The Perfect Match

The Perfect Match
Menyetujui?



Beberapa hari berlalu dengan cepat, pukul sembilan pagi, Amanda membuka sedikit tirai tebal yang menutupi satu-satunya jendela dilantai dua ini. Ia menghirup nafasnya perlahan, menatap Amber yang tengah fokus memasangkan infus pada Earl yang sedang dalam keadaan rewel layaknya anak kecil yang sedang tidak nyaman.


“Apa kau tidak akan menemuinya saja?” Tanya Amanda pelan, ia merasa iba. “Dia beberapa hari diam didepan rumah, aku takut beberapa warga merasa terganggu dan gosip tentang kita semakin buruk.”


“Biarkan saja, aku tidak memerlukannya. Oh Earl, diamlah sebentar sayang, Mama tidak akan menyakiti mu.” Tangisan Earl semakin kencang, Amber berusaha sabar dan memeluk Earl lembut, mengusap helaian rambut yang sedikit ikal itu sambil membisikan kata-kata penenang yang biasa seorang ibu berikan pada anaknya.


Amanda bergegas masuk kedalam kamar terbuka itu, raut wajahnya seakan baru mendapatkan ide, begitu bersemangat dan ceria. “Amber! Aku tahu cara mengatasi ini semua.” Ujar Amanda cepat. Amber mengerutkan keningnya, menanti ucapan Amber selanjutnya. “Bagaimana jika kau memberikan kesempatan untuknya bertanggung jawab? Earl akan mendapatkan pengobatan yang layak, kau tidak perlu memasang infus itu lagi sendiri. Ya… anggap saja membantu keuangan kita. Selama Earl dirawat, kita akan mengumpulkan uang untuk pindah dari rumah ini, setidaknya tidak mendapatkan yang lebih layak untuk tiga manusia.”


“Tidak Amanda! Dia akan besar kepala. Lagi pula dia tidak serius mengatakan itu, lihat saja penampilannya yang seperti orang misterius.”


“Astaga Amber, bagaimana pun Carl harus melindungi privasinya, dia juga sudah membawa beberapa dokter bagus kemari, walau pun kau sudah menolaknya keras ia tetap membawa dokter-dokter itu. Ini demi Earl juga, aku takut kita melakukan kesalahan untuk kesehatan Earl. Kau sudah seminggu ini banyak meminta ijin dipekerjaan mu karena Earl, bagaimana jika kau mendapatkan surat peringatan lagi? Kau tidak bisa membeli obat-obat Earl.” Amber menarik nafasnya keras, menatap Amanda dengan tajam.


“Ayolah Amber, kita akan sampai kapan seperti ini? Ada peluang dihadapan kita. Jika keuangan kita sudah membaik, kita akan membawa Earl kembali dan meninggalkan Carl.”


Amber menatap Amanda tanpa fokus, pikiran sibuk mencerna ucapannya. “Apa semudah itu saat kita mengambil Earl kembali?” Tanya Amber. Amanda tersenyum menang saat melihat Amber mulai terpengaruhi. Ia mendekat dan membisikan sesuatu ditelinga Amber.


Carl bersandar di tembok gang, mengenakan masker membuat pernafasannya sedikit terhambat, dengan kacamata hitam dan ujung topi yang hampir menutupi wajahnya mampu membuat orang-orang yang melewatinya memandang aneh.


Tubuh Carl langsung berdiri dari duduknya disebuah kursi kayu itu ketika pintu rumah terbuka, Amber keluar dari dalam rumah dan membuka pagar yang tidak terlalu tinggi itu. “Amber. Kau memberiku kesempatan?” Tanya Carl cepat saat menyadari Amber tidak langsung mengunci pagar kembali dan melewatinya keluar gang. Wanita itu diam disamping pagar yang terbuka, menatap Carl dengan wajah datarnya.


“Masuklah, ada beberapa yang ingin aku bicarakan sebelum menerima pertanggung jawaban mu yang sudah kadaluarsa itu.” Ujarnya membuat Carl dengan cepat mengangguk dan masuk kedalam rumah mengikuti Amber. Didalam sana sudah ada Amanda yang duduk dengan memeluk Earl, anak yang ingin sekali ia peluk, makhluk kecil yang mampu membuatnya melakukan hal sebesar ini. Sebastian Earl.