The Perfect Match

The Perfect Match
Berkuda Kembali



Valerie membuka pintu besar itu dengan pelan, sedangkan Ken membuntutinya dari belakang. Pandangannya ia layangkan pada penjuru kandang kuda, tampak begitu luas jika hanya diisi oleh satu kuda. Beberapa tumpukan jerami tersusun rapi di pinggiran dalam kandang.


“Kau yang mengeluarkannya sayang, aku tidak berani.” Ujar Valerie sambil berdiam lumayan jauh dari pagar pembatas kuda itu. Ken maju perlahan, kuda ini tampak begitu cantik dan bersih, benar-benar kuda yang sesuai dengan keinginannya.


“Siapa yang mengurusnya?” Tanya Ken, jika mendengar cerita Valerie, seluruh keluarga dirumah ini tidak ada yang bisa, hanya Shawn dan anak-anaknya yang bisa dan Valerie hanya melihat Laire saja sudah senang.


“Pengurus kebun. Ternyata dia pernah bekerja di peternakan dan pernah menguruh kuda milik bossnya.” Mendengar itu Ken mengangguk pelan, ia memegang tali panjang yang ada didekat kepala kuda tersebut. Kuda itu tampak tenang, tidak sedikitpun memberontak dan melanjutkan makannya dengan acuh.


Senyum Ken mulai mengembang, jarang sekali ada kuda yang begitu penurut dan tenang pada seseorang yang baru ia kenal. Dengan perlahan ia mengulurkan tangannya untuk membuka pintu pembatas yang hanya setinggi pinggangnya. “Ayo, Leire. Kita akan berkeliling.” Ken manarik pelan tali yang ada diwajah kuda itu, berjalan pelan dan menuntun kuda putih ke pintu luar kandang. “Kau naiklah terlebih dahulu. Sayang.” Ujar Ken saat mereka sudah berada diluar, halaman yang cukup luas untuk berkuda.


“Bagaimana caranya aku menaik? Aku tidak berani.” Tolak Valerie yang kini berada disamping Ken.


“Kau sudah lupa?”


“Ada. Jika mereka belajar dengan fokus, sekali juga akan terasa cukup.” Jawab Ken santai. Valerie mencibir, sedikit kesal dengan apa yang Ken lakukan, pria itu bukannya membantu malah berbicara seperti seorang guru yang tengah mendengar ucapan muridnya yang tengah berkeluh kesah. “Ayo sini, aku bantu.” Seketika Valerie mengembangkan senyumnya, ia berjalan dengan semangat dan menaiki kuda itu dengan hati-hati. Setelah memastikan Valerie duduk dengan nyaman diatas kuda, ia mulai menaiki kuda pada pinjakan kaki yang ada disamping tubuh kuda.


“Ayo kau coba kendalikan.” Ujar Ken sambil memberikan tali, namun Valerie tetap menggelengkan kepalanya, ia masih belum siap belajar mengendalikan kuda. Terlalu menakutkan dan tidak ingin merasakan jatuh dari atas kuda.


Mereka menunggangi kuda besar itu dengan santai, hanya berkeliling namun membuat hari mereka tenang dan senang. Ken sedikit menghentikan kuda saat Billy –anak Shawn- berlari menghampiri mereka, tampak terburu-buru dan membuat mereka sedikit panik.


“Hei, kalian! Boleh aku merekam kalian untuk story ku?” Tanya dengan senyum yang tampak memohon, “Banyak followers mu yang memfollow ku dan selalu menanyakan hubungan kalian.” Kini Billy tersenyum kaku karena belum mendapatkan jawaban apa pun dari kedua orang itu.


Tak lama, Ken mengangkat tangannya sedikit. “Silahkan saja, tapi kau harus mendapatkan hasil yang bagus.” Jawan Ken, membuat wajah Billy tersenyum senang, ia bisa membayangkan akan mendapatkan banyak followers dan viewer di Instagram miliknya.


“Hasil rekaman ku tidak pernah buruk, akan aku edit dan ditambahkan sedikit music romantic yang pas untuk kalian.” Ujarnya penuh semangat. Pria yang sudah menginjak umur Sembilan belas tahun itu tampak mengacungkan jempolnya. Ken hanya tersenyum kecil dan kembali berkuda.