
Ken membalas beberapa pesan yang masuk kedalam emailnya. Membaca kembali laporan yang ada dimeja, hingga sebuah ketukan membuatnya menghentikan kegiatan tersebut. “Permisi Sir, adik anda sudah ada didepan.”
Seulas senyuman menghiasi wajah Ken, “Suruh dia masuk, aku memang sudah menunggu kehadirannya.”
“Baik sir.” Sekertaris itu menutup kembali pintu ruangan Ken. Memang sudah lama ia menetapkan kebijakan itu, Ken tidak mengijinkan siapapun masuk dengan sembarangan kedalam ruangannya. Semuanya harus melewati sekertarisnya dulu, kecuali tiga orang, Alicia, Richard dan Agatha.
Ken menutup laptopnya perlahan, menegapkan badan dan menanti apa saja yang akan dikatakan Carl. Tak lama, pintu ruangannya terbuka, Carl masuk dengan begitu kaku, raut wajahnya seakan menyimpan dendam. “Duduk lah Carl, ada apa?” Tanya Ken santai dan bersahabat. Carl duduk dikursi sebrang nya, gerakan tubuh mulai terlihat santai dan wajah yang tampak biasanya.
“Aku, ada yang ingin aku tanyakan kak.”
“Apa ada yang mengganggu pikiran mu?” Carl mengangguk. Sorot matanya kini seakan menanti.
“A-aku masih belum mengerti dengan semua ini, sejak kapan kalian dekat?” Tanya Carl yang tampaknya sudah tak tahan lagi dengan rasa penasarannya.
Ken melipat satu kakinya dan menumpu pada kaki lainnya. “Apakah aku harus menceritakan detailnya? Semuanya terjadi begitu saja, disetiap pertemuan yang memaksa ku untuk selalu berdekatan dengan Valerie. Membuat aku dan Valerie banyak melakukan interaksi.”
“Tapi, bukan kan kau tidak pernah menyukai Valerie? Kau selalu menjauhi Valerie sejak dulu.” Ken tertawa kecil mendengar itu.
“Itu dulu Carl, kami bertemu saat ini, saat ia sudah dewasa dan memiliki paras wanita yang aku idamkan. Bahkan aku sedikit menyesal selalu mengabaikan pesannya saat dulu.” Carl mengepalkan tangannya, seharusnya memang mereka tidak kembali ke Los Angeles, semua karena run away sialan itu.
Ken tampak menggelengkan kepalanya, “Aku dan Siena hanya bersahabat, dia wanita yang setia dengan kekasihnya. Media terlalu melebih-lebihkan kedekatan ku dengan Siena tidak sejauh itu.”
Suasana begitu hambar, tidak ada suasana hangat antara adik dan kakak. Semuanya terasa kaku dan mencengkam. “Kak. Apa itu tidak ada hubungannya dengan Amber?”
“Oh, aku bahkan sudah melupakan kejadian itu. Mengapa kau tiba-tiba mengungkitnya kembali?” ini menarik, benar-benar menarik, Ken merasa siap untuk meledakan emosinya jika Carl berani untuk membela diri dan menjelek-jelekan Amber kembali, mereka berdua sama busuknya, tidak perlu menerangkan betapa buruknya seseorang hanya untuk mewangikan diri sendiri. Itu hanya membuat Ken muak.
“Tidak, aku hanya tidak ingin Valerie menjadi alat balas dendam mu, dia tidak memiliki salah apapun. Aku… aku begitu mencintainya. Aku mohon kembalikan Valerie pada ku. Aku pikir dalam masalah itu kita sudah selesai dan kau memaafkan ku, aku sudah memberikan semua yang aku punya untuk mu, apakah hanya karena wanita seperti Amber dapat memutuskan hubungan kita?”
“Tenang saja Carl, aku tidak menjadikannya alat balas dendam apapun, aku juga tidak pernah memaksa mu memberikan apa-apa untuk ku. Aku dan Valerie benar-benar saling mencintai. Kau tidak perlu khawatir, aku akan menjaganya dan memastikan Valerie akan bahagia bersama ku.” Ken menatap jam tangannya, lalu menatap Carl dengan wajah menyesalnya. “Oh, sepertinya pembicaraan kita sampai sini dulu Carl, aku harus mengjemput Valerie, kita akan mencoba pakaian pengantin.”
Ken berdiri dan meraih jasnya, merapikan bagian sisi lengan dan bersiap untuk pergi. Melihat Carl yang sudah mengerti dan berdiri, Ken berjalan terlebih dahulu, baru saja ia melewati tubuh Carl, sebuah pernyataan yang menamparnya terdengar mengiang. “Kak, bukankah kau tidak pernah menyukai bekas ku?” Sial!
---