The Perfect Match

The Perfect Match
Amarah Menggebu



Kini, tak ada satupun yang bersuara, para pelayan yang tidak bisa berbuat apa-apa hanya bisa diam hening, saling membisu dan menatap Ken yang berdiri tanpa semangat, pandangannya kosong setelah kepergian Valerie. “Arrghhh!” Ken berteriak seketika, berjalan masuk kedalam ruang kerjanya dengan suara bantingan pintu yang cukup keras.


“Tidak bisa kah aku merasakan cinta?!” Ken mengambil sebuah vas kecil diatas meja kerja, membantingnya dengan keras. “Tidak bisa kah aku merasakan bahagia?!” teriak Ken kembali sambil menyapu kasar semua barang yang ada di atas meja kerja. Hidup ini seakan tidak pernah berpihak padanya, tidak adil dan terlalu keras. Saat ia menaruh hatinya pada Amber, ia harus merasakan sakit atas pengkhianatan. Lalu kini, saat ia sudah mencintai Valerie, ia harus merasakan sakit kembali. Kedua orangtua Valerie mengambil Valerie dari sisinya, membuat Ken lagi-lagi harus menjalani hidup seorang diri, tanpa rasa cinta, tanpa disayangi dan tanpa seorang penguat untuk hidupnya yang menyedihkan ini. Apa semua ini takdirnya? Apa semua ini karma?.


“Carl.” Tiba-tiba rahang Ken mengeras, amarahnya menggebu, semua ini karena adik s i a l a n nya itu, semua ini tidak akan terjadi karena sikap egois Carl. Ia harus membayar ini semua, memberi pelajaran agar tidak pernah berani berurusan lagi dengan Ken.


Tak membutuhkan waktu lama, jika Ken sudah berencana, saat itu juga ia harus bertindak. Ia melangkahkan kakinya dengan pasti, keluar dari dalam ruangan dan membuat beberapa pelayan yang ia lewati menundukan kepalanya sopan. Namun Ken tidak memperdulikannya, ia terus berjalan keluar dan mendekati mobil berwarna hitam yang paling dekat dengan pintu.


“Tuan-.”


“Berikan aku kunci mobil.” Tegas Ken.


Pria itu tampak kebingungan dan mengeluarkan kunci mobil. “Tuan, biar aku antar.”


“Tidak, aku akan menyetir sendiri.” Ken merebut paksa kunci itu dengan cepat, ia tidak ingin basa-basi dan mengulur waktu. Setelah masuk kedalam mobil, ia melaju dengan kecepatan kencang, hatinya kembali meringis saat mengingat kejadian tadi.


‘Kek, aku mohon, aku mencintai Valerie.’ Alex berbalik, menatap Ken dengan raut wajah sedih. Kepalanya menggeleng pelan.


‘Valerie, kau tidak ingin pergi bukan? Kau percaya aku mencintai mu kan?’ teriak Ken.


Langkah Valerie terhenti, ia berbali menatap Ken, wajahnya tampak sedih, bingung, ia tersesat dan tak tahu dengan ucapan mana yang paling benar. ‘Aku mencintai mu, tapi- aku butuh waktu untuk berpikir.’ Jawab Valerie sendu.


‘Sudahlah Ken, lepas kan Valerie, aku ingin anak ku bahagia dan mendapatkan pria yang tulus mencintainya.’ Sahut Justin yang sudah tidak sabar meninggalkan tempat ini.


‘Aku tulus mencintainya!’ bantah Ken.


‘Dan kami semua meragukannya. Ah, dan satu lagi Ken. Jangan pernah menjemput Valerie, karena semua itu akan sia-sia.’


Ken kembali pada kenyataan, menggenggam erat setiran mobil. Ia kesal, marah, pada semua orang bahkan dengan dirinya sendiri. “Sial!” dengusnya dengan keras. Ini semua memang salah, niat awal yang salah dan sialnya semua orang menyadari. Namun Ken sudah mencintainya dengan tulus, bukan perihal balas dendam lagi, tapi semuanya percuma, sudah terlambat.


-