The Perfect Match

The Perfect Match
Pulang



Acara run away benar-benar sukses, berjalan dengan apa yang direncanakan. Semuanya sudah selesai, Valerie menatap seorang kepala acara dengan bingung, ia tersenyum kearahnya sambil berjalan sedikit cepat, seakan ingin menyampaikan sesuatu.


"Valerie, kau sangat cantik hari ini."


Mendengar pujian sontak Valerie tersenyum, wanita dihadapannya ini begitu rapi dan memiliki senyum yang berkelas.


"Terimakasih Mrs. Kelly, kau pun sangat cantik."


Terlihat wanita itu sedikit mengibaskan tangannya pelan, rasa malu terlihat diwajah nya.


"Tidak usah memuji ku, tidak ada yang menandingi mu, bahkan seorang Kenrich saja terpesona dibawah sana, memperhatikan mu saat memperagakan busana tadi!" Ucapan Kelly benar-benar antusias, membuat Valerie langsung terdiam sesaat. Ia mematung mendengar itu, ada sesuatu yang aneh. Kenrich, pria itu sepertinya dirasuki arwah yang ada digedung ini. Bagaimana tidak? Diawal pertemuan saja pria itu bersikap dominan, menyebarkan aura dingin saat menemuinya secara langsung di lorong toilet. Tak sampai itu, Ken tiba-tiba menciumnya, dan kini pria itu memperhatikan nya diam-diam.


"Kau.. mungkin salah lihat." Jawaban ragu itu tak mampu disembunyikan oleh Valerie. Belum sempat Kelly menjawabnya, Carl masuk kedalam ruangan, tersenyum pada Kelly dan Kelly pun membalasnya ramah.


"Oh Carl. Terimakasih atas tampilan mu yang mengagumkan tadi."


"Terimakasih kembali Mrs. Kelly, itu adalah pertama kalinya aku bernyanyi diatas panggung." Carl mengatakan itu dengan lembut.


"Aku melihat film yang kau mainkan, saat kau bernyanyi di film itu aku langsung tertarik menjadikan mu penyanyi lagu lama yang melegenda itu. Dan hasilnya benar-benar menakjubkan." Carl tersenyum senang lalu sebelah tangannya memeluk pinggang Valerie dari belakang.


"Oh, kalian memang pasangan yang manis. Kalau begitu permisi. Kalian sepertinya harus beristirahat." Keduanya tersenyum saat Kelly pergi keluar ruangan. Senyum Valerie memudar dan melepaskan tangan Carl dari pinggangnya.


"Berhenti seolah-olah kau kekasih ku Carl. Aku tidak ingin mereka salah paham."


"Tidak akan ada yang salah paham Valerie, mereka semua tau kita adalah sahabat." Valerie mendengus, ia mengambil tas nya dengan malas.


"Jangan terlalu dipikirkan. Besok kau ada pemotretan bukan? Kau harus istirahat." Valerie mengangguk pelan, mereka berjalan menuju lift.


"Senyum lah, aku hanya ingin melindungi mu Valerie." Langkah Valerie terhenti, ia memutar tubuhnya menatap Carl. Pria yang benar-benar sudah baik kepadanya. Pernah suatu hari Carl mengungkapkan isi hatinya, namun Valerie menolak, ia tidak pernah menganggap Carl melebihi sahabat, ia menyayangi Carl tidak lebih dari sebatas sahabat. Entahlah, Valerie tidak tertarik menjalin hubungan, ia menyukai kebebasan dan sebisa mungkin menjauhkan diri agar tidak terjerat gosip miring mengenai asmara. Saat itu juga Valerie mengira Carl akan menjauh, namun pria ini tetap memilih disampingnya, benar-benar sabar dan menghiburnya saat ia lelah. Valerie sendiri bingung dengan hatinya, mengapa ia tak bisa memaksakan diri agar menerima Carl? Apa yang kurang dari Carl?.


"Maafkan sikap ku barusan. Aku benar-benar lelah sepertinya." Senyum Carl kembali terukir. Pria itu mengangguk merangkul bahu Valerie, membuat mereka berdua kembali meneruskan perjalanan.


---


Sesampainya di apartemen yang baru ia tempati, Carl melambaikan tangannya. Valerie tersenyum dan membalas lambaian itu.


"Semangat untuk besok."