
Ken sedikit menggeram, jika saja dihadapannya kini bukan ayah dari istrinya, sudah pasti ia tidak akan menjawab dan bersikap ramah.
“Kau sepertinya sudah tahu maksud kedatangan ku kemari, Dad.” Sahut Ken dengan senyum yang bersahabat, duduk dihadapan Justin. “Aku akan mengambil Valerie kembali.”
“Oh. Apakah urusan mu di New York sudah selesai? Kau akan menelantarkan anak ku jika masalah pekerjaan mu belum selesai.” Jawab Justin santai. Ken mengerutkan keningnya, Justin tahu masalah perusahaan di New York?, namun mengapa ia mempersulit semua yang Ken lakukan. Bahkan saat ia mengatakan pada Justin akan mengunjunginya ke Kanada, mertuanya ini hanya menjawab ‘Nah, berjuang yang aku inginkan adalah kau sendiri yang mengantarkan setiap hadiah, bukan asisten mu.’
Ken menarik nafasnya pelan, ia kira Justin tidak mengetahuinya dan menganggap Ken seakan berleha-leha di Los Angeles. “Aku akan membawa Valerie kemana pun aku pergi, dan sebisa mungkin aku akan membagi waktu yang adil untuk istri ku.” Jawab Ken dengan nada tenang.
Tampak wajah Justin mengangguk pelan, ia mengetuk jarinya pada meja. “Begini Ken, Valerie adalah anak ku satu-satunya, aku hanya ingin yang terbaik untuknya, bisa kau berjanji-“
“Aku berjanji akan menjaganya dengan baik, dan aku juga berjanji akan membuat Valerie bahagia. Aku menempatkan kebahagiaan Valerie diatas kebahagiaan ku sendiri.” Potong Ken dengan cepat. Namun Justin tampak berdecak.
“Tidak baik memotong ucapan orangtua! Tapi jawaban mu tepat, aku memegang janji mu.” Ujar Justin.
“Ya, pastikan akan menepati janji ku.” Jawab Ken cepat. Keduanya terdiam, tidak akan percakapan lagi diantara mereka, Ken mengerutkan keningnya samar. Apakah Ken sudah bisa langsung kerumah mereka dan membawa Valerie kembali?. Justin tampak mengeluarkan ponselnya dan mengetik sesuatu, bahkan ia tampak nyaman saling membalas pesan, membuat Ken seakan hanyalah patung pajangan dihadapannya.
“Tidak.” jawab Justin. Ken mengeraskan rahangnya, ini bukan lah lelucon yang lucu, rumah tangganya tidak bisa terus seperti ini, Ken bahkan berjanji pada dirinya jika ia sudah berhasil membawa Valerie kembali, kedua orangtua mereka tidak bisa melakukan hal seperti ini lagi, ia tidak ingin ada campur tangan orangtua dalam masalahnya. “Kau tidak bisa langsung membawanya, aku sudah meminta istri ku untuk menyiapkan makan malam untuk menyambut mu. Setidaknya malam ini adalah malam terakhir Valerie disini, dan besok pagi kau boleh membawa Valerie pergi setelah perpisahan dengan Laire.” Jawab Justin santai. Membuat rahang Ken yang mengeras itu melemah, hatinya bahagia dan lega. Namun kebingungan sedikit terlihat diwajah Ken.
“Laire?” Tanya bingung.
“Kau tidak mengenalnya?” Ken menggelengkan kepalanya.
“Laire adalah kuda yang kau berikan untuk Valerie. Bagaimana bisa kau tidak mengetahui itu?”
Ken menarik nafasnya pelan, menahan amarahnya dengan sabar, kekesalah yang seakan di uji dengan sengaja oleh Justin. “Jangankan untuk menanyakan nama kuda, menanyakan kabar Valerie saja aku begitu kesulitan.” Sahut Ken.
“Ah, sepertinya aku lupa memutuskan pemblokirannya.” Jawab Justin santai, ia membuka laptopnya dan mengacuhkan Kenrich yang kebingungan. “Coba cek, aku sudah membuka pemblokiran kalian.”
“A-apa? Jadi bukan Valerie yang menghindari ku?” pekik Ken terkejut. Dan benar saja, ia sudah dapat mengirim pesan pada Valerie.