The Perfect Match

The Perfect Match
Pernikahan Siena



Hari yang ditunggu Siena pun tiba, setelah menghadiri banyaknya pernikahan akhirnya ia bisa merasakan pernikahannya sendiri. Gaun putih yang indah dan panjang membuatnya berbunga. Bayangan hidup bersama dengan Ethan akhirnya terwujud, perjuangannya selama ini tidak lah sia-sia.


Siena tersenyum kecil saat bayangan masalalu melintas, saat pertama kali ia mendekati Ethan dan ia malah gugup, selalu kebur jika melihat Siena. ‘Nona, tolong jangan mendekati ku, aku membutuhkan pekerjaan ini.’ Kata-kata itu yang berhasil membuatnya semakin tertarik. Disaat yang lain mendekati bahkan berusaha mencari perhatian Siena, Ethan malah langsung sadar diri dan memilih kabur dari Siena.


“Sayang, bersiaplah,” kedua orangtuanya menatap Siena dengan bahagia, walau awalnya banyak perdebatan yang dilalui, mengingat Ethan tidak memiliki bisnis apapun dan hanya GM diperusahaan Ken, namun Siena bersih keras jika itu semua sudah cukup. Tak lama setelah itu, Siena malah membawa kabar bahwa dirinya tengah hamil, membuat semuanya terkejut dan tidak bisa berbuat apa-apa.


-


Sementara disebuh gereja, Ken dan Valerie menunggu dengan nyaman sepasang kekasih yang akan menikah. Untungnya, kali ini Valerie mengiijinkan Ken untuk memakai parfum pria yang begitu elegan dan lembut, wangi yang menyegarkan dan tidak membuat Valerie mual seperti mencium harum musk.


“Amber, kalian merencanakan memiliki anak lagi?” tanya Valerie tiba-tiba, membuat Amber yang tengah sibuk bermain ponsel melihatnya sambil tersenyum bersamaan dengan Carl.


Amber menggelengkan kepalanya pelan. “Tidak, Earl saja sudah cukup,” jawab Amber sambil tertawa kecil. Carl tampak tidak setuju dan langsung berkomentar.


“Itu tidak cukup sayang, setelah Earl sehat kita akan memberikannya adik baru,” Carl menyentuh ujung hidung Amber.


“Stt, aku saja belum melahirkan.” Potong Valerie dengan cepat, membuat Ken hanya tersenyum lebar.


Carl menaruh kepalanya pada bahu Amber dengan manja, menggoda wanita itu agar tidak kembali pada ponselnya. “Carl, mengurus Earl saja sangat berat bagi ku, aku tidak sanggup jika harus mengurus dua.” Jawab Amber apa akhirnya, tidak tega melihat wajah Carl yang tampak menggemaskan itu.


“Kau kan tidak sendirian sekarang sayang, ada aku yang membantu mu.” Amber terdiam sesaat. Tersenyum kecil dan mengelus kepala Carl pelan.


“Kita lihat saja nanti.” Bisik Amber pelan sambil tertawa halus, membuat Carl tersenyum dan semakin bermanja pada Amber. Sosok wanita yang dewasa dan tidak sedikitpun membuat Carl pusing, ia perhatian dan memberikan masukan yang selalu dibutuhkan Carl.


Tawa Amber perlahan lenyap, matanya menatap kosong entah kemana, ia mulai menikmati perannya sebagai istri Carl, namun diam-diam ia juga memberikan $25.000 pada Amanda setiap bulannya dengan hati-hati untuk tabungan mereka beberapa bulan lagi, menunggu kesembuhan Earl dan kebahagiaan ini akan berakhir.


Mengapa Amber harus tetap pergi jika ia sudah bahagia? Kadang pertanyaan itu melintas dikepala Amber, namun ini bukanlah rencananya, ia tidak berniat menikah dan membiarkan hatinya dimiliki seseorang, beberapa tahun ia menderita sendirian, semua ini akan bertahan lama. Cinta akan pudar dan hanya rasa sakit yang akan ia terima jika hati nya kembali terbuka untuknya. Carl, saat pembagian kelompok dulu semasa kuliah, ia tampak tampan dan tidak tertarik pada wanita yang mendekatinya, membuat Amber diam-diam menaruh perasaan dan mulai mengetahui jika Carl memiliki seorang wanita di Kanada.