
Keesokan harinya, Valerie mendengar suara ribut dari arah luar rumah, membuatnya dengan segera bergegas dari sofa keluar rumah, disana Anna dan Jeremy tengah tertawa pada Jessy yang tampak sedang memijat keningnya sendiri.
“Mom, ada apa?” Tanya Valerie dari kejauhan.
“Kemarilah sayang. Ken membuat ulah disini.” Mendengar nama Ken, Valerie langsung mempercepat langkahnya. Sesampainya diluar, baru saja Valerie hendak bertanya kembali, namun seketika menutup mulutnya, ada sepuluh kerangka bunga berukuran besar berjajar dijalan menuju pintu, disetiap kerangka itu bertulisan ‘Aku mencintai mu, Valerie’. Senyum Valerie pun mengembang, matanya mencari sosok Ken.
“Ken mana mom?” Tanya Valerie cepat, hatinya begitu senang. Surat perceraian dikirimkan Justin kemarin, namun hari ini, Ken tidak mengirimkan balik surat itu melaikan kerangka bunga cinta ini.
Jessy menggelengkan kepalanya. “Tidak ada Ken, kerangka ini dikirim begitu saja. Membuat beberapa orang yang melewati rumah kita menatap bingung. Mom tidak menyangka dengan kelakuan suami mu sayang.” Jessy terdengar tertawa lega, bahkan Valerie sendiri pun yakin jika Mommy nya akan menyadari cinta Ken asli.
“Grandma terkejut saat ada banyak mobil yang mengantar kan kerangka bunga sebanyak ini. Ah, cinta anak muda jaman sekarang sangatlah manis. Justin terlalu berlebihan kemarin, aku percaya Ken benar-benar mencintai cucu ku ini.”
“Mommy sudah mengirimkan gambar kerangka ini pada Daddy mu, semoga saja Daddy mu luluh dan menghentikan ini semua.” Jessy memeluk Valerie, ia mengerti perasaan Valerie. Rasa ragu dan sakit pasti sedang ia rasakan.
-
Ken keluar dari ruangan rapat, keadaan anak perusahaan di New York sedikit terganggu, beberapa produk mereka menurun sejak musin dingin melanda. Pikiran dan hati Ken kini seakan dipaksa untuk bekerja keras, ia harus berpikir keras memberikan gebrakan baru untuk anak perusahaannya, sedangkan hatinya tengah dilanda rasa perih yang seakan diperas kencang. Surat gugatan cerai ia terima kemarin sore, hal itu membuat Ken marah, kesal dan kabar anak perusahaan yang menurun menambah beban. Bagaimana pun Ken harus tetap bekarja, ini adalah tanggung jawabnya. Richard baru selesai berjabatan tangan dengan orang-orang tertinggi disini, menatap Ken yang sudah dari tadi didalam ruang rapat hanya diam dan tidak banyak bicara, lebih kearah menyimak awal permasalahan yang terjadi.
“Ya, Dad.” Jawab Ken pada akhirnya.
Merekapun berpisah, Ken masuk kedalam ruangan sementaranya, ruangan untuk CEO kantor pusat memang selalu tersedia disemua anak kantor. Ken melepaskan jas dan dudu dikursi yang terlihat nyaman itu, memerisa ponselnya namun tidak ada satupun pesan masuk dari Valerie maupun keluarganya, semua akses pesan ke Valerie ditutup. Ken ingin mengetahui reaksi penolakan percerainnya, apakah papan bunga itu berakhir ditempat pembuangan sampah atau mampu membuat mereka membuka hati kembali untuk menerima Ken. Ingin Ken langsung menjemput Valerie kembali, namun tanggung jawabnya terhadap perusahaan seakan tengah diuji.
‘Tok..tok’ suara ketukan pintu membuat Ken tersadar dari lamunan, seorang wanita masuk dengan senyum yang begitu lebar.
“Permisi sir, ini hasil rapat yang anda minta. Untuk data penjualan dan respon masyarakat sedang diproses.”
“Terimakasih. Aku akan memeriksanya terlebih dahulu, tolong panggilkan GM, ada sesuatu yang ingin aku bahas dengan nya.” Wanita itu langsung mengangguk.
“Baik Sir, permisi.” Jawabnya dengan sopan dan senyum ramah yang tidak pernah luntur.
___
maaf ya yang udah nungguin dari siang. Author baru bisa ngetik tadi🥰