The Perfect Match

The Perfect Match
Memeriksa



Mereka sudah sampai di Los Angeles pukul depalan malam lewat tiga puluh menit. Para pelayan mansion menunduk sopan saat keduanya berjalan melewati. Keduanya berjalan menaiki anak tangga yang menuju kamar utama. Suasana di tempat mereka berbulan madu masih terasa, membuat Valerie harus membaur kembali dengan kamar ini.


Valerie menoleh saat Ken memeluknya dari belakang, menaruh dagu pria itu diatas Valerie. “Aku harus memeriksa pekerjaan ku sebentar, beristirahatlah.” Ujar Ken sambil mengecup pelan bahu Valerie.


“Pekerjaan? Apa tidak bisa besok pagi saja?” Tanya Valerie sambil berbalik menatap Ken.


“Besok aku kembali ke kantor, ada beberapa yang harus aku lihat dan persiapkan.” Valerie tersenyum hambara dan menghembuskan nafasnya. Baru saja mereka kembali dan Ken sudah mulai sibuk dengan pekerjaannya. Ken tertawa kecil, mendekatkan wajahnya dan mencium Valerie sekilas. “Jika aku tidak bekerja, aku tidak bisa memberi mu makan.” Valerie yang mendengar itu hanya memutarkan bola matanya malas ‘Kata-kata penghibur’.


“Jangan terlalu malam dan jangan paksakan tubuh mu untuk bekerja terus.” Pesan Valerie pada akhirnya. Ken mengangguk dan mulai berbalik pelan, berjalan kearah pintu kamar dan menutup pintu dengan perlahan.


Senyum Valerie luntur bertepatan saat pintu kamar sudah tertutup, ia meregangkan sedikit tubuhnya. Sepertinya mandi sebelum tidur lebih membuatnya akan tertidur nyenyak.


-


Ken menuruni setiap anak tangga dengan cepat, berjalan menuju ruangan kerja. Sesampainya didalam ia membuka laptop, menyalakannya dan berjalan pelan pada sebuah mesin pembuat kopi yang akan menemani malamnya.


Kumpulan asap kopi yang mengepul diatas cangkir dengan aroma khas membuat tubuh Ken sidikit relax. Ia kembali ke meja kerjanya, membuka email dan melihat laporan selama satu minggu ia berbulan madu. “Kita lihat kinerja Ethan selama aku pergi.” Gumam Ken pelan, semuanya berjalan lancar, statistik yang stabil dan hanya ada beberapa keluhan kecil dari asistennya yang ia suruh untuk mengawasi Ethan. Pria itu belajar dengan lambat, namun sangat mudah diatur.


Tiba-tiba, Ken menekan menu pencarian dan mengetik nama Valerie dan dirinya. Ken tersenyum miring saat berita itu berjajar rapi, berita wajar yang menerbitkan acar pernikahan mereka, dan berita-berita sampah yang menghubungkan dirinya dengan Carl sudah tidak ada, hanya menyuruh seseorang untuk membereskannya dan semua berita sampah itu menghilang. Ken sendiri sebenarnya tidak terlalu memperdulikan, hanya saja ia tidak ingin Valerie terlalu memikirkan itu.


Sebuah artikel terkait membuat Ken penasaran, ia melihatnya dan foto yang dilampirkan cukup mengejutkan. Sebuah hasil foto amatir yang menunjukan Carl sedang bersama seorang wanita disebuah gang sempit. Wajah wanita itu tak terlihat, hanya bagian belakang mengenakan kemeja sederhana.


“Sedang mengejar wanita lain rupanya.” Gumam Ken dengan nada mengejek. Ia kembali masuk kedalam emailnya, memeriksa semua tingkat penjualan produk yang sudah dibuat iklan.


Ken menyesap kopinya perlahan, otak cerdasnya dengan cepat menyimpulkan beberapa produk yang laku dipasaran. Tanpa mengingat waktu, Ken menatap jam dinding, sudah hampir tengah malam dan pekerjaaannya pun sepertinya sudah cukup. Tidak ada masalah selama ia berbulan madu.


Ken keluar dari ruang kerja, keadaan mansion begitu hening dan sepi, sedikit berlari menaiki tangga dan masuk kedalam kamar dengan pelan. Senyum Ken lagi-lagi mengembang walau hanya melihat Valerie tertidur lelap, wajah cantik itu begitu damai dan tak membuat bosan saat memandangi.


___


🐁 Instagram: Dheanvta


jangan lupa kasih bunga untuk author 🤭