
London
“Hallo, kak. Aku merindukan Gerald dan Sabrina,” ujar Carl dengan satu tangan yang dimasukkan kedalam saku celana dan satu tangan memegang ponselnya di telinga.
“Kami dua bulan lagi akan kembali ke Los Angeles, bersabarlah bertemu dengan mereka,” terdengar suara kekehan kecil dari Ken.
Carl menggulum senyumnya, dengan topi dan kacamata hitam yang menutupi setengah wajahnya, ia mulai masuk kedalam stasiun kereta api bawah tanah. “Aku tidak sabar dan aku sudah berada di London.”
Setelah percakapan dengan sedikit perdebatan ringan itu selesai, Carl memasukkan kembali ponselnya, mencari tempat duduk ditempat yang begitu sejuk ini. Mata Carl langsung menemukan tempat yang cocok, seorang anak kecil tengah duduk sendirian. “Hai anak kecil, mengapa kau sendirian? Dimana ibu mu?” anak laki-laki itu tampak tersenyum menatap Carl, sedangkan tangannya memegang sebuah eskrim yang sekali-kali ia jilat diruangan ber AC ini.
“Mama sedang ke toilet, dan aku harus mengunggu disini agar antrian kami tidak terlewat,” jawaban yang cukup sopan dari seorang anak berumur sekitar 7-8 tahun yang lagi-lagi menjilat es krimnya.
“Mama mu tidak takut meninggalkan mu sendirian disini? Bagaimana jika kau diculik?”
Anak itu tampak tenang dan menaikan alisnya, “Tenang saja paman, Mama ku mengatakan jika aku adalah anak yang mahal, pengeluaran untuk ku sangat special, bahkan ayahku saja sedang pergi bekerja mencari uang yang banyak. Kau tahu? Dia seorang aktor,” bisik anak itu pelan diakhir kalimatnya. “Jadi, tidak akan ada yang berani menculik ku, mereka semua akan memikir dua kali untuk itu.”
Bukannya menjawab, anak itu tampak terdiam dan mengangkat bahunya, kembali asik dengan es krim yang ia pegang. “Mama tidak pernah memberitahu ku, Mama takut aku mengganggu ayah bekerja,” jawaban itu membuat Carl bingung. Namun, saat seorang wanita menghampiri mereka, semuanya terjawab, jantungnya seakan berhenti dan amarah yang ingin meledak membuatnya sesak seketika.
“Earl, apakah nomor kita sudah dipanggil?” suara itu! Wanita yang selama ini ia cari ada dihadapannya, seorang istri yang tiba-tiba saja pergi membawa anak mereka yang saat itu baru sembuh dari penyakitnya. Kebocoran jantung. Ya, pantas saja anak ini menyebut dirinya anak mahal, Carl sekarang mengerti.
“Dua lagi Ma,” Earl tampak tersenyum pada Amber, mereka begitu saling menyayangi, memeluk satu sama lain dan Carl baru menyadari sesuatu, warna rambut Amber berubah menjadi coklat, lebih cantik dan dewasa seperti dulu.
“Amber, kau masih mengenal ku?” tanya Carl dengan suara berat, menahan diri untuk tidak menarik wanita itu dan meminta penjelasan dengan keputusan gila yang selama ini menyiksanya. Amber tampak belum menyadari, ia menatap bingung pada Carl. Dengan mengeraskan rahang, Carl membuka topi dan kaca matanya, tidak memperdulikan banyaknya orang ditempat ini yang akan mengenalinya.
Wajah Amber seketika memucat. “Kau-“ Amber menarik Earl dengan cepat, merapatkan Earl pada Amber, ini tidak mungkin! Ia sudah menjauhi Los Angeles bahkan keluar dari Amerika! Untuk apa seorang aktor terkenal seperti Carl di stasiun seperti ini? Bagaimana keadaannya sejak berita kecelakaan itu?.
-
Hayo loh, penasan kan gimana kelanjutannya, tunggu tanggal 2 September di Novel Carl (Take Me Back – Terima aku kembali).