UNTITLED

UNTITLED
badmood



sedari tadi Rio dan Bianca tertawa puas Dengan kejadian Tadi.


"Lo bisa banget ngomong nya" ucap Rio.


"gw kalo udah kesel, mulut gw pedes.. makannya jangan pernah Bikin gw kesel" ucap Bianca.


Rio tertawa kecil.


"iya sayang iya" ucap Rio mengelus Kepala Bianca yang sedang sibuk mengunyah makanan nya.


setelah selesai makan, Bianca dan Rio pergi dari restaurant mewah Milik Rio itu, dan memutuskan untuk pulang.


Diperjalanan pulang, Bianca Hanya diam memandangi keluar kaca.


Rio yang sedang menyetir itu heran dengan Bianca.


padahal awalnya Bianca tak menjadi diam seperti ini.


Rio merangkul Bianca dan menuntun kepala nya Menyender di bahu Rio.


Lalu ia mengelus kepala Bianca.


"kenapa? kok dari tadi diem aja?" tanya Rio sambil memfokuskan pandangannya pada jalanan.


"gapapa" ucap Bianca.


"ga percaya" ucap Rio.


"gw gapapa" ucap Bianca melepas Rangkulan Rio dan Mengganti posisi menjadi duduk seperti semula.


Rio menghela nafasnya.


Ia menarik Bianca kembali pada posisi menyender pada bahu nya.


"gara gara karyawan gw tadi? biar gw pecat ya Meraka berdua" ucap Rio.


"apaan sih" ucap Bianca kembali melepas Rangkulan Rio dan Kembali pada posisi Duduk.


"gak usah berlebihan, gw gak dendam sama mereka.. lagi pula gw gak kenapa Napa" ucap Bianca.


"terus kenapa diem aja?" tanya Rio.


"ya pengen aja" ucap Bianca.


"Lo lagi ngambek sama gw ya?" tanya Rio.


"ga" ucap Bianca singkat, setelah itu ia membuang mukanya dan kembali menatap keluar jendela.


"gw badmood aja" ucap Bianca.


"badmood karena apa sih sayang?" tanya Rio.


"cih, dasar ga peka. pagi ini kan Lo belum cium gw" ucap Bianca keceplosan.


Rio Terdiam sejenak mencerna omongan Bianca.


lalu ia tersenyum.


Rio mengsisikan Mobil nya dengan cepat, lalu memberhentikan mobilnya.


setelah itu mengunci pintu mobil itu.


Rio menatap Bianca.


sedangkan Bianca membuang muka.


Rio mendekatkan Wajahnya Pada wajah Bianca yang sedang membuang muka nya itu.


Ia mencium pipi Bianca, lalu yang membuat Bianca kaget, Rio mencium leher nya.


Rio tersenyum melihat Bianca yang kaget.


Ia mengelus kepala Bianca.


Lalu berbisik.


"Kayanya siang ini kita gak pulang" bisik Rio membuat bulu kuduk Bianca berdiri.


Bianca menjauhkan Wajahnya dari wajah Rio.


"a-apa maksud Lo?!" ucap Bianca.


"lo kan udah pernah janji sama gw, kalo Lo mau nunggu gw" ucap Bianca.


"nunggu apa?" tanya Rio.


"n-nunggu gw siap" ucap Bianca.


Rio tertawa kecil.


ia duduk berposisi awal, lalu menatap Bianca.


"maksudnya sekarang gw harus ke Kantor, ada urusan sampe sore. gw mau ngajak Lo juga" ucap Rio.


Bianca menghela nafasnya lega.


Rio kembali tertawa kecil.


"emang nya Lo fikir gw mau ngapain?" ucap Rio.


"e-engga" ucap Bianca.


"pikiran Lo kotor" ucap Rio.


"suruh siapa Lo Deket Deket terus cium gw" ucap Bianca.


"emang nya ga boleh? kan tadi Lo yang bilang sendiri kan? lagi pula bukannya emang Hampir setiap hari gw cium Lo, kok heran gitu" ucap Rio.


"udahlah gak usah dibahas, bikin gw makin badmood" ucap Bianca.


"kan udah di cium, kok masih badmood? apa perlu-" ucap Rio terpotong oleh ucapan Bianca.


"gak usah ngomong yang engga engga!! jangan bikin gw 2 kali lebih badmood" ucap Bianca.


Rio tertawa.


Ia mengelus kepala Bianca.


"cup cup cup, jangan badmood terus ya sayang" ucap Rio.


"sekarang mau langsung ke kantor aja apa gimana?" tanya Rio.


"terserah" jawab Bianca.


"langsung Ke kantor aja ya?" ucap Rio.


"iihh ga mauu!! gw pake baju kaya gembel gini, ntar di ketawain sama karyawan karyawan Lo.. apa lagi klo sampe diketawain sama mantan Lo" ucap Bianca.


"cih, katanya terserah" ucap Rio.


"ya pokoknya gw gak mau ke kantor pake baju ginian!.. karyawan restoran Lo aja bisa ngomong gitu, apa lagi mantan lo" ucap Bianca.


"Lo tuh cantik di apain juga" ucap Rio.


"ya pokoknya gw gak mau ke kantor pake baju ginian!" ucap Bianca.


"yaudah kita ke mall beli baju, habis itu langsung ke Kantor" ucap Rio.


"terserah" ucap Bianca.


Rio hanya tersenyum.


ia langsung menancap gas menuju Mall.


sesampainya di mall, Bianca sangat susah untuk di ajak turun.


"ayo turun bii, katanya mau beli baju" ucap Rio.


"ga deh, Lo aja. ternyata mall nya rame banget! pasti banyak yang ngomongin penampilan gw" ucap Bianca.


"terus Lo mau nya apa?" tanya Rio.


"Lo beliin, gw tunggu disini" ucap Bianca.


"hah? gw gak tau baju yang Lo mau" ucap Rio.


"ya apa aja, asal jangan yang terlalu kebuka" ucap Bianca.


.


.


hampir setengah jam Bianca menunggu, namun Rio belum terlihat.


"aduhh, Rio dimana sih" keluh Bianca.


Tiba tiba seorang Lelaki datang dan masuk ke mobil itu dan memberi 1 paperbag berisi baju.


"Lo dari ma aja si Rio!" ucap Bianca.


"iya maaf, gw bingung nyariin baju Lo" ucap Rio.


"yaudah sekarang gw mau ganti baju, Lo keluar dulu" ucap Bianca.


"hah? ganti baju di mobil?"tanya Rio.


"iyaa" ucap Bianca.


"kenapa ga cari tempat aja Buat ganti baju" ucap Rio.


"kelamaan, ntar Lo telat ke kantor" ucap Bianca.


Rio menghela nafas Pasrah.


Ia keluar mobil mengikuti permintaan Bianca.


Bianca pindah pada jok tengah, lalu Mengganti bajunya.


Bianca yang sedang fokus itu tak sadar, bahwa Rio mengintipnya dari jendela belakang.


"astaga, istri gw cantik banget" ucap Rio mengulum bibirnya.


Lalu setelah Bianca selesai berpakaian, Rio berlari berpura pura jauh dan tak melihat apapun.


saat Bianca menyuruhnya masuk, Rio pun akhirnya masuk dan Duduk di jok mengemudi.


Ia masih mengulum bibirnya menahan senyuman.


Bianca menatap heran pada Rio.


"kenapa sih Lo?" tanya Bianca.


"hah? engga engga" ucap Rio.


"yaudah ayo, ntar Lo telat" ucap Bianca.


"i-iya iya" ucap Rio memindahkan gigi mobil, melepas rem tangan, dan langsung menancap gas menuju kantor.


sesampainya di kantor, Bianca dan Rio keluar mobil dan berjalan Menuju ruangan Rio.


Namun Tamara mengikuti langkah mereka.


Bianca yang menyadari itu, berjalan mendekat Pada Rio dan menggandeng lengan Rio.


Rio menatap heran, tak biasanya Bianca tiba tiba menggandeng nya seperti ini.


namun ia senang.


Rio membiarkan Bianca Menggandeng nya hingga ruangan nya.


sesampainya di ruangannya itu, Bianca melepas gandengannya.


Rio berjalan Menuju meja Kerja nya.


"gw mau tiduran di kamar ya" ucap Bianca.


"iya, sana istirahat" ucap Rio yang sudah sibuk dengan berkas berkas yang ada di meja kerjanya.


Bianca pun berjalan menuju Kamar dan Masuk.


Ia membaringkan badannya.


"kenapa hari ini gw banyak banget ngomel ke Rio ya" ucap nya heran sendiri.


"padahal kan Rio g salah apa apa" ucap nya.


Bianca menghela nafasnya.


"nanti deh gw pikirin itu, gw mau istirahat aja" ucap Bianca.


saat ia menutup matanya, ia mengingat sesuatu yang membuatnya kembali membuka matanya dan Berdiri dari posisi rebahan nya.


"Tamara!! tadi dia ngapain ngikutin gw dan Rio?!" ucap Nya.


Lalu ia buru buru berlari keluar kamar.


Ia menatap tempat Rio, dan feeling nya benar.


ada Tamara disana.


Tamara yang genit itu terus merayu Rio.


ia duduk di Meja kerja Rio dan menggangu nya.


Bianca tak mau langsung melabrak, ia menyender di dinding dengan lengan yang ia lipat sambil terus memerhatikan Mereka berdua.


"sayangg, kamu Udh lupa apa sama Kenangan kita? kamu gak ada rasa yang tersimpan sedikit pun buat aku?" tanya Tamara pada Rio dengan genit nya.


Rio menjawab tanpa menatap nya.


"gw punya rasa sama Lo, bahkan rasa itu gak pernah gw punya sama Bianca" ucap Rio.


Tamara kaget dengan ungkapan Rio.


begitupun Bianca.


ia begitu kesal dengan ucapan Rio barusan.


mungkin cemburu.


"hah? astagaa, aku juga tau kok kalo kamu masih sayang sama aku" ucap Tamara.


Bianca berjalan menghampiri mereka sambil cemberut kesal.


"apa maksudnya?!" tanya Bianca pada Rio.


Rio menatap Bianca.


ia takut Bianca salah paham.


Bianca menghela nafasnya dan berjalan pergi.


lalu ia terhenti saat Rio berkata..


"maksud gw rasa benci.. rasa benci yang gak pernah ada buat Bianca" ucap Rio.


Senyuman Tamara memudar.


Rio berjalan menghampiri Bianca.


"gak usah marah, gw belum selesai ngomong" ucap Rio.


Tamara yang kesal itu akhirnya pergi keluar ruangan Rio.


"ck" seru Bianca kesal.


Bianca berjalan menuju sofa dan duduk.


Rio mengikutinya.


"cemburu?" tanya Rio.


"ga" ucap Bianca.


"iya cemberu, gw tau dari mata lo" ucap Rio.


"terserah" ucap Bianca yang langsung pergi menuju kamar.


Rio tersenyum menggelengkan kepala.


ia kembali duduk di Kursi kerja, dan kembali melanjutkan pekerjaannya.


...----------------...