
“Mom.” Panggil Valerie saat Alicia sudah selesai dengan ponselnya.
“Ya sayang? Kau haus?”
Dengan cepat Valerie menggelengkan kepalanya, ia duduk dengan menghadap Alicia dengan penuh rasa bimbang. “Apa ini tidak terlalu berlebihan? Um- maksud ku, aku baru saja dinyatakan hamil, hari lahiran ku sangat begitu jauh.”
Alicia tersenyum lebar, mengusap kepala Alicia dengan lembut. “Sayang, ini adalah hal yang wajar bagi setiap orangtua.”
“Ohh, baiklah, hanya saja… aku merasa aneh dengan semua ini, melebihi reaksi orang-orang saat melihat ku menjadi model, Mom.”
“Ini karena memang kau baru merasakan ini. Percayalah, beberapa bulan lagi kau akan merasakan keanehan yang sesungguhnya.” Kikik Alicia.
“Keanehan sesungguhnya?” ulang Valerie tidak mengerti.
Alicia sedikit diam, ia mencari kata yang tepat untuk menggambarkan apa yang ia maksud. “Kau akan merasakan situasi mood yang labil, tidak sabaran, emosi yang meningkat, bahkan kau akan menginginkan sesuatu yang aneh.” Alicia tertawa saat mengingat dirinya menginginkan Richard untuk mengenakan bikini couple dengannya. “Kau akan memikirkan sesuatu yang mendesak agar keinginan mu terwujud. Membayangkan rasa bahagia yang sangat ingin kau rasakan dan suami mu yang akan mengabulkan itu semua.”
“Benarkah? Mom pernah mengatakan saat ia hamil, yang merasakan mual dan sakit dipagi hari itu adalah Daddy.” Pembicaraan mengenai kehamilan pun berlangsung panjang, Alicia menjelaskan tentang perut yang semakin membesar dan gerakan-gerakan halus yang akan ia rasakan saat bayinya menendang dari dalam.
-
Richard membuka ponsel yang sengaja ia heningkan, beberapa panggilan tak terjawab dari Justin dan Alicia muncul paling atas. Saat ia akan membuka pesan dari Alicia, panggilan masuk dari Justin terlebih dahulu muncul.
‘Astaga, jangan katakana kau belum tahu begitu terpanas hari ini!’ teriakan itu membuat Richard menjauhkan sedikit ponselnya, besan yang membuatnya banyak mengatur nafas jika sedang berhadapan langsung dengannya.
“Apa?” Tanya Richard tegas. “Tidak bisakah kau mengatakan langsung inti dari apa yang kau katakana?”
‘Kau ini sudah tua masih saja emosian. Bagini, aku sedang di perjalanan menuju Los Angeles, perkiraan sampai sekitar pukul empat sore lebih. Bisa kah kau membuat Ken pulang jam enam? Berikan saja pekerjaan yang menumpuk pada anak mu itu.’ Kekehan Justin membuat Richard lagi-lagi menggelengkan kepalanya.
“Tidak, kau tidak bisa menjadikan anak ku sebagai mainan mu. Biarkan mereka hidup dengan tenang dan bahagia.”
Justin terdengar berdecak. ‘Hai manusia membosankan. Aku hanya ingin membuat anak mu itu senang, kita akan menyambutnya dengan memberikan sebuah surprise, bodoh. Ini hal yang menyenangkan.’
“Surprise? Untuk apa? Ken tidak berulang tahun hari ini.” Tanya Richard bingung.
‘Astaga, kau benar-benar sudah tertinggal berita. Kita akan menjadi seorang kakek, upss salah, maksudnya aku akan menjadi seorang kakek dan kau akan menambah koleksi cucu mu.’
Richard mengerutkan keningnya, ucapakan Justin terlalu berbelit membuatnya harus mencerna dengan baik. “Wait. Maksud mu Valerie hamil?”
‘Yaaaa.’ Jawab Justin datar saat mendengar Richard baru terkejud. Ia membayangkan pria itu jika di kejutkan dengan balon meletus saat ia tua nanti mungkin akan terkejut beberapa menit setelahnya. Huft.