
Mobil Ken dan Valerie hendak memasuki gerbang, namun penjaganya menghampiri Ken terlebih dahulu. “Maaf tuan, didalam sana sudah ada keluarga nyonya yang sedang menunggu.” Ujarnya dengan suara lantang. Ken dan Valerie seketika saling menatap, tanpa pesan dan pemberitahuan terlebih dahulu keluarga Valerie mengunjungi kediaman mereka, tidak biasanya.
Mobil mereka masuk dan terpakir didepan pintu, Ken dan Valerie dengan cepat turun dari mobil dan menemukan dua orang berpakaian rapi seperti seorang pengawal berdiri disamping pintu masuk. “Apa mom memberitahu mu mereka akan kemari?” Tanya Ken, Valerie menggelengkan kepalanya.
“Mom tidak mengirim ku pesan apa pun.” Jawab Valerie.
Mereka masuk dengan bergandengan tangan, mencoba untuk berpikir positif dan tidak berpikir hal yang tidak—tidak.
Sesampainya didalam, kedua orangtua Valerie dan kakeknya sudah duduk disofa besar yang ada ditengah ruangan. Valerie dengan cepat menghamburkan pelukan pada mereka dan Ken berdiri dengan raut wajah yang ramah. “Mom, Dad, Grandfa, kalian kemari?” Tanya Valerie.
“Ya sayang, kami merindukan mu.” Jawab Jessy.
“Kalian bisa menghubungi ku dan kami akan kerumah kakek malam ini. Aku menjadi tidak enak jika kalian yang kemari, aku tidak menyiapkan sambutan apa-apa untuk kalian.” Ujar Ken dengan sopan.
Justin tersenyum dan menghampiri Ken, “Oh, tidak perlu, aku hanya ingin bertemu dengan menantu tersayang ku, ini terakhir kami bertemu dengan mu, besok kita akan kembali ke Kanada.” Ken mengangguk pelan, ia sudah tahu dengan rencana kepulangan Jessy dan Justin, membuat raut wajah Ken masih terlihat santai yang ramah. “Ah, aku lupa menanyakan sesuatu pada kalian. Apa kalian tahu jika Carl akan menikah?”
Raut wajah Ken dan Valerie menampilkan wajah yang sama, terkejut. “Apa Dad serius? Aku tidak mengetahuinya.” Ujar Valerie cepat.
“A-Amber teman ku.” Jawab Ken. Genggaman tangannya mulai mengeras. Ia berpikir hal buruk sedang terjadi.
“Teman? Mungkin lebih tepatnya teman hidup mu saat dulu, dan Carl merebutnya dari mu?.” Ken menelan air liurnya. Bagaikan mimpi buruk yang terjadi. “Kau terkejut aku mengetahui ini? Apa tebakan ku benar jika kau menaruh dendam pada adik mu?”
“Kami sudah tahu sejak kecil Valerie dan Carl selalu bersama, dan saat melihat mu mendekatii Valerie kami, bukankah sesuatu yang cukup mengejutkan bukan?” kini Jessy yang bersuara.
“Mom, Dad. Ada apa ini?” Tanya Valerie yang tengah dilanda kebingungan.
Justin melirik Valerie, ia tersenyum pada purtinya yang cantik itu. “Besok kau kembali ke Kanada.”
“Tidak.” pekik Ken dengan cepat. “Aku mencintai Valerie dengan tulus, tidak ada dendam terhadap Carl.”
‘Bhuk’ Justin melayangkan satu pukulan tepat disudut bibir Ken, membuat Valerie menjerit kencang dan dua orang yang ada diluar tadi masuk memegangi tangan Valerie, wanita itu meronta dan mengeluarkan protesan. Darah segar keluar dari sudut bibir Ken. “Ini untuk salam perpisahan ku karena kekurang ajaran mu menjadikan putri ku sebagai alat balas dendam mu.”