
Valerie termenung disebuah kursi taman rumah, baru saja kemarin pagi ia mendapatan kejutan yang indah, namun Ken mematahkan hatinya kembali. Ingatannya langsung tertuju pada apa yang Justin kirimkan siang tadi. Sebuah berita yang mengatakan Siena hampir setiap hari datang kekantor Ken, dan nama Valerie yang disebut-sebut tidak pernah mendatangi kantor suaminya sendiri, malah seorang mantan kekasih yang dengan rajinnya datang kesana.
“Astaga.” Lirih Valerie, media memang menyeramkan bagi mereka yang terkenal, saat mendapat prestasi mungkin membuatnya bangga karena banyak pujian dan dukungan. Namun, jika sedang mendapatkan masalah banyak pihak yang momojokan dan menambah semuanya menjadi suram.
Valerie melirik ponselnya, bahkan sampai sore ini Ken tidak dapat dihubungi, dari awal kepergiannya tidak mendapati Ken memberikannya kabar atau hanya sekedar menyapanya. Apakah Ken sedang sibuk bekerja atau sedang sibuk mengobrol seharian ditemani wanita secantik Siena. Mungkin bagi kita cukup membingungkan, saat Ken mengira Valerie yang menutup akses komunikasi mereka, sedangkan Valerie sendiri sulit menghubungi Ken. Tapi tahukah kalian semua? Ini adalah ulah Justin, baginya memanipulasi seperti ini adalah hal yang mudah.
Dan kalian tahu? Kini disebuah gedung pencakar langit tepatnya di lantai khusus yang begitu mewah, Justin tengah tersenyum, duduk dengan santai disebuah kursi nyamannya sambil menatap layar laptopnya. “Sabar anak ku sayang, aku ingin sedikit balas dendam pada menantu nakal ku satu ini.” Gumam Justin. Ia tahu Ken sedang ada di New York dan entah mengapa Siena malah selalu di kantor pusat Ken di Los Angeles.
Justin mengetuk jarinya beberapa kali diatas mejanya. Ia menatap titik lokasi Ken yang tak pernah diam disatu titik, membuat Justin sedikit penasaran dengan apa yang sedang ia lakukan. Walau Justin menjauhkan mereka, Ken tidak bisa lolos begitu saja dari intaiannya. Bahkan mobil Valerie dan Jessy pun tanpa mereka sadari selalu Justin awasi, baginya menyenangkan sedikit kembali menjaga keaman orang-orang yang ia cintai, ia juga merindukan pekerjaannya dulu, sebagai CIA yang begitu aktif dan memecahkan berbagai masalah kejahatan, merindukan alat-alat canggih yang selalu ia bawa setiap harinya.
Terdengar suara helaan nafas yang merasa terganggu disebrang sana. “Kapan kau mengakhiri ini? Aku tidak ingin melihat fokus anak ku terpencar karena cinta, cepat kembalikan Valerie agar anak ku bisa cepat bekerja dengan baik. Anak perusahaan ku benar-benar sedang tidak aman.” Suara Richard seakan sudah pasrah, ia lelah menghadapi Justin. Tidak mudah dibantah, keras kepala, usil dan tidak tahu diri.
Justin tertawa kecil. “Sebentar lagi, tunggu anak mu itu menjemput dan meyakinkan ku sekali lagi. Aku akan membuatnya bersumpah agar tidak menyakiti Valerie. Aku ayah yang sangat menyayangi anak.”
“Hei! Aku juga menyayangi anak ku. Aku sudah meminta maaf pada mu atas sikap mereka terlebih lagi sikap Ken. Sudahlah, Ken benar-benar mencintai Valerie, kita sebagai orangtua tidak perlu mempersulit mereka. Aku juga sudah melihat semua pengorbanan Ken untuk Valerie, aku yakin anak ku sangat tulus.”
“Ya ya ya, tapi aku ingin menjadikan mereka pasangan yang sempurna, aku akan menumbuhkan rasa cinta mereka lebih dalam lagi. Kau tahu? Pria akan mudah bosan jika tidak diberi perjuangan. Dan aku tidak ingin Valerie dicampakkan begitu saja.”