The Perfect Match

The Perfect Match
Membicarakan Justin



Saat masa-masa sulitnya itu, Richard datang mengulurkan tangannya, membantu Alex dengan menyuntikkan dana yang begitu besar. Alex sendiri tak percaya, kekayaannya yang begitu banyak bisa sampai berada diujung jurang seperti ini. Beberapa tahun mereka berhasil lewati, perusahaan Alex mulai kembali normal walau harus mengorbankan beberapa anak perusahaan yang dijual.


Semenjak itu, pusat perusahaan Franz Group berpindah ke Kanada. Dipimpin langsung oleh Justin, sedangkan Alex mengurus perusahaan yang ada di LA karena umur dan kesehatan yang tidak memungkinkan kembali untuk berfikir keras.


Justin dan Jessy setahun sekali selalu mengunjungi Alex, sedangkan Valerie selalu menemani Anna dan Jeremy, terkadang pula Alex yang mengunjungi mereka ke Kanada. Saat Alex merindukan cucu kesayangannya.


"Aku dan Carl memiliki hubungan yang baik." Sahut Valerie pada akhirnya. Alex tersenyum lembut. Seorang pelayan datang membuka tudung saji berbahan aluminium itu.


"Kau tidak akan tidur saja dirumah ini?" Tanya Alex. Valerie menggulum bibirnya, ia bingung mengatakannya.


"Aku... Aku kadang pulang bekerja malam hari. Aku tidak enak jika harus mengganggu mu dengan suara pintu yang terbuka di malam hari."


Terlihat Alex menggelengkan kepalanya sambil tersenyum geli.


"Itu bukan alasan sesungguhnya. Kau itu sangat mirip seperti Daddy mu, ingin bebas dan tidak betah bersama orangtua."


"Tidak begitu grandfa..." Protes Valerie.


"Aku mengerti. Kau masih muda, lakukanlah hal yang kau mau. Daddy mu saja baru menyayangi aku saat mommy mu meninggalkan nya."


"Mom pernah meninggalkan Daddy?" Tanya Valerie terkejut. Alex mengangguk.


"Ya. Daddy memang tengil." Komentar Valerie. Mereka tertawa kecil mengingat Justin. Valerie menggelengkan kepalanya pelan, pikiran mengingat moment kemarin, saat Valerie sudah sampai di LA dan menghubungi kedua orangtuanya.


'Hallo sayang, kau sudah sampai?' suara Jessy terdengar sangat antusias. Namun, baru mereka mengobrol beberapa menit, suara ayahnya yang mengganggu terdengar.


'Sayang, istirahatlah, kau pasti lelah sampai sana. Dad dan Mom harus bekerja keras membuat adik baru untuk mu. Kami menyayangi mu.' terdengar suara protesan Jessy sebelum panggilan itu terputus. Membuat Valerie menggerutu dengan sikap Justin, sangat tidak lucu bukan diumurnya yang sudah 24 tahun ia mendapat adik baru?!


"Ah ya. Dan satu lagi. Kau ingat saat kau ingin menjadi model, aku begitu mensuport mu, sedangkan Justin menginginkan mu belajar mengenai perusahaan agar bisa meneruskan nya pada mu. Saat itu aku ingin tertawa, ini gambaran saat aku membujuk Justin saat muda dulu untuk memegang perusahaan, tapi anak itu malah kabur-kaburan dan membuat ulah." Valerie tertawa, Jessy dan Justin pernah menceritakan masa-masa itu.


"Oh ya Grandfa. Hari minggu nanti aku akan mengosongkan jadwal ku. Kita akan berjalan-jalan dan menghabiskan waktu bersama. Apa kau senang?" Alex menganggukan kepalanya dengan antusias.


"Aku sangat senang dan akan menunggu hari itu." Jawab Alex semangat.


"Ayo makan. Kau pasti belum makan siang."


"Terimakasih Grandfa. Aku menyiapkan perut kosong karena aku tahu kau pasti akan menyiapkan makanan untuk cucu mu yang cantik ini." ujar Valerie dengan tawa kecil. Inilah sikapnya pada keluarga, dan perlakuan mereka yang begitu menyayangi Valerie, membuat Valerie terlalu manja dan meminta apapun yang ia inginkan.


___


Guys kalo masuk 15 besar ranking hadiah besok author up 5 bab😘