The Perfect Match

The Perfect Match
Lelang Amal



Alex menemani Valerie hingga pintu, melambaikan tangannya pada Valerie yang sudah masuk kedalam mobil.


"Hati-hati dijalan."


"Ella. Jaga cucu ku satu-satunya." Terdengar ucapan Alex yang begitu ramah.


"Dan untuk mu anak muda, aku tidak ingin mendengar cucu ku dibawa ugal-ugalan oleh mu. Antarkan dua wanita cantik ini dengan selamat."


"Baik tuan." Jawab sang supir ramah sambil tersenyum. Sedangkan Valerie hanya menggelengkan kepalanya, kakeknya memang berubah baik dan humoris, namun sikapnya yang berlebihan tak pernah berubah.


"Aku akan menjaga Valerie dengan sangat baik, kakek." Teriak Ella dengan semangat. Wanita muda ini memang tidak takut pada siapapun, benar-benar supel dan asik. Namun tetap saja, jika Valerie dalam keadaan mood yang buruk, Ella tidak berani berbuat apa-apa.


"Bye Grandfa. Tunggu aku hari Minggu." Valerie melambaikan tangannya dan mobil yang mereka tumpangi mulai melaju.


Jalanan malam ini begitu lenggang, membuat waktu yang ditempuh begitu sebentar. Valerie dan Ella turun dari mobil, mulai memasuki bangunan megah itu dengan perlahan, terlihat beberapa mobil mewah yang berjajar rapi. Beberapa kamera pun terlihat menyorot setiap tamu yang hadir, bidikan cahaya kamera membuat semua tamu berjalan dengan begitu berkelas dan raut wajah yang ramah.


Sesampainya didalam, Valerie mendapatkan nomor tangan dan kursi. Ia duduk di barisan awal. Nomor tangan yang berbentuk kipas ini akan ia gunakan saat acara lelang berlangsung, mereka akan menawar dengan harga tertinggi.


"Menurut mu aku harus membeli apa?" Bisik Valerie.


Ella tampak berfikir, "Tentunya barang yang berguna dan membuat mu disorot media." Valerie menaikan sebelah alisnya. "Cari barang terunik dan paling mahal."


"Jangan konyol Ella. Tahun lalu kau mengatakan ini dan aku membeli sepatu kerajaan dengan harga yang besar. Tranding ku hanya singkat dan barang itu tidak pernah aku gunakan."


"Tapi kau memiliki koleksi sepatu termahal bukan?" Tanya Ella dengan senyum bersalah.


Hingga tiba di acara pelelangan, lampu mulai kembali terang, namun tidak seterang diawal. Mereka seakan sengaja membuat fokus semua orang kearah panggung. Lampu terang menyorot pada benda kecil diatas meja, sebuah guci antik berusia hampir 100 tahun, dibuka dengan harga $700, beberapa orang ternyata mengangkat nomor tangan mereka. Sang pembawa acara menaikan kembali harga dan menjelaskan lebih rinci keunggulan dari benda tersebut. Hal itu berulang hingga harga yang ditawarkan begitu tinggi, benda itu berhasil terjual dengan harga $2.900 oleh Mr. Black, semua nama disini disamarkan sesuai permintaan mereka, namun ada beberapa yang masih menggunakan nama asli mereka. Dalam kertas sang pembawa acara, terdaftar nama sesuai nomor tangan yang mendaftarkan diri, membuatnya tak kesulitan menyebutkan nama mereka.


Beberapa barang mulai diperlihatkan dan terjual, membuat Valerie mengepalkan tangannya dan menyakinkan diri, barang bagus selalu ada di akhir.


Barang terakhir yang ditunggu-tunggu telah tiba. Terlihat dua orang menaiki panggung dan mengangkat meja tersebut. Hal itu membuat Valerie mengerutkan keningnya.


"Sebentar lagi kita akan melihat barang terakhir. Mungkin ada beberapa diantara kalian yang menyukai hal classic?." Terdengar beberapa jawaban yang begumam diruangan ini.


"Kali ini untuk pertama kalinya, barang yang kami perlihatkan begitu besar, meja itu tidak akan sanggup menahannya."


"Menurut mu apa?" Bisik Valerie pada Ella.


"Entah. Mungkin rumah."


"Kau gila?!" Pekik Valerie.


"Aku tidak tau Valerie, tunggu saja dia memberitahu. Aku takut salah dan mendapatkan marah mu lagi." Cicit Ella.


---


Makasih banyak ya buat Hadiah dari kalian semua🥰. Hari ini aku up 5 bab. sekarang 2 dulu yaa. jam 12, 3 bab lagi🙌 biar kalian ga lupa like😅