
“Kau bisa berkuda?” Tanya Valerie sidikit was-was. “Aku baru mengetahui kau hobi berkuda.”
Ken memegang tali dengan begitu erat, menjalankan kuda itu dengan perlahan dan mulai memasuki area hutan. “Ini memang bukan hobi ku, lebih tepatnya adalah tuntutan ayah ku yang mewajibkan aku untuk bisa berkuda.”
“Benarkah? Apa itu artinya Carl juga bisa berkuda?” baru selesai ucapan itu dilontarkan, Ken menghentakkan tali itu dengan kencang, membuat sang kuda memekik kencang dan mulai berlari.
“Aaaaaaaaaaa!” Teriak Valerie panik, beberapa pohon mereka lewati dengan selamat, laju kuda semakin berlari kencang. “Pelan-pelan saja!”
Ken tersenyum miring dan tetap melanjutkan aksinya, memberikan sedikit pelajaran agar Valerie tak membahas pria lain dihadapannya. Namun melihat kepanikan Valerie yang tampak mengkhawatirkan, membuat Ken dengan perlahan memelankan kembali laju kuda. “Tenanglah, kau bersama ahlinya.” Ujar Ken dengan sedikit tawa renyah diakhir kata.
“Itu tidak lucu!” protes Valerie.
“Aku tidak sedang melucu, sayang. Kau ingin belajar berkuda?” tawar Ken, tanpa rasa bersalah sedikit pun.
“Tidak, aku tidak akan bisa, kau menakuti ku. Bagimana jika kita menabrak?!”
Ken mengangkat alisnya dengan kerutan halus dikeningnya. “Jika kita menabrak kita akan terjatuh.” Jawabnya santai.
“Jangan bercanda Ken, kita sedang berbulan madu, bukan sedang berlomba kuda.” Ken tertawa kecil, marah Valerie terasa menjadi hiburan tersendiri baginya.
Ken mendekatkan wajahnya dibelakang kepala Valerie “Jika kau membahas pria lain dihadapan ku, aku akan menunjukan aksi yang lebih dari itu.” Bisik Ken. Valerie diam seketika, namun gelak tawa menyusul setelahnya.
“Astaga, kau cemburu pada adik mu?” Valerie tertawa kecil, rasanya begitu menggelitik saat mengetahui hal itu. Rasa bahagia entah mengapa menelusup pada hatinya.
“Tidak. Aku tidak siap terjatuh dari kuda.” Jelas Valerie.
“Tenang saja, aku akan memastikan hal itu tidak akan terjadi.” Bujuk Ken, namun lagi-lagi Valerie menggelengkan kepalanya.
“Aku tidak ingin memiliki tauma terhadap kuda, lebih baik kita berjalan-jalan pelan seperti ini sambil berbincang.”
“Kau melewati kesempatan emas.” Gumam Ken, tak ada bujukan dan protesan lagi dari keduanya. Hanya gerakan santai dari kuda yang mereka tumpaki dan beberapa percakan ringan yang menemani mereka dari sepinya alam bebas ini.
Sekitar tiga jam mereka berkeliling dan menghirup udara segar, pemandangan indah dengan aliran sungai kecil yang jernih menemani perjalanan berkuda mereka. Hingga hampir tiba makan siang membuat mereka melepaskan peralatan berkuda mereka. Berjalan kembali kedalam penginapan, memesan makan siang dan memilih tempat duduk di lantai atas, menatap keindangan danau yang lebih jelas dari atas sini.
Deringan ponsel Ken berbunyi, membuat Ken dengan cepat melihat siapa yang menghubunginya. Nama Siena muncul, membuat Ken melirik sekilas kearah Valerie yang terlebih dahulu melihat nama itu. “Angkatlah disini.”
“Tidak, aku tidak waktu kita terganggu.” Tolak Ken, ia mematikan layar ponselnya, membuat suara dari panggilan itu menghilang. Namun lagi-lagi panggilan Siena muncul dilayarnya.
“Angkat saja, aku pikir ada sesuatu yang penting.”
Dengan sedikit enggan Ken menerima panggilan itu, “Hallo, Siena. Ada apa?” sapa Ken langsung pada intinya.
“Oh, hai. Kalian sedang berlibur?”
“Ya. Apa ada sesuatu yang penting?” Tanya Ken kembali.