The Perfect Match

The Perfect Match
Perpustakaan tak terurus



"Dulu, saat aku muda, aku masih ingat berjalan disini." Ujar Alex, mereka kini berada dilantai 2, Alex dan Kenrich duduk dikursi malas tua sambil menatap pemandangan yang begitu asri.


Mata Kenrich menatap gerak-gerik Valerie yang berjalan disisi ruangan, matanya memandang dekorasi tua yang ada disana. Terlihat gerakan mata Valerie yang hendak menatapnya, membuat Ken dengan cepat kembali melihat Alex yang tengah bercerita. Beberapa cerita Alex mungkin tersaring dipendengarannya, namun beberapa lagi terbang entah kemana.


Ketika di rasa cukup untuk pengalihannya, Ken kembali menatap Valerie, wanita itu benar-benar tidak taat aturan! Ia masuk dengan pelan kedalam perpustakaan yang sudah diperingatkan itu.


"Ada apa?" Tanya Alex yang memperhatikan Ken tidak dalam keadaan fokus. Pria itu terlalu banyak menengok.


"Dia... Masuk kedalam perpustakaan." Ujar Ken pelan. Berusaha menahan diri untuk tidak menarik wanita itu dan mendudukannya dikursi kosong sebelah Alex, memperingati wanita itu agar diam dan tak berulah.


"Sudah, biarkan saja, anak itu memang seperti ayahnya. Susah untuk dikendalikan. Toh hanya debu saja yang ada didalam." Ujar Alex dengan tawa khas-nya diakhir kalimat.


Ken tertawa kecil dan kembali bersandar, menikmati pemandangan itu dengan berusaha tenang, tak memikirkan wanita yang sulit diatur itu.


Matahari mungkin sudah diatas kepala melihat betapa teriknya panas yang mulai terasa. Tiba-tiba, suara langkah kaki seseorang terdengar mendekat.


"Maaf tuan-tuan, aku diperintahkan kepala pelayan untuk menunjukan ruang musik, Tuan besar Peter sedang menuju kemari saat anda datang." Ujarnya begitu ramah dan bersahabat.


Peter Harison. Seorang pria tua kaya yang begitu dermawan. Ia hampir memiliki semua peternakan yang ada disini. Menjadi penerus nenek buyut mereka yang dahulunya pemilik kastil ini.


"Baiklah, ayo antarkan aku, sudah lama tidak melihat piringan hitam itu." Sahut Alex ramah. Ia berdiri dengan hati-hati dan menatap Ken yang masih duduk.


Ken berdiri dengan tenang, ia merapihkan pakaian atasnya. "Aku akan menyusul." Ucap Ken dengan tersenyum sopan. "Aku akan memanggil Valerie terlebih dahulu, kami menyusul nanti."


____


Beberapa cahaya matahari menerobos masuk memalui celah jendela. Ingin rasanya Valerie menarik tirai besar yang menghalangi cahaya masuk kedalam perpustakaan ini. Mata Valerie bergerak samar mengikuti garis halus yang diciptakan cahaya matahari tersebut menuju sebuah kursi berbahan kulit.


Valerie mulai memperhatikan semua barang yang ada di perpustakaan. Sebuah bola dunia yang antik berada diatas meja kuno yang sudah ketinggalan zaman, lemari buku yang tampak usang membuat siapapun tau betapa tuanya mereka.


Debu halus yang menyelimuti semua parabotan ini membuat Valerie tidak berani menyentuh nya.


Langkah Valerie mulai bergerak maju, melihat sekilas koleksi buku yang tertata rapi. "Dulu seorang Earl dan Lady bersatu, memiliki seorang anak yang akan menjadi penerus mereka, hidup dengan penuh kehormatan dan kemewahan. Apa kau juga menginginkannya?" Valerie sontak menoleh kearah belakang. Lagi-lagi ia harus menahan rasa salah tingkahnya didekat pria itu.


"Mengapa kau kemari?" Tanya Valerie sinis. Ia kembali berjalan tak menunggu pertanyaan terjawab. Suara langkah Ken yang semakin mendekat membuat Valerie terkesiap, ia membalikan badannya, tubuh jangkung itu seakan menjulan dihadapannya. Jarak mereka tidak terlalu dekat, namun tidak terlalu jauh pula.


"Aku ingin berduaan dengan mu." Goda Ken. Mengamati raut wajah yang tampak terkejut itu.


"Jangan macam-macam Ken! Cukup dilorong itu saja! Aku akan berteriak jika kau berani kurang ajar!." Panik Valerie. Ia sontak berjalan mundur, terus mungdur hingga tak menyadari ia menabrak rak buku dengan keras.


Kanrich terlihat melangkah dengan sigap, mengurung Valerie dalam tubuh besar itu. Baru saja mulut Valerie hendak mengeluarkan protesan, suara benda terjatuh mengenai bahu Ken terdengar. Ia dapat melihat dari sisi tangga Kenrich yang mengurungnya, sebuah buku besar tergeletak begitu saja.


"Bisa kah kau berhati-hati?" Gumaman itu lebih kearah memaki, namun terdengar halus.


___