The Perfect Match

The Perfect Match
Mencoba menghancurkan



Carl tak tahan dengan semua ini, tanpa ijin terlebih dahulu ia berdiri dan berjalan cepat menuju toilet, menyusul Valerie dan akan mengatakan semuanya, ia harus membuat Valerie menghentikan pernikahannya.


Ken yang masih duduk dikurisnya hanya menatap Carl dengan puas, mengajarakan adiknya itu agar tidak bermain-main dengan Ken. “Biarkan Carl berbicara dulu dengan Valerie, Ken. Berikan mereka waktu berdua.” Ujar Alicia. Ken hanya mengangguk dan tidak terlalu mempermasalahkan.


“Jadi saat dikastil, kalian sudah memiliki hubungan?” Tanya Alex. Ken sedikit mengerang dalam hatinya, sekali berbohong maka ia harus mempersiapkan kebohongan lainnya. Ken menarik nafasnya.


“Sudah kakek, kami memang sepakat untuk menyembunyikan ini.”


“Lalu mengapa kemarin malam kalian setuju dengan perjodohan kalian masing-masing.” Tanya Agatha yang masih tak mengerti dengan jalan pikiran para anak muda. “Kalian benar-benar menyakiti hati cucu ku.” Lanjut Agatha. Carl anak yang baik dan manis, ia takut sakit yang dirasakan Carl berdampak buruk bagi kesehatannya.


“Aku pun cucu mu Grandma.” Jawab Ken.


Justin menepuk bahu Ken sedikit keras dan tertawa kecil. “Aku pernah muda, aku yakin mereka sedang bertengkar kemarin.” Jessy memutarkan bola matanya malas. Ia gemas pada tingkah suaminya itu siang tadi. Justin mengamuk dan memarahi Valerie dengan keras, membuat anak mereka berhasil menangis dan berlari kedalam mobil terlebih dahulu. Bukannya mengejar Valerie, Justin malah terkikik pada Jessy ‘Katakan aku akan merestuinya jika dia berhenti menjadi model.’ Dan kini suasana hati Justin pasti tengah bahagia, Valerie setuju dan sepakat akan berhenti menjadi model.


-


Carl menahan tangan Valerie yang baru keluar dari toilet wanita, membuat Valerie terkejut dan hampir saja memaki. “Carl?” Tanya Valerie bingung.


“Katakan semua ini hanya tipuan untuk ku Valerie, kau tidak akan menikah dengan kakak ku bukan?” Carl terlihat kecewa, marah, putus asa. Semua mengumpul pada sorot mata itu. Valerie melepaskan tangan Carl dengan perlahan.


“Carl, aku benar-benar minta maaf, tapi aku tidak bisa membohongi perasaan ku. Kau sendiri tahu aku sudah menyukai Ken sejak lama.”


“Tidak Carl, Ken sudah mengungkapkan semuanya, ini semua kemauan ku dan aku tidak akan pernah membatalkannya.” Valerie tahu ia sudah keterlaluan, mencampakan Carl yang sudah baik kepadanya selama ini, namun hatinya tak bisa dipaksa, ia tidak memiliki perasaan lebih pada Carl.


Carl tampak mendekat, membuat Valerie panic dan mundur. “Valerie, Ken tidak pernah mencintai mu, kakak ku hanya menjadikan mu alat balas dendamnya.”


Valerie mengerutkan keningnya. Rasanya ia ingin mengabaikan, namun itu membuatnya terpengaruh. “Balas dendam apa?”


Carl menengkam rambutnya sendiri dan membungkam mulutnya, mencoba mengatakan semua namun rasa takut jika Valerie malah membencinya. Seketika pikiran lain melintas, ia kembali menatap Valerie.


“Amber. Wanita itu adalah kekasih kakak ku selama bertahun-tahun. Saat itu aku sedang sendiri, dan Amber menghampiri ku, dia wanita penggoda, membujuk ku untuk bercinta dengannya. Namun, Ken datang dan salah paham, aku sedang menolak saat itu. Kakak ku benar-benar marah dan memukul ku.” Valerie terdiam, ia ingat Ken pernah mengatakan tentang perselingkuhan itu.


“Jadi…” ucapan Valerie tergantung.


“Ken tahu aku begitu mencintai mu, Ken hanya menjadikan mu sebagai alat balas dendam. Bahkan kakak ku meminta semua bagian saham milik ku untuknya. Dia memaksak ku untuk mengaku tidak tertarik tentang perusahaan kepada semua orang.” Valerie menggelengkan kepalanya, rasanya sesak, tapi ia pun tidak mudah percaya pada semua ini sebelum mendapatkan bukti. “Kakak ku bukan pria baik Val, dia jahat. Aku tidak ingin melihat mu hancur.”


---


Keluarin unek-unek kalian guys😌