The Perfect Match

The Perfect Match
Hadiah kuda



“Tidak, aku menolak istri ku menjadi model. Kau tahu, aku hanya ingin mengaguminya sendiri.” Kekeh Ken, Noah yang mendengar hanya menggelengkan kepalanya.


“Pasangan pengantin yang tengah dilanda cinta.” Ejek Noah. Setelah beberapa percakapan, Noah menandatangi surat kerja sama mereka. Beberapa sajian dari restoran mewah itu dihidangkan, bahkan jenis wine Screaming Eagle Cabernet pun tak segan-segan Noah tuangkan untuknya, wine jenis ini memiliki harga yang begitu tinggi, mencapai ratusan ribu dolla. Bahkan, menurut ahli wine, Screaming Eagle Carbanet ini memiliki rasa yang luar biasa dengan aroma blackcurrant dan tampilan ungunya yang berkelas.


Pertemuan itu tampak seperti reuni antar teman lama yang memiliki banyak cerita, pembicaraan bisnis begitu singkat. Ken memandang arloji yang melingkar dilengannya, sudah hampir empat jam ia disini. Ken pun merapikan sedikit jasnya, lalu berdiri dan pamit untuk pergi. Walau Noah yang memaksanya untuk tinggal sedikit lama karena besok Noah harus kembali ke Panama Ken tetap bersih keras untuk pergi dengan kata-kata yang selalu sulit dibantah, Ken cukup pandai merangkai kata.


Setelah keluar dari ruangan VIP itu, Ken berjalan keluar restoran, beberapa pengawal yang menunggu mulai mengikutinya. Ken terdiam sesaat saat pintu mobil dibukakan, dan masuk dengan cepat seraya mengeluarkan ponselnya. “Bagaimana? Apakah bunga kali ini diterima?” Tanya Ken.


“Mohon maaf tuan, lagi-lagi bunga banyak ini ditolak oleh penjaga rumah mereka, Mr. Franz sudah memberikan perintah, kami akan mencobanya lagi besok pagi.” Ken menghela nafasnya. Ia harus berfikir keras untuk meluluhkan Valerie, bunga kelihatannya kurang menarik, manik mata Ken menatap tajam kearah luar jendela, kira-kira apa yang dapat meluluhkan.


“Aku rasa untuk besok pagi siapkan kuda. Pastikan kau mengirimnya saat istri ku dengan dihalaman rumah, kau mengerti maksud ku bukan?” Ujar Ken asal. Entah mengapa kuda melintas dipikirannya, mungkin saja Valerie dapat mengingat masa bulan madu mereka, kenangan indah yang membuatnya bahagia selama didanau indah itu.


“K-kuda tuan?”


“B-baik tuan. Aku akan mencari kuda terbaik dan paling gagah untuk istri anda.”


“Tidak, tidak. Aku rasa kuda yang cocok untuk istri ku berwarna putih, dia akan takut dengan kuda yang terlalu tinggi dan gelap, pastikan kuda itu bersih dan cantik. Lusa aku akan mengosongkan jadwal ku untuk ke Kanada, pastikan bagaimana pun caranya kuda itu harus kau simpan disana, dapat menarik perhatian dan membuat istri ku tidak tega untuk menolaknya. Kau mengerti?”


“Mengerti tuan.”


“Bagus.” Ken menutup pangilan itu. Rasanya begitu lelah saat semua komikasi yang seakan ditutup untuk Ken. Jessy dan nenek kakek Valerie tidak padat di hubungi, bahkan telepon rumah merekapun tidak dapat tersambung pada Ken. Mencoba memakai nomor baru pun hanyalah hal yang sia-sia, panggilan itu akan langsung ditutup dan tidak dapat terhubung seperti yang sebelumnya.


Ken menarik nafasnya pelan, menyandarkan kepalanya pada sandaran mobil yang begitu nyaman, efek wine sudah mulai terasa, membuat kepalanya sedikit pusing namun menenangkannya.