
"Aku ingin menagih janji mu." Jantung Valerie terhenti seketika. Ken mengulurkan tangannya, menyelipkan anak rambut kebelakang telinga.
"Sudah berapa banyak pria yang kau goda? Apa saat itu kau menuntaskannya pada Carl? Seberapa sering kau melakukannya dengan Carl hingga saat ini." Senyum Ken benar-benar merendahkan nya. Pikiran pria itu selalu buruk padanya!.
Valerie berusaha menampilkan senyum sinis.
"Itu sudah lama. Aku saja sudah melupakannya janji ku. Apa kau sangat menginginkan ku hingga menangih janji lama itu? Miris." Ejek Valerie. Namun bukannya ekspresi kesal yang ditunjukan Ken. Pria itu malah tersenyum nakal dan mendekatkan wajahnya.
"Tidak masalah. Aku akan mengingatkan mu."
Wajah Kenrich samakin dekat mulai mencium samar rahangnya, bibir pria itu tidak menempel, hanya bergerak samar dan mampu membuat bulu kuduk meremang. Perlahan ia turun ke leher indah Valerie. Mengendus wangi parfum yang memang biasanya Valerie gunakan di titik tertentu.
Valerie menahan nafasnya. Wajah Valerie terangkat, nafasnya mulai tak beraturan. Hawa dalam ruangan begitu panas.
"Uh." Valerie mengeluh saat hidung Ken bermain di lehernya. Seketika itu pun Valerie malu, ia merutuk kembali.
Untuk pertama kalinya ia seintim ini dengan seorang pria. Biasanya ia selalu mengingatkan posisi mereka yang tak setara, membuat pasangan model pria nya agar sadar diri dan tidak berani melakukan hal kurang ajar seperti Ken sekarang.
Ken mengangkat wajahnya. Memperhatikan raut wajah Valerie yang mulai berbuai.
Wajah Ken semakin dekat, kini ia tertuju pada bibir menggoda itu. Ia menyisakan jarak 1 cm, menatap Valerie yang sudah menutup matanya, seakan menanti, terlihat dari bibirnya yang menanti, terbuka sedikit dan bagaiman Boomerang bagi Ken, ia berusaha tidak menempelkan keduanya.
"Tutup bibir mu sayang. Kita tidak mungkin melakukannya disini." Rasanya ingin tertawa saat dengan refleks bibir Valerie tertutup. Wajah wanita itu memerah.
Bidikan cahaya kamera tak mengganggu nya, ia terlalu terbawa suasana.
"Ya bagus Valerie! Aku suka ekspresi mu yang natural dan menghayati peran." Teriakan Jack yang puas membuat Valerie dengan cepat mendorong Ken, pandangan pria itu kurang ajar. Menatap tubuhnya dibalik baju tidur malam yang tipis ini.
Ken berdiri sambil mengambil kembali kemejanya. Mengancingkan secara perlahan dihadapan Valerie. Seakan memberi tahu jika sebentar lagi otot-otot indah itu akan menghilang di tutup kemeja. Ingin rasanya ia memasukan Ken kedalam lemari, menguncinya dan membiarkannya kehilangan nafas. Ken membuatnya hilang kendali!.
"Valerie, lakukan yang seperti tadi dengan Jim. Kalian akan menjadi pasangan model yang pas."
Rahang Ken mengeras, ia berbalik dan menatap Jack lalu menatap CEO wanita dari Donna.Inc.
"Aku tidak ingin menjadikan dia sebagai model pakaian malam ini. Carikan model wanita yang pas. Dia terlalu kaku. Nona Valerie lebih cocok menjadi model dress kita nanti." Ujar Ken dengan wajah datar.
Valerie tidak terima, ia berdiri dan berjalan memutari tubuh Ken, berdiri dihadapan pria itu dengan wajah geram.
"Apa yang kurang dari ku? Jangan merusak pekerjaan ku!"
Pakaian ini untuk orang dewasa, aku ingin ekspresi dan tingkah yang nakal saat digunakan, bukan seperti patung dan wajah tegang seperti itu. Valerie mengepalkan tangannya. Namun suara Jack menghentikan protesan yang akan keluar dari mulut Valerie.
"Tapi Valerie sangat bagus Mr.Alvaron. kau ingin melihat hasil foto tadi?"