The Perfect Match

The Perfect Match
Pikiran



Valerie seakan menunggu kesadaran pulih sepenuhnya, wajahnya yang terasa panas semakin panas dengan perkataan Ken yang begitu merendahkannya. Padahal tanpa sadar, mereka sama-sama memiliki mulut tajam dan bisa merendahkan siapa saja. “Kau benar-benar kurang ajar! Apa ini yang selalu kau lakukan? Menyerang dan merendahkan wanita?!”


“Menyerang? Astaga Valerie, tadi itu bukan menyerang atau merendahkan, aku tidak memaksa sama sekali. Jika kau menolak dan aku tetap melakukan hal itu pada mu kau bisa mengatakan itu, namun untuk saling kemauan dari dua pihak seperti tadi tidak seharusnya ada yang merasa terbebani. Ingat, kau membalasnya dan membiarkan ku, jangan melebih-lebihkan.” Jawab Ken panjang dengan santai, ia seakan menjelaskan pada seorang anak kecil yang harus diberitahu.


Valerie menggelengkan kepalanya dan kembali hendak protes, namun Ken terlebih dahulu memotong. “Jika kau terus membahasnya jangan salahkan aku jika aku memaksa mu menunjukan letak kamar mu dan….”


“Cukup! Hentikan ucapan mu yang menjijikan itu!” seketika wajah Valerie semakin memerah, ia tak tahan lagi berada di dalam mobil ini. Dengan cepat Valerie keluar dan menutup pintu mobil dengan kencang. Ia berlari masuk kedalam ruangan kaca sambil menekan tombol lift agar terbuka cepat. Menenangkan jantungnya yang hampir lepas dan menarik nafas dalam-dalam. Ken benar-bener diluar batas kemampuan Valerie dalam mengontrol emosinya. Ia mampu berdebar dengan mudahnya didekat pria itu. Padahal sudah beberapa tahun yang lalu ia mencoba melupakan Ken, namun hanya sekali tatapan perasaannya terasa kembali dan ia mulai berperang dengan hatinya sendiri, mencoba tidak terperangkap kembali dengan pesona Kenrich.


Saat lift terbuka, ia segera berhambur kedalam lift tersebut, Valerie menggelengkan kepalanya, mencoba melupakan kejadian tadi dan menganggap semuanya seperti biasa. Ia harus segera merapikan bajunya kerena besok pagi kedua orangtuanya akan datang dan memaksanya untuk tidur bersama dirumah sang kakek. Setidaknya ia harus bersifat penurut saat orangtuanya ada disini, jika melawan atau membuat masalah sedikit saja, sudah pasti mereka akan membawa Valerie pulang ke Kanada.


-


Sudah beberapa bulan ini ia memang jauh dari wanita, jauh dari kehangatan yang mereka berikan. Siena, wanita itu yang menemaninya beberapa bulan ini, namun jangan menyalah artikan, menemani yang dimaksud adalah dalam hal bisnis. Mereka adalah teman saat Siena berkuliah di Kanada, namun untuk saat ini wanita itu lebih sering menghabiskan waktunya di Inggris. Semenjak bersama Siena, ia menjadi bosan melakukan One night stand bersama wanita lain, ternyata masih ada wanita setia seperti Siena, walau pun wanita itu menjalin hubungan dengan karyawannya sendiri dan menyembunyikan hal itu pada sang ayah, namun Ken kagum dengan kegigihan dan kesetian Siena, tidak tertarik dengan sosok dirinya yang sempurna bagi kebanyakan wanita. Membuat Ken sedikit berharap menemuni wanita langka seperti itu, rasa benci terhadap masalalu membuat Ken tidak berani mengambil resiko dan mendapatkan ending menyedihkan seperti dulu. Hingga kabar kedatangan Valerie membuat Ken semangat menjalankan rencana yang sudah ia bangun. Awal pertemuan ia melecehkan wanita itu tanpa perasaan apa-apa. Namun, mala petaka mulai hadir. Disetiap sentuhan tangannya di tubuh Valerie, rasa emosi, gairah dan desakan bersatu, menciptakan desiran halus didada yang sudah lama ini menghilang, perasaan pada Amber kini hadir untuk Valerie, itu tidak baik dan akan menghancurkan rencananya.


---


Guys maaf ya kalo layout nya agak berantakan, aku baru sadar kalo ngetiknya dilaptop jadi banyak enter gitu 🤧