The Perfect Match

The Perfect Match
Kebahagiaan Ken dan Valerie



Justin tersenyum senang saat Richard tidak bisa mencium Gerald, pria itu terlalu sombong saat menjadi kakek. “Lihat baik-baik anak ku Valerie, produk ku pun tidak gagal.” Balasnya sombong.


“Dad,” gumam Ken dan Valerie bersamaan. Mereka tidak mengerti bagaimana bisa dalam suasana bahagia seperti ini mereka malah saling menyombongkan keturunan dengan kata produk?.


Alex, Agatha, Anna dan Jeremy pun hanya tersenyum menggelengkan kepalanya melihat tingkah anak menantu mereka yang tidak pernah akur, mereka tampak seperti bersaing namun tetap bersahabat sedari dulu. Benar-benar hari yang bahagia dan semuanya pun bahagia.


-


Beberapa hari kemudian berlalu, kini Valerie dan Ken sudah berada dirumah mereka, suara tangisan bayi yang begitu kencang membuat Ken segera berlari menuju ranjang bayi yang mungil. “Hai sayang, kau merindukan papa lagi?” bayi itu tampak menjadi tenang saat digendong oleh Ken, ia begitu sabar dan lembut. Sedangkan Valerie yang berbaring diatas ranjang mulai menjulurkan kakinya kebawah ranjang. “Tidak sayang, jangan mencoba berjalan sendiri, aku takut.” Ken dengan cepat membawa Gerald keatas ranjang, memberikannya pada Valerie.


“Sepertinya dia tidak mau tidur sendiri, ia lebih senang di gendong seperti ini.” Valerie berucap sangat pelan saat melihat mata Gerald yang mulai terpejam kembali.


“Ya, seperti diri mu, aku tidak bisa tidur tanpa ku bukan?” goda Ken dengan senyum yang begitu lebar.


“Kau yang tidak bisa tanpa ku sayang. Aku bisa, hanya saja tidak tega dengan mu.”


Ken menggulum senyumnya, mengapa susah sekali berkata jujur bagi seorang wanita. Namun dengan cepan Ken menaruh dagunya diatas bahu Valerie, menatap Gerald yang tertidur tenang. Jari-jari mungil itu tampak menggenggam erat jari telunjuk Ken. “Aku tidak akan pernah bisa tertidur tanpa kalian, terimakasih sudah hadir dan bertahan dengan cinta mu.”


Valerie menengokkan kepalanya pelan, tersenyum lembut dan menganggukan kepalanya. “Terimakasih juga sudah berjuang atas kelakuan ayah ku.” Kekeh Valerie.


“Itu bukan masalah besar bagi ku, kadang aku merasa lucu dengan semua ucapan tajam yang ia berikan,”


“Hallo mom? Kau sudah sampai?”


“Tidak, Ken. Kami disini tidak ada yang berangkat, Ada sesuatu-“


“Mom, ada apa?” wajah Ken berubah panik, saura Alicia tampak tergesa dan tidak beraturan. Valerie menatap Ken dengan sortotan mata bingung.


“Amber… Amber membawa Earl pergi, dan sekarang Carl sedang mencarinya. Oh Ken, aku tidak tahu apa permasalan mereka, keduanya tampak baik-baik saja”


“Mengapa bisa mom? Mungkin saja mereka sedang keluar sebentar.”


“Tidak Ken, Amber tidak pulang dari dua jam yang lalu. Bahkan dia meninggalkan kereta dorong Earl ditaman depan. Ken, M-mom takut, Carl mengendarai mobil dengan begitu kencang.”


“Tenang mom, Carl pasti mencari mereka, Aku dan Valerie akan kesana nanti.” Ujar Ken.


“Tidak usah, Valerie belum pulih, aku akan memberikan kabar jika Amber sudah pulang. Kalian didalam rumah saja.”


Valerie tahu sedang tidak ada yang beres, Ken tidak biasanya sepanik itu dan hatinya pun menjadi tidak tenang. Melihat Ken menyimpan ponselnya kembali membuat Valerie dengan cepat menyodorkan beberapa pertanyaan. “Amber pergi.”


“A-apa? Bukan kah Earl sudah dinyatakan sembuh dan mereka baik-baik saja?”