The Perfect Match

The Perfect Match
Dendam yang belum reda



Pandangan mereka bertemu, tubuh mereka yang begitu dekat membuat Valerie dapat merasakan nafas pria itu.


Valerie mengerjapkan matanya, ia mendorong pelan tubuh Kenrich. Wajah pria itu masih tampak mengeras. "Te.. terimakasih." Gugup Valerie, ia cepat bergegas keluar dari ruangan yang terasa pengap itu, debaran jantung Valerie selalu tidak normal dimomen seperti ini.


Ia sedikit kebingungan saat melihat kursi malas itu kosong. Keningnya mengerut dengan pandangan yang menatap kesegala arah.


"Kakek berada diruang musik." Suara Ken kembali terdengar dibelakangnya, pria itu berhenti melangkah seakan menunggu Valerie berjalan terlebih dahulu.


"Dimana ruang musiknya?" Tanya Valerie dengan suara yang gugup. Ia canggung dan tak siap dengan pikirannya yang seakan berteriak dan mengingatkan bahwa mereka kini sedang berdua, disebuah ruangan besar!


Pria itu tampak berfikir namun raut wajahnya begitu tenang dan tak ada rasa panik sedikit pun. Sambil memasukan tangan kedalam saku celana, Ken berjalan lambat mendekati Valerie. "Aku tidak menanyakan dimana ruangan itu." Ucapannya benar-benar tenang dan tak menampakkan wajah berdosa. Membuat Valerie menampilkan reaksi wajah yang berlebihan, tampak terkejut dan aneh tergambar diwajahnya.


"Apa? Kastil ini begitu luas. Bagaimana bisa kita mencari ruangan itu? Apa kita harus membuka setiap pintu yang ada disini?"


Kenrich mengangkat bahunya pelan dan berjalan terlebih dahulu sambil berucap. "Apa boleh buat."


Valerie mengejar langkah Kenrich dengan cepat, mensejajarkan kaki mereka dan menatap Kenrich dengan tak percaya.


"Kau benar-benar akan mengajak ku membuka satu persatu pintu yang ada disini?"


Ken menghentikan langkahnya, ia tersenyum mengejek pada Valerie.


"Mengapa kau begitu berbeda dengan Carl? Tidak bisa kah kau ramah sedikit saja." Terkejut dengan ucapannya, ia menatap kilatan marah dimata pria itu. Ia benar-benar sudah salah berbicara dan tidak sopan dengan ucapan yang ia lontarkan mengenai sifat seseorang.


"Mengapa aku harus sama seperti Carl?" Tanya Kenrich dengan wajah yang mulai terlihat keberatan.


"Yaa.. karena kalian adik kakak. Seharusnya sifat kalian tidak terlalu berbeda." Ken menyunggingkan senyumnya. Hatinya memanas.


"Terimakasih sudah mengingatkan, aku akan mencoba lebih keras agar bisa seperti Carl." Ucapan itu seakan ejekan. Kenrich mengepalkan tangannya, ia sudah membangun tekadnya untuk pembalasan dendam yang belum terpuaskan. Saat di lorong runaway dan sesi pemotretan, Kenrich masih dengan tekadnya yang kuat, merebut wanita ini dan menjadikannya boomerang untuk Carl. Ken merutuki sikapnya yang melemah hanya karena manik mata indah itu! Sorot mata Valerie didalam mobil tadi benar-benar membuatnya tak tega, rasa bersalah dan rasa menghormati tiba-tiba tersarang diotaknya.


Ken sedikit menggelengkan kepalanya samar. Itu hanya efek karena Alex ada dimobil depan. Ia hanya sedikit takut dan bayangan beberapa orang yang akan tersakiti mencoba meruntuhkan niatnya, menghancurkan tekad yang sudah ia buat.


"Sudahlah, maaf jika kau tersinggung dengan masalah sifat. Sebaiknya kita mulai mencari ruangan itu sebelum Grandfa mengirim seseorang untuk mencari kita." Kenrich menangkap gemetaran dalam suara Valerie. Wanita itu tampak merasa bersalah, namun tertutupi oleh wajah yang di paksakan ketus.


"Ide yang bagus. Lebih baik kita disini dan menunggu orang kiriman Kakek mencari kita, itu membuat kita tidak perlu mencari ruangan musik itu."


---


Kira-kira gimana nih kelanjutan nya?😘


jangan lupa like komen dan hadiah ya💞