
“Tidak, ini salah paham. Aku benar-benar mencintai Valerie!” bentak Ken kesal, rasa perih disudut bibir terkalahkan dengan situasi yang dadakan seperti ini.
Seketika beberapa penjaga mansion masuk, mengarahkan pistol kearah Justin sebagai bentuk perlindungan, melihat bos mereka yang diperlakukan seperti ini membuat mereka mengambil tindakan cepat. Justin berdecak, “Kau mengarahkan pistol pada ku?” ejek Justin.
Ken berbalik, menatap para penjaga dengan geram. “Bodoh! Apa yang kalian lakukan! Turunkan senjata kalian!” Bentak Ken dengan beberapa penekanan disetiap kalimatnya.
Rontaan Valerie mulai menghilang. Hatinya begitu sakit dan perih, ucapan Carl saat itu benar, bahkan melihat reaksi Justin yang seperti itu membuat Valerie yakin jika semua ini nyata. Ken tidak pernah mencintainya, semua ini hanya rekayasa dan dirinya hanyalah sebuah alat balas dendam. Perhatian dan cinta Ken semuanya tidak nyata. Hatinya seakan diremas dengan begitu kencang, Amber dan pengkhiatan Carl ternyata benar-benar ada.
“Sebaiknya kita pergi sekarang, sayang. Jangan terlalu-“ Perkataan Jessy terhenti saat Ken langsung memotongnya.
“Kalian tidak bisa membawa Valerie pergi. Dia istri ku!” geram Ken.
“Istri mu? Itu hanya status. Kau tidak mencintainya.” Bales Justin cepat.
“Aku mencintainya!”
“Kapan kau mencintainya? Kau hanya menargetkan putri ku sebagai tempat pelampiasan mu!.” Amarah Jessy mulai tersulut. Rasa tidak terima sebagia ibu yang mengetahui putrinya sendiri dijadikan hal semacam ini sungguh menyakitkan. Mendapatkan Valerie membutuhkan suatu perjuangan yang harus Jessy dan Justin hadapi saat dulu, membesarkan Valerie dengan penuh kasih sayang yang tulus selalu mereka lakukan. Dan kini, betapa menyakitkannya bagi Jessy, Ken hanya berniat buruk pada Valerie yang tidak memiliki salah apapun.
“Mengapa diam? Yang istri ku katakana benar bukan?” ejak Justin.
“Aku tidak perlu apa pun, aku hanya ingin kau menandatangani surat perceraian yang akan aku kirimkan kepada mu.” Jawab Justin. Mereka mulai pergi, berjalan keluar dari mansion megah itu.
“Valerie! Dengarkan aku. Ini semua tidak benar.” Mohon Ken, “Aku akan membuktikan apapun agar kalian semua percaya jika aku mencintai Valerie!”
Justin menghentikan langkahnya, menatap Ken yang terus mengikuti mereka. “Kau tidak perlu membuktikan apapun. Bagaimana pun kau anak dari sahabat ku. Dan aku hanya meminta kau tidak perlu menemui Valerie kembali.”
Valerie dengan perlahan menengokan kepalanya, menatap Ken yang tampak benar-benar hancur. Membuat perasaan nya kembali beradu dengan pilihan yang sulit. Apa Ken benar-benar mencintainya? Atau ini hanya acting yang dilakukan Ken agar semua orang percaya?. Sorot matanya menatap tepat dimanik mata Valerie, sorot mata yang memohon kembali dan memohon agar ia diberi kepercayaan yang Valerie tangkap. Ken tulus mengatakan semua itu!.
Dengan tekat bulat, Valerie memberontak dengan keras disaat kedua orang itu mulai lengah. “Valerie!” bentak Jessy saat melihat tingkah Valerie yang tiba-tiba.
“Aku bahagia bersama Ken, aku yakin dia mencintai ku!” protes Valerie.
“Jangan bodoh Valerie! Kau bahkan mau dibawa makan malam bersama nya keacara pertemuan keluarga Siena. Kau tidak merasa dibodohi oleh mereka?” Valerie terdiam, ia pun sedikit merasakan tingkah aneh keduanya.
“Aku dan Siena hanya teman biasa. Wanita yang aku cintai hanya kau, Valerie!.”