
Sang penjaga rumah seketika menundukkan wajahnya saat melihat tatapan Valerie menatapnya. “Maaf nyonya, tuan besar memperintahkan ku untuk menolak semua pemberian-“
“Cukup. Tadi siapa namamu? Liam?. Bawa masuk hadiah itu, tolong bukakan pagar untuk mereka.” Potong Valerie tegas. Amarah terasa membara dihatinya, ia mengira Ken sudah tidak memperdulikannya.
“Tapi nyonya, bagaimana jika tuan besar marah?” Tanya penjaga itu dengan ragu.
“Itu akan menjadi urusan ku.” Jawab Valerie cepat. Dengan cepat ia pun bergegas untuk membukakan pintu pagar, dan kedua orang itu dengan senang masuk kembali kedalam mobil.
Setelah pagar terbuka lebar, mobil itupun masuk dan berhenti mendadak dengan badan mobil dihadapan Valerie. Tubuh Valerie seakan menegang saat ia mendengar suara dari dalam yang membentur bagian penutup belakang mobil ini. Ia pun mendengar suara jeritan dari dalam, seekor hewan? Atau manusia?. “A-apa yang kalian bawa?” Tanya Valerie panik.
Kedua orang itu langsung turun dan hendak menjawab pertanyaan Valerie, namun ia melihat keempat orang berjalan dengan tergesa kearah mereka.
“Sayang, ada apa?” Tanya Jessy pani. Disusul beberapa pertanyaan lain dari yang lain.
“Ken memberikan ku hadiah.” Jawab Valerie, ia menatap Justin dengan tajam.”Dan Daddy mengapa menolak semua pemberian hadiah dari Ken? Dia suami ku!”
Justin menghela nafasnya, mendekati Valerie, “Dia selalu membawakan bunga dengan berbagai bentuk. Memangnya rumah ini akan dijadikan perusahaan baru? Beberapa papan bunga yang mengganggu dan bucket bunga besar dengan jumlah yang banyak itu bisa membuat rumah ini menjadi rumah bunga.”
“Ah, kita lihat sekarang bentuk bunga apa yang akan ia berikan.” Ujar Justin sambil berjalan menyelidiki, menghentikan omelan Valerie yang tidak akan jauh berbeda dengan Jessy.
“Ini bukan bunga tuan, sesuatu yang special dan dapat membuat mu jatuh cinta.” Jawab seorang pria berdasi itu. Seketika Justin tertawa mendengarnya, ia tak tahan dengan perkataan berlebihan seperti itu.
“Membuat ku jatuh cinta? Apakah seorang wanita cantik? Uhh aku tidak sabar melihatnya.” ejek Justin.
Namun, tawa Justin terhenti saat suara batuk yang keras terdengar. “Apakah yang ada dikepala mu hanya seorang wanita cantik? Kau hanya bisa jatuh cinta pada wanita cantik?!” Sindir Jessy.
Justin melonggarkan sedikit dasi, terbatuk kecil seakan ada sesuatu ditenggorokannya. “Buka lah, jika ini hanya benda tidak berguna lebih baik kau membawanya lagi.” Ujar Justin tegas pada pria berdasi itu. Justin berusaha keras menguasai dirinya kembali, ia tidak boleh menjadi bahan tertawaan orang-orang karena ucapan tajam sang istri yang pintar menyindir.
Tampak seorang pria lainnya dengan semangat membuka pintu besi bagian belakang dengan lebar. Ia dengan susah parah menarik sebuah tali dari sana, suara berisik seakan hewan meronta terdengar membuat mereka menanti apa yang ada didalam. “Tenangkan lah Laire!” teriak pria itu entah pada siapa. Hingga seekor kuda putih turun dengan kaki yang begitu kuat, rambut kuda itu bergerak seakan seorang model kuda yang tengah memamerkan rambut indahnya. Kuda itu begitu bersih dan tampak jinak. Semua tampak membelalakan wajahnya tak percaya, bahkan hampir membuka mulut mereka sebelum seorang anak perempuan berumur sebelas tahun keluar dari sana.
“Astaga!” pekik mereka bersamaan, tampak terkejut dengan lompatan anak kecil itu dari dalam. Rambut yang diikat lengkap pakaian peternakan yang ia gunakan, wajahnya tampak ceria dan begitu santai setelah keluar dari tempat yang didalamnya ada kuda.