
Keluarga Bianca pagi ini sedang sibuk bersiap.
Bianca dan Rio masih berada di kamar nya, Karena Bianca masih sibuk bermake up.
"lama banget Make up nya. Lo tuh ga make up aja udah cantik, ga usah pake make up tebel tebel" ucap Rio yang sedang berdiri di belakang Bianca yang sibuk ber make up sejak tadi.
Laras dan Bayu sudah berada di ruang tamu, sedang berbincang sedikit sambil menunggu anak dan menantunya datang.
sedangkan Reygan, ia sudah Berada di garasi. Menyalakan mobil nya untuk bersiap siap membawa 5 penumpang.
Bianca dan Rio yang mereka tunggu akhirnya keluar dari kamar dan turun menuju lantai 1.
"maaf ya Bun, yah. kalian jadi harus nunggu lama gini. Bianca make up nya lama banget sih, padahal kan dia ga pake make up aja udah cantik ya Bun, yah" ucap Rio.
Laras tersenyum.
"iya loh bener kata Rio. kamu tuh cantik walau pun ga pake make up bii. ga usah lama lama Kaya gitu make up nya lain kali"
"iya bun, maaf" ucap Bianca.
Reygan datang Menghampuri mereka.
"mobil udah siap, mendingan kita cepet cepet pergi sebelum makin siang"
Mereka menyetujui perkataan Reygan.
akhirnya mereka berjalan Menuju garasi dan masuk ke dalam mobil.
"Rey, biar gw yang Nyetir" ucap Rio.
"dih, tumben baik Lo"
"caper amat sama orang tua gw" ucap Reygan.
"tau aja Lo. udah cepet masuk ga usah bawel" ucap Rio mendorong Reygan masuk ke dalam mobil bagian kedua, karena bangku samping Rio di tempati Ayah mertuanya.
Reygan menatap Bianca.
"liat kan kelakuan suami Lo Bii, caper Mulu depan bunda sama ayah"
"udah lah kak biarin aja. emang gitu anaknya" ucap Bianca.
Reygan Menggelengkan kepalanya bingung mengapa adik kesayangannya itu bisa begitu bucin pada Pria menjengkelkan seperti Rio.
Bayu menitipkan rumahnya pada satpam yang berada di rumahnya.
"pa, saya mau pergi dulu. saya titip rumah ya, ga bakal lama kok"
"baik pa! hati hati di jalan" ucap satpam itu.
Rio mengeluarkan mobil Itu dari Garasi rumah Bianca, lalu langsung menancap gas menuju rumah orang tuanya yang terletak sekitar 2 km dari rumah Bianca.
..
perjalanan tak terasa begitu lama, karena Rio banyak memotong jalan.
mereka akhirnya sampai di depan rumah Besar milik Kedua orang tua Rio. Risa dan Adit.
"Bun, yah. ayo turun"
Mereka turun dari Mobil, sedangkan Rio memarkirkan Mobil Reygan Itu terlebih dahulu.
setelah memarkirkan mobil Milik Kakak ipar nya itu, ia langsung menghampiri kedua mertua, Kaka ipar dan istrinya yang sudah berada di depan pintu utama.
"gimana? ada orang ga?" tanya Rio pada Bianca.
"udah di ketuk berkali kali, tapi ga di bukain" ucap Bianca.
"ohh, yaudah kalo gitu tunggu dulu ya. Rio mau nelfon mamah" ucap Rio meninggalkan Kedua mertua Dan iparnya. sedangkan Bianca malah ia gandeng.
"Lo yang nanya ke Mamah ya" ucap Rio.
Bianca mengangguk. ia langsung mengeluarkan ponsel dari tas nya, lalu langsung memencet nomor kontak bertulis 'mamah mertua'.
[ halo sayang, ada apa? tumben nelfon ]
"halo mah. mamah lagi ada dimana?"
[ ohh. mamah lagi ada dirumah. di kamar atas ]
"mah, ini Rio sama Bianca ada di depan"
[ hah? di depan?, yaudah mamah kesana ya ]
Risa mematikan Telfonnya.
"gimana katanya?" tanya Rio.
"tadi mamah lagi di kamar atas. ini mau jalan ke bawah" ucap Bianca.
Tak lama kemudian, Pintu terbuka.
"ohh, ada kalian juga. yaudah ayo masuk"
Mereka pun masuk atas izin Risa.
Risa menyuruhnya mereka duduk di sofa ruang tamu, lalu dia berpamit ke dapur untuk membuatkan minum.
Bianca cepat cepat menahannya.
"mamah disini aja ya. Biar Bianca yang bikinin Minum"
Risa tersenyum.
"yaudah sayang"
Risa duduk di sofa, sedangkan Bianca pergi ke dapur untuk membuatkan semua orang minum.
Rio tiba tiba berpamit ke toilet.
namun ternyata ia menyusul Bianca di dapur.
Rio memeluk Bianca dari belakang saat Bianca sedang sibuk mempersiapkan Minuman.
Bianca sedikit kaget saat Seseorang memeluknya dari belakang.
"sayang, Lo kok malah Baik sih sama Mamah. Padahal tadi biarin aja Mamah yang buat minum" ucap Rio.
"gw gak marah sama mamah. udah gw bilang tadi malem kan? mungkin mamah dulu masih sayang sama Luna. mungkin aja sekarang Mamah sayang nya sama gw. Lo liat kan senyum dia sebelum dia liat Kita Dateng sama Bunda, ayah dan Reygan. kayanya dia seneng banget Kedatangan Kita" ucap Bianca.
Rio mengangguk menyetujuinya.
"mungkin aja"
..
suasana seketika hening, ketika Wajah Kedua orang tua Bianca datar.
Bayu menjelaskan semua cerita tentang yang terjadi di antara Bianca dan Rio karena kesalah pahaman. sekarang Bayu meminta penjelasan Dari Risa yang kini hanya menunduk bersalah.
"awalnya emang rencana aku kaya gitu. tapi setelah lama, dan ngeliat Rio kayanya bahagia sama Bianca, aku Gak mau janji in itu lagi sama Luna. tapi anak itu malah maksa aku buat Nepatin janji aku. aku jadi bingung soal ini" jelas Risa pada kedua orang tua Bianca.
Ia langsung mengalihkan pandangannya pada Bianca dan Rio.
"sayang, maafin mamah ya. Bianca jadi salah paham, sampe kalian berdua malah pisah beberapa bulan. mamah ngerasa bersalah banget sama kalian. maafin mamah ya" dengan mata yang sudah meneteskan air mata, Risa meminta maaf hingga Berlutut pada Bianca.
Bianca cepat cepat Membangunkan Posisi Risa, dan Memeluknya.
"mah, jangan gituu. Bianca gapapa kok. Bianca ngerti" Bianca menangis Saat mendengar Mertuanya itu menangis di bahunya. Bianca dengan penuh kasih sayang, mengelus punggung Risa untuk menenangkannya.
Bianca menyuruh Risa duduk di sampingnya.
ia menghapus air matanya.
"jangan nangis lagi ya mah. Bianca jadi ikut sedih. Bianca gapapa kok. Bianca ga marah sama mamah. Bianca ngerti"
Risa mengangguk.
"makasih ya sayang"
..
keluarga Bianca sudah pulang, sedangkan Bianca dan Rio malam ini akan Menginap disini, karena besok mereka akan pamit ke Bali.
Rio dengan penuh kasih sayang mengelus kepala Bianca dan sesekali menciumi Kening Bianca di kamar Rio dulu.
"bii. kebayang ga kalo waktu dulu kita gak Nerima perjodohan Ini. gw gak bakal sebahagia ini, bisa tulus ngelus kepala Lo, bisa tulus nyiumin Lo, bisa tulus sayang sama Lo. ga kebayang kalo gw malah sama Tamara. Luna aja yang gw kira baik, ternyata sikap asli nya kaya gitu" ucap Rio yang masih memeluk erat sang istri.
"makasih ya" ucap Bianca.
"kok makasih?" tanya Rio.
"iya makasih. makasih Udah Nerima Perjodohan Ini, walaupun terpaksa" ucap Bianca tertawa kecil.
"walaupun terpaksa, tapi sekarang Lo bisa setulus ini sama gw" lanjut Bianca.
"gw seneng. gw seneng Bisa tulus Sama Lo kaya gini. karena ketulusan gw juga di bales ketulusan sama Lo. itu sempurna banget buat gw" ucap Rio.
Bianca tersenyum, ia Melepas Pelukannya.
"Rio"
"apa sayang" jawab Rio sambil mengelus Kepala Bianca.
Bianca terdiam sejenak.
Dengan cepat ia mencium sekilas Bibir Rio.
"gw sayang banget sama Lo"
...----------------...