
Carl masuk kedalam rumah dengan raut wajah yang dingin. Ia sudah bertekad akan kembali tidur didalam apartemen nya, langkah kaki jenjang itu berjalan cepat tanpa berucap apapun pada Alicia dan Agatha.
"Carl, dari mana sayang?" tanya Alicia. Namun Carl tak menjawab, ia berjalan menaiki setiap anak tangga dengan cepat. Setelah masuk kedalam kamarnya, ia segera memasuki beberapa baju yang menurutnya penting.
Saat sudah merasa cukup, tanpa ingin berlama-lama ia segera keluar dengan koper yang ia bawa ditangannya, menuruni anak tangga dengan buru-buru.
Seketika Alicia menampilkan wajah bingung dan terkejut, ia segera menghampiri Carl yang sudah sampai di anak tangga terakhir. "Sayang, kau mau kemana?" tanya Alicia cepat. Namun Carl, bukan seperti Carl yang selama ini, ia begitu berbeda dan dingin.
"Cucu ku sayang, mengapa membawa koper mu?" tanya Agatha.
"Aku pikir keluarga ku sudah tidak menyayangi ku!." Alicia sedikit tersentak karena jawaban Carl yang begitu acuh dan pandangannya pun terarah pada pintu, enggan untuk menatap Alicia ataupun Agatha.
"Sayang, ada apa? kami semua menyayangi mu." Alicia mencoba menahan koper milik Carl, namun dengan cepat ia menepisnya.
"Kalian terlalu menyayangi kakak. Tidak memikirkan perasaan ku sama sekali." jawab Carl. Ia pun pergi menarik kopernya. Membuat Alicia mau tak mau harus mengejarnya, seperti ini memang sangat menyakit kan bagi Carl.
"Astaga." suara lemah milik Agatha sambil memegang jantungnya membuat Alicia menghentikan langkahnya, begitu pula Carl, ia menatap Agatha dengan panik, namun egonya begitu tinggi, ia tetap melanjutkan langkahnya.
Carl yang tampak di bujuk beberapa pelayan pun mengusirnya, membuat tidak ada satu orang pun yang berani menyentuh tubuh Carl. Ini bukan Carl yang biasa, ia benar-benar seperti orang lain yang begitu dingin.
"Minum lah, Ma." Alicia memberikan segelas air dan satu butir obat pemberian pelayannya yang tampak panik juga. Agatha memang memiliki penyakit jantung, membuatnya tidak bisa mendapatkan hal-hal mengejutkan.
Alicia menepuk bahu Agatha lembut, mencoba memberikan intruksi agar mengatur nafasnya. Tak lama, Agatha mulai tenang, pandangannya tampak lelah dan sedih. "Alicia, Carl sudah menyukai Valerie sejak dulu, aku rasa Carl kecewa dengan kita. Bujuk lah Valerie untuk bersama Carl."
"Tapi mama, yang Valerie cintai adalah Ken. Mereka saling mencintai, jika begitu Ken yang akan kecewa pada kita. Lagi pula Carl hanya belum menerima, lambat laun Carl pun akan menerima ini semua Ma." bujuk Alicia. Ia mengatahui cinta memang rumit, lebih baik mereka yang menyelesaikan dan mengurusi ini.
Agatha tampak sedih, ia memegang dada nya agar bernafas teratur. "Aku tidak bisa melihat cucu kesayangan ku berubah seperti itu. Dia tampak sedih dan kecewa. Aku tidak siap melihat Carl membenci ku." Alicia menghela nafasnya. Ini begitu rumit, Agatha lebih menyukai Carl yang penurut, namun Alicia sendiri adalah ibu dari keduanya, Carl dan Ken sama-sama ia sayangi, ia harus menjaga perasaan anaknya.
"Percaya pada ku Ma. Carl akan menerima nya, ia hanya sedang kecewa dan butuh waktu menyendiri. Lagi pula kita sudah mempersiapkan semua keperluan pernikahan Ken." hanya itu yang bisa Alicia ucapkan.
---