The Perfect Match

The Perfect Match
Hari Tenang



Pagi cerah yang ditunggu pun akhirnya tiba. Valerie sudah


bersiap dengan pakaian yang lebih santai, tidak menggenakan dress seperti


biasa. Off-Shoulder Top yang dipadukan dengan celana jeans, jenis pakaian ini


begitu santai, desainya dibuat untuk memamerkan bahu. Valerie pun mengikat asal


rambutnya yang indah, rambut yang sudah ia catok curly akan terlihat lebih


natural saat diurai nanti.


Tak menunggu lama, Ella mengabari Valerie bahwa dirinya


sudah ada di area parkir Apartemen. Valerie dengan semangat menuju lift,


menghampiri Ella yang kini merangkap menjadi supirnya. “Kemana supir Grandfa?”


Ella hanya menoleh kebelakang dan tersenyum kuda.


“Aku tidak tega melihatnya menunggu kita lama, jadi aku


mengambil mobilnya saja dan mengantarkan dia ke rumah kakek-mu.” Mata Valerie


langsung membola, apa ia salah dengar?!


“Astaga Ella, itu memang tugasnya! Kau… terlalu baik hati!”


Pekik Valerie gemas. Ella selalu melakukan apa yang ia mau, membuah Valerie


kadang berfikir harus kan ia bersikap lebih tegas? Namun, Valerie terlalu


membebaskan, ia sudah menganggap Ella sebagai teman sekaligus asistennya.


Sesampainya diperusahaan ternama itu, Valerie mulai


menguraikan rambutnya, melihat kembali riasan dan penampilannya. Setelah dirasa


cukup, Valerie membuka pintu mobil, kaki jenjang itu mulai menginjak jalan,


lalu ia keluar dan beberapa orang yang berlalu lalang mencuri pandang pada


Valerie, tak jarang pula ada yang menatap dan memuji Valerie terang-terangan.


Ella mengekor dibelakang Valerie saat mereka masuk kedalam


perusahaan ritel Amerika terbesar untuk lingrerie / pakaian dalam wanita, dan kini


merekapun mengeluarkan parfum.


Disana pembicaraan kontrak pun dimulai, Ella mendengarkan


dengan teliti apa saja yang ada didalam kontrak mereka. Merasa tidak ada yang berat


dan merugikan, Valerie membubuhkan tandatangannya.


-


Semenjak itu dua hari berlalu sangat cepat, ia banyak


menghabiskan diri dilokasi pemotretan dan membuat beberapa video kecil untuk


iklan mereka. Diluar kontrak pun Valerie harus menerima beberapa endorse yang


“Apa itu artinya besok aku berlibur?” Tanya Ella. Kini mereka


berada di sebuah restoran mewah, memesan beberapa makanan untuk mengisi perut


mereka. Namun tentu saja Valerie memilih apa saja yang akan ia makan.


Valerie menganggukan kepalanya. “Ya. Nikmati waktu luang mu


untuk berjalan-jalan di LA. Aku akan menemani Grandfa.” Setelah menghabiskan


steak tanpa lemak itu, Valerie segera minum dan mengambil dessert miliknya.


Ponselnya berdering, nama Mommy tertera disana, dengan cepat Valerie


mengangkatnya.


“Hallo, Mom. Dad!” pekik Valerie, mereka melakukan Vidio


call, mendadak rasa rindu masuk memenuhi kedua orangtuanya.


“Hallo sayang, bagaimana kabar mu? Apa begitu sibuknya


hingga tidak mengabari kami?” Tanya Jessy. Valerie memajukan bibirnya cemberut.


“Aku ingin menghubungi kalian, namun aku takut Daddy


terganggu.” Sindir Valerie, ia seakan mengingatkan kejadian terakhir mereka


menelfon. Terdengar suara tawa Justin yang besar disana, membuat Jessy memberi


peringat kepada Justin agar tidak terlalu berisik.


“Sayang, dengarkan Daddy. Jika Daddy tidak membuat adik


untuk mu, siapa yang akan meneruksan perusahaan kita? Sudahlah tinggalkan pekerjaan


mu yang sekarang, bukankah hebat jika kau menjadi seorang CEO wanita? Terlihat tangguh


dan cerdik. Kau akan menjadi pemilik Franz Group.”


“Tidak Dad. Aku akan memberikannya pada anak ku saja nanti.”


Kikik Valerie. Ia benar-benar tidak tertarik dengan dunia bisnis seperti itu,


ia lebih suka menunjukan wajah cantiknya dan melihat beberapa pujian dikolom


komentar sosial medianya.


“Ya sudah kalau begitu cepatlah mencari calon.” Wajah Justin


berubah menjadi wajah Jessy dilayarnya.


“Lusa Mom dan Dad akan ke LA, tapi kau harus berjanji harus


merahasiakan ini pada Grandfa Alex ya. Kita akan membuat kejutan kecil untuk ulangtahunnya.”


Valerie memekik kencang, ia lupa.


“Astaga aku lupa jika Grandfa ulangtahun!”