
Alby membuka matanya begitu mendengar suara Azan subuh dari handphone pengingatnya.Matanya langsung mengurung wajah cantik disana yang berhiaskan senyum manisnya.Alby lalu mengangkat tubuhnya yang berbaring di atas pangkuan Bee dengan mata yang masih terlihat sangat sayu.
" sholat bareng kita ?"
ajak Alby dengan suara paraunya berlahan tangannya juga mengusap-ngusap wajahnya untuk menemukan kesadarannya.
"aku lagi gak sholat,By.
Kamu nya aja gih sholat,aku tunggu disini"
jawab Bee dengan senyum nya.
Alby memandang Bee,lalu membalas senyum juga ke Bee dan bergegas meningggalkan Bee menuju Mesjid yang tidak jauh letaknya dari Rumah Sakit.
Setengah jam kemudian,Alby kembali dan melihat perawat yang keluar dari ruang Operasi yang membawa kedua orang tuanya.Alby pun mempercepat bahkan sedikit berlari untuk mendekat dengan wajah paniknya.
"Kondisi Vital Ibu juga Bapak sudah stabil jadi akan di pindah ruangannya"
ucap Bee dengan satu tangannya memegang pundak Alby,berusaha untuk menenangkan Alby.
Alby menarik nafas lega dan mulai dapat mengurangi rasa paniknya.Bersama dengan Bee,mereka mengikuti perawat yang membawa tubuh Atia juga Indah dan menghentikan langkah mereka pada ruangan khusus.
Lima belas menit menunggu,lalu keluar perawat-perawat itu yang langsung di hadang Alby dengan pertanyaan-pertanyaan di kepalanya.
"Kondisi vital dari kedua pasian sudah stabil walau keduanya masih dalam kondisi koma sekarang.Kami akan tetap pantau terus perkembangan pasien dan pastinya memberikan pengobatan terbaik buat pasien.Sama -sama kita berdoa Pak,untuk kebaikan pasien.
Kedua pasien akan selalu di pantau oleh Dokter.Mohon untuk tidak mengunjungi pasien dulu ya,pak.Sekitar setengah jam lagi,Dokter akan Visit pak "
Informasi salah seorang perawat dengan lugasnya mencoba menjawab dan pertanyaan Alby yang belum sempat di lontarkannya.
Alby langsung memundurkan langkahnya,memberi jalan perawat itu untuk berlalu.Bee yang berada di samping Alby langsung mengelus - ngelus lembut pundak Alby.
"semua pasti akan baik-baik aja.
Semua akan kembali normal,By "
bisik Bee pelan
"Aku takut..!!
Sangat takut sekali mereka akan meninggalkan ku sendirian,Bee.Cuma mereka yang kupunya !"
ucap Alby sambil menahan Tangisnya dan matanya sudah mulai memerah.
"hussh,
yang aku tau,mereka orang baik yang hebat juga kuat.Aku yakin Pak Atia,Ibu Indah bisa melewati ini semua.Mereka membutuhkan Doa kita,By"
Ucap Bee lagi sambil menggenggam kedua tangan Alby kedalam genggamannya.Mencoba memberi kekuatan juga semangat kepada Alby.
----------------------------------------
Bee berjalan memasuki pintu lift menuju ruangan kerja.Bee bisa merasakan aura kerja yang berbeda di perusahaan tempat dirinya bekerja sekarang.Suasana perusahaan yang tampak hening walau banyak orang yang berlalu lalang,semua terlihat sedih seperti ikut merasakan luka akan pimpinan mereka.Hampir seluruh pegawai juga bekerja tanpa ada semangat.
Bee telah duduk di meja kerjanya dan berusaha untuk fokus tapi sebesar apa usahanya,hasilnya tetap saja nihil.Sekitar pukul 6 pagi tadi Bee meninggalkan Rumah sakit dengan taksi on line.Meninggalkan Alby di rumah sakit yang telah di temani oleh orang-orang kepercayaan Pak Atia,Beberapa pengawal pribadi juga kepala asisten rumah tangga keluarga Alby.
Tapi,itu juga tidak membuatnya tenang.
Bee menatap file-file yang sedikit menumpuk di meja kerjanya.Beberapa file hanya tinggal menunggu tanda tangan persetujuan dari Atia saja tapi itu urung terjadi karena musibah yang kini terjadi.
Membayangkan kondisi Atia juga Indah sekarang membuat Bee juga ikut membawa Alby kedalam pikirannya.Tentu Alby sangat berat menghadapi cobaan ini sekarang.Mengingat Alby dengan wajah ketakutannya membuat hati Bee merasa seperti di peras di tambah lagi dengan egonya dulu seperti menambah kepedihan hati Bee.Keangkuhan hatinya yang tanpa alasan.Bee pun menggigit kuat bibir bawahnya mencoba mengimbangi rasa bersalahnya.
----------------------------------------
Empat hari sudah berlalu,Bee kembali menjalani rutinitas barunya pergi mengunjungi rumah sakit setelah jam pulang kerjanya.Membawa makan malam juga untuk dirinya dan Alby.
Bee memasuki sebuah ruangan yang memang sengaja di pesan untuk Alby istirahat dan menerima tamu yang berkunjung untuk melihat kondisi orang tuanya yang letaknya berhadapan langsung dengan ruang perawatan khusus Atia dan Indah.
Bee mengetuk pintu pelan,dan langsung di buka oleh Ibu Sofi,wanita paruh baya yang merupakan kepala asisten rumah tangga keluarga Atia dengan senyumnya.Bee dengan hati-hati memasuki ruangan yang lumayan luas itu karena melihat ada tamu yang sedang datang berkunjung dengan posisi tubuh yang duduk membelakangi Bee.Bee bisa Melihat raut muka Alby yang penuh dengan kesedihan dengan mata nya yang memerah,kedua tangan Alby juga terlihat saling meremas.Bee bisa memastikan kalau pembicaraan mereka pasti sangat serius.
Alby yang melihat kehadiran Bee di ruangan itu lalu melambaikan tangannya,mengisyaratkan agar tubuh Bee segera datang mendekati Alby.Membaca maksud dari isyarat tangan Alby,Bee tanpa pun berjalan mendekati Alby dan duduk di samping Alby.
Bee membelakkan matanya,seperti tidak percaya akan apa yang di lihatnya sekarang.
"Navy ?"
pekik Bee tertahan
"Heyyyy.."
jawab Navy dengan senyum khasnya
"Huufffff,
keberadaan gue sepertinya kurang tepat untuk sekarang.Gue keluar aja dulu sepertinya ya,sekalian juga ne By,gue juga mau ngunjungi Prof.Glenn dulu"
ucap Navy akhirnya,dan langsung keluar dari ruangan itu tanpa menerima jawaban dari keduanya.
Selepas kepergian Navy,Bee mengajak Alby untuk makan malam.Tapi,sepertinya malam ini keadaan Alby sedikit berubah dari malam sebelumnya.Nafsu makannya benar-benar hilang sama sekali.Bee berkali-kali berusaha menyuapkan makanan ke mulut Alby tetapi lebih sering mendapatkan penolakan.
Candaan yang di layangkan Bee juga seperti angin lalu bagi Alby.Alby lebih banyak diam.Lingkar mata yang mulai menghitam,rambut yang acak-acakan,bulu-bulu tipis juga sudah mulau tumbuh di wajah Alby.Bee melihat semua perubahan Alby yang membuat hatinya meringis.
Bee kembali melihat wajah Alby yang kusut Alby yang terdiam,dan kembali mencoba memasukan makanan ke mulut Alby.Dan kali ini usaha nya berhasil,satu suapan mendarat sukses di mulut Alby.
panggil Bee lembut yang langsung mata Alby terarah menatap Bee yang duduk di sampingnya.
"ini pasti sangat berat buat kamu..
ini sulit,aku tau itu.Tapi..,
bisa gak kamu juga jaga kesehatan kamu juga.Ini demi kamu juga semuanya.Kamu harus tetap sehat,harus kuat juga By.
Gak ada keluarga yang bisa mengambil keputusan akan keadaan ini nantinya kalau kamu sakit.Karena kamu gak punya itu.
Mau gak mau,kamu juga harus mengambil alih kepemimpinan Pak Atia.Banyak masa depan yang harus dipertanggung jawabkan disana,By.Ribuan karyawan yang menggantungkan hidup mereka pada perusahaan,ribuan anak yang menggantungkan masa depannya pada perusahaan.
Semua orang yang bekerja di bawah naungan Maha Group juga tahu,bahwa Pak Atia selalu mengedepankan kesejahteraan para pekerjanya dan aku mau,kamu ambil alih dulu sementara tanggung jawab itu "
Bee mengucapkan itu dengan tertunduk karena takut ucapannya akan menyinggung Alby.
Tidak ada jawaban dari Alby,dan Bee pun menjadi merasa bersalah dengan ucapannya sekarang.Keheningan kembali menjadi teman mereka sampai hampir setengah jam kemudian keheningan itu mulai sedikit menguap karena kedatangan Navy disana.
Navy melihat gelagat aneh dari keduanya,dan menjadi seperti makhluk dari antah berantah karena ucapannya dari tadi tidak ditanggapi oleh dua manusia di hadapannya.
"aku pulang dulu,By.udah malem banget juga "
pamit Bee akhirnya sambil melihat arloji di tangannya.
"diantar Pak Dedy aja"
perintah Alby pelan
"gak usah,aku naik taksi on line aja"
tolak Bee halus sambil mengambil tasnya yang berada di samping Alby.Alby menahan tas yang akan di ambil Bee.
"kamu yang bilang sendiri tadi udah malem banget ! Aku mohon jangan nambah pikiran aku lagi.aku mohon juga jangan membantah aku kali ini "
ucap Alby tegas dan terdengar menakutkan ditelinga Bee.
"Wuissshhhh,
udahhhh gak usah panjang.
Gue aja yang antar.
Dan,masalah selesai..!!
Gue tunggu di luar ya Bee"
ucap Navy mencoba kembali menengahi keduanya lalu berjalan menuju luar ruangan.
Bee telah berhasil mengambil tasnya yang kini berada di tangannya.Dengan takut-takut diangkat kepalanya untuk bisa melihat mata Alby.Selang lima menit begitu melihat mata tajam tapi sayu itu,Bee kembali menundukkan kepalanya.dihimpit Bee pergelangan tangan kanan Alby lalu menautkan kedua jemari mereka,Bee juga merapatkan posisi duduknya.lalu kepalanya di sandarkan di pundak Alby.
"Maaf..,
kalau ada perkataan aku yang salah.
Aku mohon By,
Kamu harus kuat
kamu harus sehat juga.
Seandainya aja,aku gak punya tanggung jawab atas pekerjaan aku sekarang.
Aku pasti akan disini,By.Nemani kamu.."
ucap Bee lagi dengan suara seperti berbisik dan tanpa dapat di tahannya air mata nya pun tumpah di pipinya.
----------------------------------------
Bee kini sudah berada di kamarnya.Pikirannya kembali liar kemana-mana memikirkan keadaan Alby sekarang setelah mendengar penjelasan Navy tadi sepanjang perjalanan pulang menuju rumahnya.
"Om Atia,sore tadi keadaannya drop dan jantungnya sempat berhenti berdetak.Untung saja pada saat itu Dokter sedang melihat keadaan Om Atia juga Tante Indah.Pertolongan segera di lakukan.Jantung Om Atia langsung di pompa dengan alat picu jantung"
Kalimat dari Navy itu kembali bermain di kepala Bee.
"Alby meraung,berteriak histeris..
tubuhnya mengejang kuat,semua ototnya seperti akan keluar dan air matanya seperti tumpah saat itu"
penjelasan lanjutan itu kembali membuat hati Bee sedih.
Di saat seperti itu seharusnya ada sosok yang bisa menenangkan Alby.Dan di saat seperti itu dirinya ingin berada disisi Alby.
Bodohnya dirinya tadi malah meminta Alby untuk mengambil alih tanggung jawab perusahaan.Karena omongan nya tadi,Bee yakin sikap Alby jadi aneh padanya.
"peluang sembuh untuk keduanya gak sampe 30% pasca operasi.Dan itu terus turun sampai sekarang menjadi 10 %gak ada harapan sama sekali,Bee.Hanya mengandalkan mukjijat "
Kalimat menyakitkan Navy membuat tubuh Bee kembali melemas di tambah Alby juga tau kondisi orang tuanya sekarang.
Bee menarik nafasnya panjang.Lalu melangkah mendekati lemarinya dan mengumpulkan beberapa pakaian juga keperluan yang dibutuhkannya.Lalu mengenakan hoodie di tubuhnya dan dengan hati-hati sekali mulai berjalan mengendap tanpa suara menuju pintu kamar Andra,adiknya.