
Satu bulan berlalu, Valerie merasakan dirinya begitu lelah, sedikit pusing dan rasa mual yang kadang muncul namun sesaat. Pandangannya tertuju pada sebuah kalender, sudah terlambat hampir dua minggu dari jadwalnya.
Senyum Valerie seketika muncul, ia yakin dengan pikirannya sendiri, ia pasti tengah hamil! Ya, Valerie sangat yakin. Dengan semangat, Valerie bangkit dari duduknya, rasa lelah ia hiraukan, baginya yang lebih penting sekarang adalah memeriksanya sendiri, ia akan menemui dokter kandungan dan mengetahui itu secara nyata.
Baru saja kaki Valerie melangkah keluar kamar, seorang pelayan tersenyum sopan dan menghampirinya. “Nyonya Alicia ada dibawah, Nona.” Valerie mengigit bibir bawahnya kecil, haruskah ia memberitahu Alicia? Namun ia takut ini hanyalah dugaannya, membuat Alicia akan merasa kecewa jika hasilnya tidak sesuai yang mereka inginkan.
“Baik, aku akan kebawah.” Pelayan itu mengangguk dan pergi, Valerie dengan perlahan menuruni setiap anak tangga dengan hati-hati, Alicia tengah duduk disofa sambil merapikan kotak makan dan keranjang kecil berisi buah-buahan diatas meja.
“Mom.” Panggil Valerie, membuat Alicia langsung berbalik dan mencium pipi Valerie. Ia memperhatikan penampilan Valerie yang sudah begitu rapi dan sebuah tas yang menandakan Valerie akan pergi keluar. “Mom sejak kapan disini?” Tanya Valerie tidak enak, menatap mertuanya yang sudah begitu perhatian dengan selalu mengunjunginya beberapa minggu terakhir ini.
“Mom baru sampai, kau mau kemana sayang? Bukankah kau sedang tidak enak badan?”
Valerie tersenyum kaku, ia menggaruk tekuknya yang tidak gatal. Seharusnya ia sudah menyiapkan jawaban saat tadi menuruni tangga. “A-Aku akan kerumah sakit mom.” Jujur Valerie pada akhirnya.
Valerie menggelengkan kepalanya cepat, ia tersenyum dan menenangkan Alicia. “Umm, Mom. Sebenarnya aku hanya ingin memeriksa apa yang aku pikirkan benar atau tidak.” Cicit Valerie pelan. Ken pun sudah menyarankan jika Valerie masih merasa lelah dan pusing untuk memanggil dokter, namun jika Valerie sampai memanggilnya ia takut Ken akan mengira jika keadaan Valerie semakin memburuk.
“Pikiran mu? Ada apa Valerie? Kau merasakan sakit ditubuh mu? Atau ada gejala yang menurut mu janggal?” Tanya Alicia cepat. Valerie tidak biasanya sekaku ini, membuat Alicia panik jika Valerie menyembunyikan rasa sakit yang ia rasakan.
“Tidak mom, hanya saja aku mengira… Umm- ini hanya perkiraan ku.” Jelas Valerie menegaskan, Alicia tampak mengangguk ragu, menanti ucapan Valerie yang akan ia katakana. “A-aku pikir aku sedang hamil.”
Alicia seketika menutup mulutnya dengan sebelah tangan, rasa senang dan bahagia langsung ia rasakan. “Aku akan memiliki cucu lagi?” pekiknya senang.
“Mom, ini hanya dugaan ku. Aku ingin memeriksanya terlebih dahulu. Gejala yang aku rasakan sepertinya gejala kehamilan pada umunya, dan aku sudah terlambat dua minggu dari jadwal seharusnya.”
“Sudah sayang, kau harus beristirahan dulu dikamar mu, aku akan memanggilkan dokter dan akan melihat hasil darinya. Ah, aku sangat yakin kau hamil sayang!” Reaksi Alicia dan ucapan yang seolah mendukung itu membuat Valerie ikut tersenyum, ia seakan mendapat dorongan keras untuk yakin jika dirinya kini tengah hamil. Rasa bahagia yang mengelimuti kedua wanita itu seakan terlihat begitu jelas. Semoga saja ini adalah hadiah untuk keluarga kecil mereka.