The Perfect Match

The Perfect Match
Makan siang



Ken menatap fokus pada gambar grafik dihadapannya, mendengar dengan baik apa saja yang dijelaskan oleh wanita didepan sana. Beberapa orang yang duduk di meja berbentuk ‘U’ sama fokusnya seperti Ken. Hampir dua jam Ken duduk dan melemparkan beberapa pertanyaan menjebak dan begitu rinci, setelah dirasa cukup dengan hasil rapat, Ken akhirnya menandatangani kontrak kerjasama tersebut.


Rapat selesai, Ken dengan sigap berdiri dan menjabat tangan seorang CEO yang umurnya jauh lebih tua dari Ken. “Aku sangat senang dengan berhasilnya kontrak ini Mr. Alvaron, semoga kerja sama ini sangat menguntungkan bagi kita semua.” Ujarnya dengan sedikit tawa renyah.


Ken tersenyum dengan begitu karisma, “Aku yakin kerjasama ini akan sangat sukses dan memejukan perusahaan kita Mr.Fox. Kemarin aku sudah membaca data dan melihat keadaan lapangan, semuanya sudah berjalan dengan SOP yang sesuai. Aku harap semuanya tetap seperti ini.” jawab Ken.


“Terimakasih atas kepercayaan mu pada perusahaan ini. Aku yakin semua akan tetap seperti ini, tidak akan ada berita pengkhianat ataupun penggelapan dana yang terdengar ke telinga mu, aku pastikan itu.” Ken tertawa senang mendengar itu, pria dihadapannya begitu pandai berbicara dan membujuk. Namun yang membuat Ken lebih bahagia, saat pria ini begitu mengetahui apa hal yang paling dibenci Ken.


-


Ken duduk dihadapan Siena, wanita itu baru saja sampai di London dan kini ada direstoran yang sama untuk makan siang. “Ken, aku kira kau akan beberapa hari lagi disini.”


“Kau tidak bertanya.” Sahut Ken dengan santai, ia mulai mengambil garpu untuk menyantap pasta nya.


“Terimakasih.” Ujar Siena saat pelayan menaruh salad pesanannya. Siena menatap Ken dengan cemberut, lalu dengan gerakan malas ia menusuk potongan salad buah yang ada dipiringnya, enggan untuk memakannya. “Aku meminta ijin pada papa kesini karena ada kau.” Ken menaikan alisnya, tidak mengerti dengan apa yang dibicarakan Siena.


“Lalu?”


Siena menghembuskan nafasnya kesal. “Aku sudah tidak kuat dengan hubungan diam-diam ini. Aku ingin mengenalkan Ethan pada seluruh dunia dan membuat para pria itu menjauhi ku!” geram Siena. “Apa kau benar-benar tidak akan membantu ku?”


Sekilas Siena tersenyum dan sorot matanya seakan memohon “Aku ingin Ethan bekerja diperusahaan mu. Berikan ia jabatan yang tinggi, oh jangan mempermasalahkan soal gaji, biar itu yang menjadi urusan ku. Aku hanya ingin papa merestui ku jika Ethan menjadi salah satu orang penting yang ada di perusahaan mu.”


“Sebentar. Posisi apa yang kau maksud?”


“General Manager.” Jawab Siena pasti.


“Apa?! Aku membutuhkan seorang GM yang cekatan dan cerdas, perusahaan ku tidak main-main dalam menyeleksi pekerja.”


“Ayolah Ken, bantu aku. Tempatkan saja Ethan dianak perusahaan mu. Namun jika ada pertemuan dengan papa ku, kau bawa Ethan dan puji dia dihadapan papa, aku mohon.” Siena benar-benar memohon dan berharap pada Ken.


“Mengapa tidak kau saja yang menaikan jabatannya di perusahaan mu?”


Siena menghela nafasnya, ia menggelengkan kepalanya lemah. “Hak dan keputusan masih ditangan papa, Ethan tidak pernah menonjol diantara karyawan lain, itu akan sulit dan sangat mencurigakan jika aku tiba-tiba menaikan jabatannya.”


Ken menaruh alat makannya, ia melipat kedua tangan sambil menaruh pelan punggung pada sandaran sofa. Memperhatikan wanita cantik dan anak satu-satunya dari seorang konglomerat inggris. “Dia tidak lebih dari seorang parasit, mengapa kau tidak mencari pria lain saja? Yang lebih tampan dan kaya begitu banyak, Siena.”