
Selesai acara pernikahan, Valerie dan Ken masuk kedalam mobil mewah yang sudah dihias bunga. Cuaca yang sudah mulai gelap menjadi pemandangan untuk perjalanan mereka pulang.Valerie melambai kan tangannya pada keluarga begitu juga Ken.
Saat mobil melaju, Valerie tersenyum pada Ken, mereka akan langsung tinggal di mansion milik Ken, semua pakaian dan barang-barang nya sudah Valerie kirim ke mansion itu.
"Kau lelah?" tanya Ken. Valerie menggelengkan kepalanya.
"Aku lebih merasakan bahagia di bandingkan lelah." jawab Valerie, senyumnya benar-benar tak luntur sedari pagi, membuat Ken tersenyum kecil yang hambar. Memang Ken akui, acara pernikahan ini begitu menyenangkan, membuatnya bahagia.
-
Sesampainya di mansion, Ken membantu Valerie turun dari dalam mobil, gaun yang panjang membuat sedikit hambatan bagi Valerie. "Terimakasih." ujar Valerie lembut.
"Tidak perlu berterimakasih, sayang." balas Ken dengan tak kalah lembut.
Beberapa pelayan tersenyum menyambut mereka, membuat Valerie membalas senyuman mereka satu persatu. Padahal, Valerie tidak pernah seramah ini dengan seorang pelayan, namun karena perasaan nya yang tengah berbunga dan bahagia, membuat senyumnya tidak pernah luntur.
Ken membuka kamar mereka perlahan, membiarkan Valerie masuk terlebih dahulu. Setelah Ken menyusul masuk, ia langsung mengunci pintu kamarnya.
Valerie duduk dikursi meja rias yang entah sejak kapan sudah ada dikamar ini, melepaskan segala pernak pernik yang memberatkannya. Ken membantu Valerie, melepaskan secara perlahan veil yang ada diatas kepala Valerie. Valerie berbalik dan tersenyum.
'Bukan kah kau tidak menyukai bekas ku?' Sial!
"Kau terlihat lelah, mandi dan bersiap lah. Aku akan keluar sebentar. Tunggu aku." Ken mengecup pelan bibir Valerie, membuat semburat merah diwajah Valerie terlihat jelas. Ia malu, ini adalah malam pertama mereka, semuanya harus dipersiapkan dengan baik. Mandi dengan aroma yang wangi dan akan mengembalikan kesegarannya.
"Ya. Kalau begitu aku mandi dulu dan akan bersiap. Kau mau kemana?" tanya Valerie pelan.
"Aku akan menemui teman ku. Dia baru sampai ke LA dan tidak sempat datang ke acara kita." Valerie menganguk sambil tersenyum manis.
"Jika kau menginginkan sesuatu panggil saja pelayan yang ada dirumah ini."
"Baiklah. Cepat pulang kembali." Ken menganguk.
"Berias lah yang cantik untuk ku." goda Ken membuat Valerie kembali memerah. Ken pun keluar dari kamar, dan berjalan kearah pintu rumah.
Ken memilih mobil berwarna hijau tua untuk ia bawa, mencari udara segar dan sedikit minuman untuk menangkannya. "Maaf tuan. Apakah anda tidak ingin ditemani?" tanya supirnya dengan sopan. Ken mengibaskan tangannya. "Aku sendiri saja. Kata kan pada kepala pelayan, siapkan makan malam untuk istri ku."
"Baik tuan." Ken melajukan mobilnya dengan kecepatan yang tinggi, mencari klub malam yang biasa ia dan teman-temannya berkumpul. Sedikit minum dan melepas kepenatan mungkin akan membuatnya waras kembali. Sejak kapan ia mempermasalahkan bekas atau tidak? namun semuanya seakan memutar, menghantui dan mengganggu. Ken mengepalkan tangannya, Carl benar-benar menghilang tanpa menghancurkan pernikahan nya, membuat Ken tidak merasa puas dan malah merasa terjebak dengan seorang wanita yang sudah tidak berguna baginya. Itu pula yang membuat Ken merasa keberatan dalam menyentuh Valerie, membayangkan bekas sentuhan Carl yang berada di tubuh Valerie.
___