The Perfect Match

The Perfect Match
Rencana



Mobil Ken mulai melaju, membuat Valerie seketika berbalik dan hendak mengejarnya. “Ella!” teriak Valerie. Tangan Ken menahan pergelangan tangannya dengan erat. Ini bukan main-main lagi.


“Kau gila?! Sebenarnya apa mau mu hah?”


“Bukankah aku sudah bilang jika ada sesuatu yang ingin aku bicarakan?” Rahang Ken tampak mengeras, sulit sekali menaklukan Valerie. Ia tahu wanita ini goyah, namun dengan keras kepalanya ia menutupi kerapuhan hatinya.


“Lalu apa maksud mu menculik ku seperti ini? Apa yang akan kau lakukan pada Ella?”


“Valerie dengar, aku tidak menculik mu, ini tempat tinggal ku. Sudah aku katakan ada yang ingin aku bicarakan, hanya berdua, tidak ada Ella atau siapapun yang mengganggu kita. Jadi tenanglah, Ella pun hanya diajak berkeliling untuk memberi kita waktu.”


Valerie menepis tangan Ken. “Cepat katakana apa yang ingin kau katakan.” Ken mendengus, ia menarik tangan Valerie untuk masuk kedalam mansionnya. “Untuk apa kita kedalam?” Tanya Valerie was-was.


Ken menghentikan langkahnya dan berbalik, membuat Valerie sedikit meringis karena rasa tak nyaman. “Haruskan kita berbicara diluar?” Tanya Ken. “Mengapa kau sangat menyebalkan akhir-akhir ini Val!”


“Tidak bisa kah kau jangan menarik ku! Aku bisa berjalan sendiri.” Ken dengan cepat melepaskan tangannya. Ia berjalan terlebih dahulu dan memastikan Valerie mengikutinya.


Ken terlebih dahulu duduk disofa, membuat Valerie dengan ragu mengikuti Ken. “Cepat katakan apa yang kau inginkan?” Tanya Valerie. Ken menatap tajam kearah Valerie.


“Apa kau benar-benar menerima perjodohan itu?” Tanya Ken tiba-tiba. Valerie seketika terdiam, ia menatap Ken dengan tak percaya.


“Apa maksud pertanyaan mu?” Valerie seakan hendak mematung dan berdebar. Apakah ini yang ingin dibicarakan Ken?.


“Aku yakin kau mengerti dengan pertanyaan ku.”


“Lalu mengapa kau mengajukan pertanyaan yang menantang ku seperti kemarin? Dihadapan semua orang kau meminta ijin pada ku?” Tanya Ken semakin memojokan.


Kerutan dikening Valerie memudar, ia sendiri bingung dengan sikapnya yang seakan tak menerima perjodohan Ken semalam. “Aku… aku hanya meminta ijin, kau terlihat tidak menyukai ku.”


Ken tersenyum miring mendengar suara Valerie yang bergetar. “Jika aku tak menyukai mu bisa kah kau menjelaskan dua ciuman yang sudah aku berikan?” wajah Valerie memerah, ia sudah tidak mengerti dengan maksud Ken menanyakan ini semua. “Aku tertarik pada mu.”


Mata Valerie benar-benar tak bisa menatap kearah lain, ia terfokus pada Ken. “Kau… Kau hanya membalas semua perbuatan ku dulu yang menggoda mu bukan? Bisakah kita menghentikan ini, Ken?”


“Tidak, kau yang memulai nya dan menantang ku. Ah, sebenarnya bukan ini yang ingin aku katakan.” Ken menghela nafasnya, ia membuka ponsel dan duduk disebelah Valerie. Foto Kenrich yang tengah berpakaian rapi dengan senyum yang gembira “Ini tiga tahun yang lalu, saat sebelum aku menemukan kekasih ku berselingkuh dengan oranglain.” Tampak jelas wajah terkejut Valerie. Rasa iba dan tak menyangka terlihat jelas dalam manik mata itu. “Semenjak itu, aku meningat diri mu, kau satu-satunya wanita yang terus mengejar ku.” Valerie terdiam, jantungnya berdebar.


“Apa…” Ken tak membiarkan Valerie berbicara, ia melanjutkan bualan kosongnya. Cara yang paling efektif untuk bisa menarik Valerie keatas ranjangnya, menuju detik-detik kedatangan Carl.


“Aku menunggu mu kemari dan berharap kau masih menjadi Valerie dulu, yang selalu mendambakan ku, mencintaiku bahkan aku berharap bisa mendapatkan wanita yang setia pada sosok diri mu.” Valerie melunak, apa yang ia dengar adalah sungguh?.


“Kau tak pernah menunjukan jika kau tertarik pada ku.” Tolak Valerie saat Ken semakin mendekatkan wajahnya.


“Aku mendekati mu, namun kau dan Carl semakin dekat, membuat ku ingin menjauh dan mencari wanita lain.” Valerie ingin membantah, namun lidahnya terasa kelu. “Tapi saat aku mengingat bagaimana tubuh mu merespon ku, aku menjadi yakin kau masih mencintai ku, Valerie. Cara mu membalas ciuman ku dan tubuh mu yang selalu gelisah didekat ku, membuat aku sidikit berharap kau masih manaruh hati, masih memiliki ruang untuk ku. Tapi malam tadi, dengan mudahnya aku kau mengacaukan ku, menerima perjodohan itu dengan mudahnya.”


“Lalu apa bedanya dengan mu? Kau menerimanya juga bukan?” Valerie mencoba kuat, Ken seorang Casanova, ia pintar dengan mulut manisnya.