The Perfect Match

The Perfect Match
Beautiful Mistake [NEW]



Guysss ada yang baru! aku kasih prolognya ya biar kalian penasaran.



"Aku mencintaimu Nick," bisik seorang wanita cantik disampingnya dengan nada lemah, bunyi Elektrokardiogram atau alat rekam jantung semakin berisik dan membuat kepanikan Nick semakin meningkat.


"Maaf, aku sudah tidak bisa menemanimu lagi Nick, aku sudah tidak sanggup lagi," lanjutnya.


Nick menggelengkan kepalanya dengan kencang, air mata sudah membasahi pipinya, beberapa kali Nick menekan tombol pasien untuk memanggil perawat atau mungkin saja Dokter. "Tidak sayang, kau harus bertahan, kau pasti bisa." Nick yang sudah habis kesabarannya dengan berat hati melepaskan genggaman tangannya pada tangan Laura yang sudah terasa lemas.


Nick berlari menuju pintu keluar hendak berteriak memanggil perawat dan Dokter. "Apa kalian bisa cepat!" bentak Nick tak sabaran saat membuka pintu yang bertepatan dengan seorang perawat yang baru tiba dengan nafas terengah.


"Apa sesuatu terjadi? Dokter sedang menuju kemari," jelas perawat itu sambil berjalan masuk ke dalam ruangan dengan tergesa, ia memeriksa Laura dengan begitu hati-hati dan memberikan penanganan yang jujur saja Nick tidak begitu paham


Sekitar dua menit, seorang Dokter baru saja muncul dengan stetoskop di lehernya, ia berjalan dengan wajah serius mendekati Laura. "Bagaimana?" tanya Dokter tersebut pada perawat tadi.


Perawat tadi hanya menggelengkan kepalanya pelan. "Semakin melemah," jawabnya pelan namun masih terdengar oleh Nick.


Dokter pun melakukan tindakan namun   Elektrokardiogram justru berubah menjadi garis panjang tanpa gelombang.


***


"HA!" pekik Nick saat membuka mata. Yang ia lihat kini langit-langit kamar berwarna putih bersih, sebuah pemandangan yang tidak asing baginya yaitu kamar miliknya sendiri, bukan kamar rumah sakit yang ia benci. Huh, nafasnya masih terengah dengan keringat bercucuran. Mimpi itu lagi-lagi datang, membuat Nick tidak pernah merasakan tidur nyenyak untuk beberapa hari terakhir ini. Selalu seperti ini setiap kali ia ‘bermain’ dengan wanita lain.


Usai membersihkan tubuhnya, Nick mulai mengenakan pakaian yang untungnya sudah ia siapkan semalam, Nick mulai menghubungi asistennya yang bernama Chloe untuk menunda sebentar rapat tersebut. "Halo, Chloe? aku memiliki kendala, bisa kau tangani sebentar rapat nanti?" Nick melihat kearah cermin dan memperhatikan sejenak pakaian yang ia kenakan. Sudah rapi. Kini Nick mengambil dengan cepat dasi yang berada di dekat lemari.


"Baik Sir," jawab Chloe seperti biasa yang selalu mengikuti perintah Nick dengan baik tanpa pernah menentangnya. "Apa kau perlu bantuan untuk membantu kendala mu?" tanya Chloe.


"Tidak, aku bisa mengatasinya sendiri, aku akan tiba mungkin tiga puluh menit lagi, kau tangani saja dulu dan mengulur waktu sebaik mungkin sampai aku tiba," perintah Nick.


Jam sudah menunjukkan pukul delapan lewat lima puluh menit, jika ia menghabiskan waktu di perjalanan tiga puluh menit seperti biasanya itu artinya Nick akan terlambat kurang lebih dua puluh menit. Dalam hatinya berharap jika klien penting yang akan ia temui semoga saja memiliki kebiasaan buruk dalam management waktunya. John, banyak rumor yang mengatakan jika pria itu adalah seorang Mafia yang bersembunyi dalam bisnis raksasanya, ia sebenarnya memiliki 2 anak perempuan dan 1 laki-laki, namun sayang dua diantaranya terlahir dari wanita simpanan John, sedangkan gadis yang baru saja menginjak usia 25 tahun menjadi satu-satunya anak John yang secara resmi akan meneruskan kekayaan John Aarron. Dilihat dari profilnya saja Nick sangat yakin jika pria itu tidak terlalu gila kerja dan pastinya John akan lebih terlambat dari Nick. "Baiklah, ini sudah cukup sempurna," ucap Nick memuji dirinya sendiri yang ada di depan cermin.


Ketika sedang menatap cermin itulah Nick mulai ingat jika ia tidak sendirian di kamar ini, seorang wanita tampak baru saja bangun dari tidurnya dan mengubah posisi tidurnya menjadi menghadap cermin di mana Nick berada. “Hai Olive, maaf aku sudah terlambat untuk rapat, tidak masalah bukan jika kau memesan taxi online nanti?” tanya Nick dengan ekspresi yang tak merasa bersalah sedikitpun.


Wanita itu mendengus pelan, lalu mengambil selimut lebih banyak untuk menutupi tubuhnya dan saat ia akan beranjak menuju kamar mandi, ia menatap kembali kearah Nick. “Sebenarnya ada berapa banyak kekasih mu Nick? Olive, Rose, Selena, Laura. Huh, setidaknya kau harus mengingat namaku dulu sebelum mengajakku ke kamar ini untuk yang ke-3 kalinya!”


Nick yang mendengarnya hanya meringis pelan, namun kata-kata seperti itu tak pernah membuat Nick tersinggung sedikitpun. “Maafkan aku Elisa, sepertinya aku benar-benar masih mengantuk, aku tidak bermaksud-“


“Elisa? Aku ELSA!” pekik wanita itu yang sudah tak tahan lagi dengan sikap Nick, rasanya ia tidak pernah dianggap sedikit saja berarti dalam hidup Nick. Elsa pun kembali melanjutkan langkahnya menuju kamar mandi dan menutup pintu kamar mandi dengan cukup keras.


Ketika Nick akan menjawab, matanya langsung terfokus pada jam dinding yang terus berjalan. “Astaga aku sudah sangat terlambat,” gumam Nick. Dengan cepat Nick mengambil tas kerja dan kunci mobil yang ada di atas meja, tak lupa ia pun membawa mantel coklat kesayangannya –pemberian Laura sebelum insiden tragis itu terjadi-. Setelah keluar dari dalam kamar, ia menoleh pada foto dirinya bersama Laura yang ada di ruang tengah, atau lebih tepatnya diatas meja dekat TV. "Aku tahu kau merindukanku sayang, tapi kau membuatku terlambat di hari penting ini," gumam Nick pelan, berharap wanita yang ada di kamarnya tidak mendengar. Jangan terlalu bingung dengan sikap Nick, ini sudah biasa ia lakukan dan ia pun sudah mencoba konsultasi dengan dokter jiwa, namun Nick masih merasa sosok Laura ada bersama dirinya, ia tidak pernah meninggalkan Nick seorang diri dan selalu menginginkan Nick untuk mengingatnya disaat Nick bersama orang lain.


**


Jangan lupa like..