Luna.
Rio mengangguk.
"iya.. makasih udah Jagain gw di rumah sakit" ucap Rio.
Luna tersenyum dan mengangguk.
"makasih lun" ucap Bianca.
Luna kembali mengangguk
Luna pun akhirnya Pergi.
Rio tersenyum.
ia langsung menarik Bianca Menuju kamar.
"eh mau ngapain?" tanya Bianca.
Rio duduk di sofa Yang berada di kamar nya itu.
Ia Menepuk Pahanya menyuruh Bianca duduk.
Bianca pun menurutinya, ia duduk di pangkuan Rio.
"kenapa sih?" tanya Bianca bingung.
"bayar utang janji Lo" ucap Rio.
"janji apa?" tanya Bianca bingung.
Rio memeluk Bianca erat.
"janji kemarin pagi itu lohh.. jangan pura pura lupa" ucap Rio.
Bianca mencoba mengingat ingat nya kembali.
"ohh" ucap Bianca saat mengingat janji nya.
"Lo kan lagi sakit, nanti aja yaa" ucap Bianca.
"gak mauuu, pengennya sekarang! lagi pula gw gapapa kok, Lo inget kan gw pernah bilang kalo Lo itu Obat dari semua penyakit gw" ucap Rio.
"iya sih, tapi kan Lo itu baru aja pulang dari rumah sakit rioo.. gw takut Lo kenapa Napa.. gw cuman khawatir sama Lo" ucap Bianca.
"Khawatirin aja Dosa Lo.. kalo Nolak suami tuh dosa loh sayangg" ucap Rio.
Bianca terdiam sejenak.
"emangnya Lo ga bakal kenapa Napa?" tanya Bianca.
"engga bii" ucap Rio.
"yaudah kalo gitu" ucap Bianca.
Rio tersenyum.
Rio mendekatkan Wajahnya, namun Bianca langsung mendorongnya dan Berdiri dari pangkuan Rio.
"Lo kelamaan, Gw udah berubah pikiran" ucap Bianca.
Bianca tersenyum mengejek.
Rio ingin menarik Bianca, namun Bianca berhasil menghindar.
"gak kena wlee" ucap Bianca mengejek dan tertawa kecil.
Rio berusaha Menggapai Tangan Bianca untuk menarik nya lagi, namun lagi lagi Bianca Menghindar.
Bianca tertawa kecil mengejek.
"gak usah main main sama gw, gw udah Belajar cara menghindar" ucap Bianca.
Rio berdiri dari Sofa.
Ia memasukan kedua tangan nya ke saku celananya dan menatap sinis pada Bianca.
tanpa berkata apapun, Rio pun berjalan pergi Masuk ke Salah satu pintu di Kamar itu.
Pintu itu adalah pintu menuju ruang kerja Rio.
Rio masuk dan menutupnya.
Bianca cemberut melihat Rio yang sepertinya Marah.
Bianca berjalan menuju pintu itu dan Membukanya perlahan.
Ia masuk tanpa menutup pintu nya.
Bianca Tersenyum.
Ia langsung duduk Di meja kantor Rio.
Ia menarik Kursi kerja Rio agar Lebih dekat dengannya.
Dengan nakal nya, Bianca mengalungkan lengannya pada leher Rio.
Rio membuang muka nya dari Bianca.
Bianca mencium sekilas Pipi Rio dan membuat Rio menoleh kearahnya.
Bianca melepas lengannya dari leher Rio.
"mau gak?" tanya Bianca menunjuk Bibir nya.
Rio tersenyum dan mengangguk.
Bianca tertawa kecil.
Ia Turun dari Meja.
"kejar dulu" ucap Bianca Yang langsung berlari keluar Ruang kerja dengan tawa Jail nya.
Rio tersenyum melihat tingkah Bianca.
Ia berlari mengejar Bianca yang sudah berada di Luar kamar.
Saat langkah Bianca hampir menginjak ke anak tangga, Rio menariknya dan memeluknya dari belakang.
"kena" ucap Rio tersenyum.
Bianca tertawa kecil sambil mendongakkan kepalanya untuk Menatap Rio yang sedang tersenyum padanya.
Rio mengelus pucuk kepala Bianca, lalu ia mencium nya.
Bianca tersenyum pada nya.
Rio Membalas senyuman manis dari bibir manis Bianca.
tatapannya Fokus pada Bibir Bianca.
Ia mendekatkan bibirnya hingga menyentuh Bibir Bianca.
lalu ia mel*mat nya lembut.
Bianca mengelus Lengan Rio yang sedang memeluk nya itu sambil terus Mengikuti permainan Rio.
Tanpa mereka sadari, disisi lain mereka ada Seseorang yang melihat mereka melakukan itu. Luna.
tadinya Luna kembali hanya untuk mengambil barang nya yang tertinggal. namun Saat ia ingin mengambilnya, tatapannya Tertuju pada dua insan yang sedang ber mesraan di Lantai atas.
Ia memilih untuk Pergi, namun Ia tak fokus hingga Ia Menyenggol pajangan Keramik kecil Di meja dan menjatuhkannya.
Rio berhenti Saat mendengar suara barang jatuh.
Bianca dan Rio langsung tertuju pada seseorang yang sedang memerhatikan mereka dengan tatapan sedih.
Bianca melepas pelukan Rio saat menyadari bahwa itu adalah Luna.
Bianca dan Rio turun dan berjalan Menghampiri Luna.
"m-maaf, tadi gw kesini cuman mau ngambil barang yang ketinggalan" ucap Luna.
"lo gapapa kan lun?" tanya Bianca.
"gapapa kok" ucap luna
"kenapa gak ngetuk dulu kalo mau masuk?" tanya Rio.
"tadi gw fikir kalian lagi dikamar dan istirahat, makannya gw gak mau ganggu kalian.. jadi gw langsung masuk. maaf ya" ucap Luna.
"lain kali jangan asal masuk kaya gitu" ucap Rio.
"udahlah Rio, Yang penting Luna gak kenapa Napa" ucap Bianca.
"yaudah mendingan Lo pulang" ucap Rio.
"i-iya.. kalo gitu gw pulang dulu" ucap Luna yang langsung pergi.
Bianca menghela nafas.
"harusnya Lo gak kaya gitu sama luna" ucap Bianca.
"Udahlah, dari pada ngurusin itu, mendingan kita lanjut lagi yang tadi" ucap Rio.
Bianca menatap kesal pada Rio.
Rio menghela nafas.
"yaudah, maafin Rio ya sayang. janji gabakal gitu lagi!" ucap Rio.
"lain kali minta maaf nya sama Luna" ucap Bianca yang Meninggalkan Rio dan ingin membereskan Beling pecahan keramik.
Rio dengan cepat Menggendong Bianca Sebelum Bianca menyentuh Beling beling itu.
"eh Lo apa apaan sih?!" ucap Bianca.
"kalo Lo gak mau Lanjutin yang tadi, minimal jangan sentuh sentuh beling kaya gitu deh! biar gw aja" ucap Rio.
"gw aja" ucap Bianca.
"gak" ucap Rio.
"gw aja Rio" ucap Bianca.
"Lo punya suami Emang nya buat apa?! gw gak mau jadi suami gak berguna buat Lo" ucap Rio.
"Tapi nanti Lo Luka gimana?! gw gak mau Lo luka" ucap Bianca.
"gw lebih gak mau kalo Lo yang luka" ucap Rio.
Bianca sudah tak punya jawaban untuk semua perkataan Rio.
Rio pun membereskan pecahan keramik itu.
setelah itu, Rio mengajak Bianca ke kamar untuk beristirahat.
...----------------...