The Perfect Match

The Perfect Match
End



“Ada apa sayang?” tanya Valerie dengan wajah penasaran.


“Carl kemari, ia sedang berada memesan tiket kereta menuju kemari, sekarang kita siap-siap untuk menjemputnya,” Ken berdiri dengan cepat, menutup majalah yang ada ditangannya. Ia sudah bersiap untuk pertemuan makan siang bersama klien siang ini, namun Carl datang dan membuat rencananya sedikit berubah, Valerie dan kedua anaknya akan ia bawa untuk makan siang sekalian menemani Carl yang baru sampai.


Valerie tersenyum lebar, ia berdiri dan menghampiri kedua anaknya yang tengah bermain. “Sayang, ayo kita bersiap, paman Carl akan kemari.” Gerald tampak begitu antusias, sedangkan si kecil Sabrina tengah merangkak diatas bola-bola kecil yang begitu banyak.


“Paman Carl membawa mainan?” tanya Gerald antusias.


Ken berjalan mengambil Gerald, menggendongnya dengan begitu menggemaskan. “Jadi kau sudah tau paman Carl akan kemari?” Gerald tampak tersenyum kecil dan menutup mulutnya, ia terkekeh dengan riang.


“Waktu itu paman Carl menelpon, tapi paman Carl mengatakan jangan memberi tahu Mom dan Daddy,” kekeh Gerald semakin kencang saat wajah Ken menyerbu perutnya.


Valerie yang kini sudah menggendong Sabrina tertawa melihat tingkah kedua laki-laki yang ia cintai. “Wah, apa ini? Gerald berada di tim paman Carl?” goda Valerie.


“Tidak mom, aku selalu di tim mu,” jawab Gerald dengan tegas.


Ken memutar kan bola matanya mendengar itu. “Apa tidak ada yang menjadi tim ku?” tanya Ken dengan wajah pura-pura marah. Ia menaruh Gerald dengan hati-hati diatas bahunya, seakan membopong sebuah karung.


--


Ken berjalan seperti keluarga bahagia ditengah kota, panasnya matahari membuat matanya sedikit menyipit. “Sebentar, ponsel ku tertinggal.” Valerie langsung berbali begitu saja ke arah mobil mereka. Membuat Ken dan Gerald ikut menghentikan langkah mereka.


“Kita duduk sebentar disana.” Ken menggendong Gerald dengan cepat, mendudukkannya pada sebuah tembok bangunan dan Ken duduk dikursi, memberikan makanan yang ada ditangannya.


Setelah Valerie kembali, mereka meneruskan perjalanan mereka, menuju stasion kereta baawah tanah, atau lebih dikenal dengan sebutan London Underground. Mereka tidak masuk kedalam stasiun, menikmati pemandangan taman dekat trotoar jalan yang begitu indah diluar stasiun. “Mengapa lama sekali?” tanya Ken sambil melirik arlojinya. Sabrina tampak ingin menggapai air mancur dikolam kecil itu, sedangkan Carl memainkan tangan Ken sambil mengayunkannya.


“Sayang, aku ingin ketoilet sebentar, boleh aku menitipkan Sabrina?” Ken langsung membantu Valerie melepaskan gendongan Ken, memindahkannya pada tubuh Ken. “Terimakasih sayang,” ujar Valerie dengan senyum yang lebar, Ken tampak seperti hot Daddy, dua anak ditangannya benar-benar membuat Ken tampak tampan.


Ken berjalan-jalan kecil ditrotoar jalan, banyak pula orang-orang yang melewatinya menyapa Gerald dan Sabrina padahal Ken yakin yang ingin mereka sapa adalah Daddynya, Ken. Pesona Ken memang tidak pernah pudar, bahkan ia merasa dirinya semakin tampan setiap tahunnya.


“Hai, astaga lucu sekali anak mu.” Seorang pria yang seumuran dengan Richard menyapanya, membuat Ken berhenti dan tersenyum menjawab. Mereka beberapa kali saling melontarkan pertanyaan, hingga akhirnya ia mulai menyadari sesuatu. “Sebentar, aku sepertinya mengenal mu, kau Kenrich?” tanyanya dengan begitu antusias.


Ken menganggukkan kepalanya, ai tersenyum lebar. “Wah aku tidak menyangka bisa dikenal sampai Inggris,” kekeh Ken pelan membuat mereka saling tertawa satu sama lain. Pria itu pernah melihat Ken di majalah bisnis beberapa kali.


“Maaf aku lama.” Valerie muncul dari belakang Ken, mengambil Sabrina kembali.


“Pantas saja kedua anak ini begitu menarik perhatian ku. Ternyata orangtuanya begitu hebat, tampan dan cantik,” pujinya. Valerie tersenyum dan mengucapkan terimakasih dengan lembut.


Beberapa menit kemudia, Gerald menarik tangan Ken. “Paman Carl!” pekiknya cepat, ia berlari pada Carl, setertutup apapun Carl ia akan mengetahuinya, semenjak Carl memerankan sebuah film superhero ia menyukai Carl dan ingin selalu di dekat Carl.


“Dia bertemu dengan idolanya,” gumam Valerie kecil sambil menggelengkan kepalanya.


Carl berjalan kearah mereka, tersenyum kecil sambil menarik koper yang diatasnya ada Gerald. “Kau membawa mainan ku?” tanyanya dengan ceria.


“Tentu saja.”


“Aku memang merindukan kalian kak,” jawab Carl sambil memeluk semuanya satu-satu.


“Apa kau lelah diperjalanan?” tanya Valerie pelan.


Mereka berjalan bersama dengan santai, “Aku menemukan wanita cantik dikereta, tapi dia menolak ku.” Carl mulai tersenyum kecil, membuat mereka menggelengkan kepalanya. Semenjak kecelakaan itu Carl menjadi seperti Ken, fokus pada pekerjaan dan tidak melirik wanita lain, namun sekarang, Carl mengatakan ditolak adalah suatu lelucon yang lucu. Adakah wanita yang berani menolak seorang aktor tampan seperti Carl?.


“Semua akan menjauhi mu jika penampilan mu seperti buronan kabur seperti ini.” Ken berkata dengan sangat jujur, bahkan terlalu jujur.


“Sayang, dukung adik mu,” gumam Valerie pelan.


“Sudahlah, aku akan menunggu Sabrina tumbuh dewasa saja.” kekeh Carl.


“Jaga ucapan mu adik ku.” Ken menatap Carl dengan datar.


Carl tertawa, sedikit lega karena bisa menemukan kembali kebahagiaannya disini. Ia sudah mendengar alasan Amber pergi, membuat Carl tidak bisa memaksa Amber untuk tetap bisa bersamanya. Namun bagaimana jika mereka ditakdir kan bersama? Carl tida bisa membuju Amber hari ini, namun beberapa pertemuan tak terduga lainnya akan menyambut mereka dihari hari Carl berada di London.


“Aku pun sangat, sangat, sangat mencintai mu.” Kata-kata itu membuat Carl melirik kearah pasangan suami istri yang tengah bahagia, saling mengungkapkan cinta.


“Kau selalu melihat mereka seperti itu?” tanya Carl pada Gerald yang tengah asik didorong diatas koper.


“Ya, mereka selalu seperti itu.” Jawabnya acuh, menikmati rasa bahagia seperti terbang diatas trotoar.


“Bersiaplah, pegang yang erat.” Gerald yang langsung mengerti memeluk erat besi yang menjadi pegangan Carl, hingga saat Carl berlari, Gerald teriak dengan riang.


Mata Ken langsung membola. “Carl! Jangan sampai membuat anak ku lecet sedikit pun!” teriakannya menarik perhatian beberapa orang, mereka tersenyum dengan keseruan keluarga kecil itu.


...-End- ...








Follow dulu dong Instagram Author @Dheanvta💕