The Perfect Match

The Perfect Match
Mengawasi



Keesokan paginya, Ken membuka mata dengan perlahan, sinar matahari masuk tanpa penghalang gorden, siluet seorang wanita membuat Ken langsung sakit kepala, ia mengingat kebodohannya yang menggagalkan rencananya sendiri.


“Aku pulang sendiri?” Tanya Ken tiba-tiba. Ia melihat Valerie menghampiri dengan segelas air dan memberikan kepadanya.


“Teman-teman mu yang mengantarkan mu pulang. Minumlah.” Ken menghabiskan air putih yang ada digelas. Memegang bagian kening yang terasa pening dan perutnya yang mual. “Kepala mu sakit?” Tanya Valerie khawatir. Ken mengangguk beberapa kali dan melihat Valerie langsung keluar dari kamar.


Tak berapa lama, Valerie datang membawakan semangkuk sup dan duduk ditempatnya tadi. “Biar aku suapi, aku sudah membuat kan sup pereda mual ini dari pagi tadi.” Ken membuka mulutnya saat suapan pertama Valerie berikan. Ken memperhatikan penampilannya, sungguh berantakan, kancing kemeja yang terbuka dan celana panjang yang masih ia kenakan.


“Kau tidak menggantikan pakaian ku?” Tanya Ken pelan, sambil menerima suapa yang kedua.


“Badan mu sangat berat, melepaskan jas mu saja membutuhkan tenaga yang besar.” Ejek Valerie gemas, Ken benar-benar tidak merasa bersalah dan malah mempertanyakan pakaian gantinya.


“Pelayan dirumah ini banyak, mengapa harus bersusah payah seorang diri, sayang?”


Bibir Valerie mengerucut, “Haruskah aku membangunkan mereka malam-malam hanya untuk menggantikan mu pakaian?” Protesnya. “Mengapa semalam sampai mabuk? Kau bilang hanya sebentar?.


“Aku hanya ingin minum sedikit semalam, hanya saja aku tidak bisa berhenti.”


“Itu bukan pembelaan yang bagus Ken.”


“Aku tidak membela diri, sayang. Aku hanya berkata jujur.”


Ken tersenyum kecil dan memaksakan diri untuk berdiri. “Kau tidak akan membantu ku mandi?” seketika bola mata Valerie membola.


Setelah pertikaian hangat itu, Ken akhirnya masuk kedalam kamar mandi, sedangkan Valerie memilihkan pakaian santai yang cocok untuk hari santai mereka. Pilihannya jatuh pada kaos polos berwarna gelap, membayangkan tubuh berotot itu memakai pakaian yang pas akan membuat tingkat ketampanan Ken samakin bertambah.


-


Washington,


Carl memakai masker dan topi, penyamarannya tidak boleh tercium oleh siapapun. Tiga hari yang lalu ia meminta dengan paksa alamat Amber pada seorang kru di klub malam, ia mengatakan ada barang yang di ambil oleh Amber, membuat mereka tidak ingin mengganti rugi dan pada akhirnya memberikan identitas asli bernama Amanda. Sebuah biodata yang menjelaskan tentang seorang wanita bernama Amanda dengan tanda pengenal tanpa warna dan foto Amber yang tercantum disana. Mencari jejak Amber tentunya sedikit sulit, namun dengan kekuatan uang dan aksesnya ia dapat menemukan tempat tinggal Amber dalam satu hari.


Keberanian Carl melenyap begitu saja, saat ia hanya bisa membuntuti Amber dari jauh. Carl penasaran dengan kehidupan Amber yang begitu tertutup, padahal saat ia mencari tahu keadaan keluarga Amber masih baik-baik saja bahkan menambah usaha baru. Dan kemarin, dengan begitu terkejutnya Carl mengatahui Amber tinggal disebuah rumah kecil yang memasuki gang sempit dengan seorang wanita yang sudah dicap sebagai wanita malam oleh beberapa orang didaerah itu, dan kini, Carl akan kembali mengikuti Amber yang kabarnya bekerja sebagai karyawan kantor.


Beberapa pertanyaan menghampiri Carl, untuk apa Amber pergi dari Brazil? Jika ia memang memiliki pekerjaan untuk apa mengikuti acara lelang? Dan yang paling tidak habis fikir adalah Amber bekerja di kantor yang lumayan besar, untuk apa ia tinggal di gang sempit bersama seorang wanita yang dipandang rendah oleh orang sekitarnya?.


---